Bulking Station

Pendahuluan

jetty bulking

jetty bulking

Bulking Station adalah Fasilitas penimbunan CPO yang terdiri dari beberapa tangki timbun CPO yang tempatnya berada di dekat pelabuhan. Bulking bertujuan untuk mempermudah proses bongkar muat pengapalan CPO, mengefisiensikan waktu dengan memperpendek waktu sandar kapal dan mengontrol kualitas mutu CPO sebelum di kapalkan menuju pabrik refinery.

Dalam satu group perusahaan sering kali memiliki dua atau lebih pabrik kelapa sawit yang jarak antara Pabrik dengan pelabuhan memerlukan perjalanan kurang lebih 2 – 3 jam perjalanan. kapasitas mobil tangki CPO adalah 6 – 8 kL sehingga diperlukan banyak armada truk dengan beberapa kali rate untuk memenuhi kapasitas kapal 2000 – 5000 dwt. Dengan jarak tersebut, jika tidak terdapat bulking maka waktu sandar kapal akan lama dan temperatur CPO akan turun.

Denah Lokasi

BULKING STATION LAYOUT

BULKING STATION LAYOUT

Keterangan

 No. Description  No. Description
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

 

Pos jaga

Rumah Manager

Rumah Staff

Jembatan timbang

Office and lab

Gudang kernel

Gudang shell / bahan bakar

 

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

 

Boiler and demin plant

Engine Room

Pompa pengiriman CPO

Water Treatment Plant

Tangki Solar

Penerimaan CPO (Drop Tank)

Storage Tank

 

Peralatan Utama

1. Stasiun Penerimaan Minyak

CPO yang diangkut dalam Truck harus melewati Jembatan timbang untuk di ukur beratnya kemudian di tuang secara grafitisai dalam “Tangki penampungan”. Tangki ini terletak under ground, terbuat dari concrete berukuran 16x3x2 dilengkapi  dengan instalasi pipa, steam Coil dan valve. CPO yang terkumpul dari beberapa truck tanki selanjutnya oleh “Pompa transfer” dengan kapasitas 130 m3/hr, 22 kW di transfer ke Tangki Timbun CPO (Storage Tank). Tangki timbung CPO kapasitas masing-masing 2000 Ton dilengkapi dengan instalasi pipa, steam Coil dan Mixer yang di gerakkan motor 2.2 kW.

CPO Collecting Tank

CPO Collecting Tank

Bulking Storage Tank

Bulking Storage Tank

2. Stasiun Pengiriman CPO

Stasiun ini berfungsi untuk mengirimkan CPO dari Storage Tank menuju kapal tanker CPO yang sandar di pelabuhan. Stasiun ini di lengkapi dengan Pompa pengiriman CPO kapasitas 250 m3/hr, 45 kW.

Shipping Pump

Shipping Pump

Selain Pompa juga di lengkapi dengan Air compressor c/w receiver berfungsi mendorong peluru (bola busa/karet) dalam intalasi pipa untuk memebersihkan kotoran sisa pengelasan, kotoran plastik atau sisa minyak dalam pipa. Peluru ini di masukkan melalui pig launcher kemudian terdorong udara bertekanan sepanjang instalasi pipa menuju pig receiver.

Air Compressor

Air Compressor

3. Stasiun Boiler

Stasiun Boiler adalah stasiun pembangkit tenaga uap yang di gunakan untuk pemanasan CPO agar tetap pada temperatur yang di inginkan. Stasun ini dilengkapi dengan instalasi Demineralization plant untuk memurnikan kualitas Air sesuai dengan baku mutu air yang di rekomendasikan boiler. kelengkapan standart Demin Plant adalah :

  • Boiler feed water tank
  • Deaerator
  • Boiler chemical doosing pump
  • Steam condensate return system
  • Elevated water storage tank
  • Water transfer pump
Water Treatment Plant

Water Treatment Plant

Boiler yang di gunakan adalah Saturated Boiler dari INDOMARINE, Type HRC – 60, Max. Allowable working pressure 10 kg/cm2G, Steam temperature Saturated. Heat surface 182 m2, Capacity 6000 kg/hr, Serial No. FS 620 IM, Year built 2012.

saturated boiler

saturated boiler

4. Engine Room

Stasiun pembangkit tenaga listrik diperlukan untuk menyediakan energi listrik untuk Pompa dan peralatan listrik yang ada, juga untuk kebutuhan penerangan bangunan penunjang yang di kontrol dari Main Switchboard, Panel MCC dan SDP. Engine Room ini dilengkapi dengan :

  • Tangki timbun solar
  • Diesel fuel pump
  • Tangki solar harian
  • Diesel genset 250 kva
  • Diesel genset 45 kva
Engine Room

Engine Room

5. Water Treatment Plant

Berfungsi untuk penjernihan air yang di ambil dari air tanah melalui sumur bor. Air tanah di pompa oleh“Deep Well Pump” kemudian di tampung dan di endapkan di “Water basin“. Air yang ada di proses menggunakan system “Reverse Osmosis” dengan kapasitas 5 m3/hr.

WTP PUMP HOUSE

WTP PUMP HOUSE

REVERSE OSMOSIS KAP 5 M3 PERHOUR

REVERSE OSMOSIS KAP 5 M3 PERHOUR

Bangunan Penunjang

  • Bangunan Utama (Main Building) ukuran 42 x 12 m. di gunakan untuk gudang bahan Bakar Boiler, Stasiun Boiler, Engine Room dan Stasiun Pengiriman CPO.
Main Building

Main Building

  • Bangunan Gudang Kernel ukuran 12 x 12 m, tinggi 6 m.
Kernel Store

Kernel Store

  • Bangunan Kantor Bulking ukuran 11 x 10 m, tinggi dinding 4 m. c/w Jembatan Timbang.
Office And Lab

Office And Lab

  • Bangunan Pos Jaga ukuran 4 x 6 m, tinggi dinding 4 m.
  • Bangunan Rumah Tinggal Manager ukuran 14 x 10 m, tinggi dinding 4 m.
  • Bangunan Rumah Tinggal Staff ukuran 10 x 10 m, tinggi dinding 4 m.
Manager And Staff House

Manager And Staff House

Palm Oil Mill 45 Ton FFB per Hour

Pabrik Minyak Kelapa Sawit Kapasitas 45 Ton TBS per Jam

Pendahuluan

Pabrik kelapa sawit ini menggunakan rebusan 4 buah vertical sterilizer dengan kapasitas masing- masing 25 ton. Untuk mengurangi losses pada rebusan di pasang Empty Bunch Shreder dan Press untuk mengutip minyak pada janjang kosong. Proses pemurnian minyak dari minyak mentah menjadi CPO digunakan Decanter 3 Phase dan Separator dengan system D3 PRO. Untuk memperoleh kualitas Kernel yang bagus dan bersih, Nut sebelum masuk Ripple Mill di sortir berdasarkan dimensi dengan Nut Grading Drum. Pemisahan campuran pecahan Kernel dan Shell setelah LTDS 2 menggunakan Hydrocycole sehingga prosesnya bersih dan tanpa menggunakan bahan kimia seperti pada Claybath.

Denah Pabrik

Factory Layout Diagram

Denah Pabrik

Keterangan

No. Description No. Description
 1.  Jembatan Timbang  14.  Boiler Station
 2.  Central Office  15.  Threshing Station
 3.  Mushollah  16.  Pressing Station
 4.  Car Park  17.  Kernel Recovery Station
 5.  Despatch Sheet  18.  Empty Bunch Shreder And Press
 6.  Loading Ramp  19.  Sludge Pit
 7.  Storage Tank  20.  Clarification Station
 8.  Canteen  21.  Kernel Storage
 9.  Mill Office  22.  Composting Plant
10.  Sterilizer Station  23.  Toilet Block
 11.  Water Treatment Plant  24.  Wharehouse
 12.  Power Station  25.  Workshop
 13.  Demineralization Plant

Stasiun Proses

1. Stasiun Penerimaan Buah (Fruit Reception) Loading Ramp

Dengan menggunakan rebusan vertical sterilizer maka untuk menerima tandan buah segar dan mengirimkannya ke rebusan cukup dengan menggunakan scrapper bar conveyor yang di gerakkan oleh Hydraulic motor. Cages (lori) tidak di gunakan seperti pada system Horizontal sehingga kebutuhan bangunan juga tidak terlalu luas.

2. Stasiun Rebusan (Sterilizer Station)

Terpasang 4 buah unit Vertical Sterilizer kapasitas masing-masing 25 ton yang di kontrol secara interlock melalui Cylinder Hydraulic dan valve menggunakan control Pneumatic. Control system menggunakan unit PLC dan untuk berkomunikasi (menginput variable yang di perlukan) antara mesin dengan operator terdapat piranti HMI yang terpasang panel panel kontrol.

Stasiun Rebusan

Stasiun Rebusan

3. Stasiun Penebah (Threshing Station)

Pemisahan antara buah dengan janjang kosong menggunakan 2 unit Thresher Drum dengan kapasitas masing-masing 45 ton/jam yang di gerakkan oleh geared motor 22 kW. Janjang kosong yang ada tidak langsung di buang tetapi melewati mesin pencacah dan pemeras untuk mengutip sisa minyak yang ada sehingga hasil akhir dari proses ini janjang kosong sudah berubah menjadi fiber.

Stasiun Penebah

Stasiun Penebah

4. Stasiun Kempa (Pressing Station)

Pengutipan minyak dari buah menggunakan 4 buah Digester dengan kapasitas masing-masing 4500 liter  dan mesin Press dengan kapasitas masing-masing 15 Ton/jam yang di gerakkan oleh geared motor 30 kW.

Pressing Station

Stasiun Kempa

5. Stasiun Pengutipan Inti (Kernel Recovery Station)

Hal yang penting menjadi catatan dari stasiun ini adalah terdapat Nut Grading Drum untuk membagi berdasarkan besaran Nut sehingga mempermudah dalam penyetelan Ripple MIll. Penggunaan Hydrocyclone untuk membuat proses pemisahan menjadi bersih dan tidak menggunakan bahan kimia.

Kernel Recobery Station

Stasiun Pengutipan Inti

6. Stasiun Klarifikasi (Clarification Station)

Proses pemurnian minyak menggunakan 1 buah Decanter 3 Phase yang di gerakkan oleh motor 55 kW dan 1 buah Separator 45 kW untuk mengutip minyak pada slude. Dengan Proses D3 PRO selain menghasilkan CPO dengan kualitas bagus dan Sludge juga menghasilkan limbah solid sehingga memerlukan conveyor solid dan sebuah Hooper penampung limbah solid.

Clarification Station

Stasiun Pemurnian Minyak

7. Stasiun Boiler (Boiler Station and Demineralization Plant)

Uap diperlukan untuk membangkitkan listrik, proses memasak dan proses pabrik. Digunakan 1 buh Boiler kapasitas 27 Ton /jam. Boiler memerlukan Bahan Bakar berupa Fiber dan Shel sehingga di perlukan Material Handling berupa Conveyor untuk melengkapinya. Air yang di supplay dari Water Treatment Plant untuk di masak pada boiler sebelumnya harus melalui proses Demineralization untuk menetralkan mineral air yang ada.

Boiler Station

Stasiun Pembangkit Tenaga Uap

8. Stasiun Tenaga (Power Station)

Dalam proses normal, kebutuhan power listrik pabrik di supplay oleh 1 buah Turbine Uap kapasitas 1400 kW. Untuk pembangkitan awal sebelum boiler siap dan turbine belum beroperasi digunakan 2 buah Generator Set kapasitas 500 kW dan 1 buah Generator Set 200 kW.

Engine Room

Stasiun Pembangkit Tenaga Listrik

9. Stasiun Penjernihan Air (Water Treatment Plant)

Kebutuhan air untuk pabrik di suplay dari sungai terdekat dari area kebun kemudian di tampung oleh waduk buatan. Air dalam waduk di pompa dengan menggunakan multistage pump kapasitas 45 kW ke pabrik melalui proses injeksi kimia dan di endapkan pada water basin. air yang terdapat pada water basin kemudian di pompakan melewati penyaringan pada presure sand filter yang di dalamnya terdapat pasir kuarsa menuju Over Head Water Tank. Air Ini di gunakan untuk Boiler, Kebutuhan Proses Panas dan dingin, Keperluan Domestik, Washer (bersih-bersih pabrik) dan suplay untuk Fire Hydrant.

Water Treatment Plant

Stasiun Penjernihan Air

10. Kolam Limbah (Effluent Treatment Plant)

Effluent Treatment Plant

Kolam Pengolahan Limbah

Kolam limbah terdiri dari :

  • 2 unit kolam pendinginan (Cooling pond)
  • 3 unit kolam pembiakan bakteri (Mixing Pond)
  • 2 unit kolam Anaerobic
  • 3 unit kolam pengendapan
  • 1 unit kolam aerasi
  • 1 unit kolam pelepasan

Bangunan Penunjang

1. Weightbridge 11. Canteen dan Locker Karyawan
2. Loading Ramp 12. Mushola
3. Condensate Pit and Sludge Pit 13. Toilet
4.Acces Road, Culvet and Drainasee 14. Power Panel Control Room
5. Gate and Fencing 15. Raw Water River Pump House
6. Guard House 16. Water Treatment Pump House
7. Car Port 17. Raw Water Reservoir ( waduk air )
8. Head Office 18. Water Clarifier Resevoir kap 600 sd 800 m3
9. Work Shop dan  Ware House 19. Pump sheed for Condensate, Sludge Pit, Effluent Pump
10. Mill Office dan Laboratorium

SOP MAINTENANCE

Tujuan

Dengan adanya mekanisasi maka dituntut suatu keharusan bengkel (workshop) untuk mengadakan perawatan dan pemeliharaan machinery service routine secara efisien agar tidak mengalami kerusakan akibat kelalaian perawatan sehingga mengakibatkan kerusakan yang sangat besar.

Ruang lingkup

SOP ini berlaku untuk kegiatan workshop dan maintenance di area pabrik Minyak Kelapa Sawit xxxxxxxxxxx.

Aktivitas

  1. Melakukan pengelasan
  2. Melakukan Oil/Lubrication Grease
  3. Pengadaan barang /Spare Parts
  4. Penyimpanan Oli Bekas
  5. Melakukan penggerindaan
  6. Pengoprasian gerinda potong
  7. Pengoprasian Mesin bubut
  8. Pengoprasian Mesin bor
  9. Pembersihan area workshop
  10. Melakukan servisc genset,Loder,Excapator,Mobil
  11. Melakukan pengecekan alat angkut Elevator dan Conveyor di setiap station proses
  12. Melakukan penggantian worm screw dan Press cake sesuai dengan jam yg telah di tentukan
  13. Melakukan pengecekan digister
  14. Melakukan Pengecekan Compressor

Prosedur

Apabila machinery akan menjalani pemeliharaan atau service routine, terlebih dahulu operator menunjukkan surat pengantar pemeliharaan atau service routine yang diketahui minimal Asisten. Selanjutnya surat pengantar diberikan kepada krani workshop untuk selanjutnya dibuka ‘job card’ dicatat jam kerja mekanik kemudian di input kedalam komputer. Mekanik melaksanakan Technical Inspection dan service rutin sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Setelah melaksanakan Technical Inspection terhadap kendaraan, farm tractor dan mobil kecil, kemudian service sheet atau technical inspection form diisi dan ditanda tangani oleh Operator Mekanik dan Asisten Tehnik/Ka. Mekanik lalu diarsipkan kedalam arsip masing-masing kendaraan.

Jadwal technical inspection untuk masing-masing kendaraan setiap  10 (sepuluh) hari sekali sesuai Jadwal Technical Inspection tiap bulan.

Untuk penggantian oli engine dan service raoutine ditentukan sebagai berikut:

  1. Dump truck,Strada dan mobil kecil setiap 5000 km operasi
  2. Generator set Cumin setiap 100/250 jam operasi
  3. Mitsubishi engine water pump set setiap 100/250 jam operasi
  4. Sepeda motor setiap 2000 km operasi

Semua kendaraan, generator set, water pump set dan lain-lain mempunyai kode alat pengenalan untuk mudah mencatat pembebanan pengeluaran spare parts/barang dan pembebanan jam kerja mekanik (job card), jadwal service dan dokumen lain.

Tenaga Kerja

Workshop mempunyai tenaga sebagai berikut:

  1. Mill Head
  2. Supervisor Tehnik
  3. Ass. Supervisor
  4. Administrasi Workshop
  5. Foreman
  6. Mekanik
  7. Welder
  8. Oilman
  9. Elektrik

Semua mekanik dibekali dengan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

Persedian  Barang

Bahan Bakar.

  • Melakukan pemeriksaan penyediaan bahan bakar pada peralatan/mesin.
  • Menyediakan stock BBM secukupnya minimal untuk persedian selama 3 hari dan membuat tumpahan BBM (bunding) dengan dilengkapi kran penutup.
  • Diusahakan agar tumpahan tidak langsung ketanah/sungai.

Oli dan Lubrication Grease

  • Menyediakan stok oli/Lubrication dan grease secukupnya.
  • Ketersediaan minimal cukup untuk tiga hari.

Spare Parts

  • Tersedia stock yang cukup digudang untuk spare part yang sering diganti.
  • Menggunakan spare parts buatan Original Equipment Manufacture (OEM).

Oli Bekas

Setiap penggantian oli harus ditampung ditempat oli dan tidak boleh tercecer ke tanah dan dimasukkan kedalam drum besar dengan kapasitas 3000 ltr. Membuat laporan ke bagian Accounting bila oli bekas di drum telah penuh selanjutnya dijual kembali ke Pertamina. Sedangkan oli bekas dari kebun ditampung didrum dengan kapasitas 200 ltr, dan bila drum sudah penuh oli bekas itu dikembalikan ke workshop.

Barang Bekas

Barang bekas dari sisa pekerjaan servis dan penggantian suku cadang seperti oil filter, fuel filter, hyd oil filter dikumpulkan ditempatkan didalam drum dan jika sudah penuh drum tersebut ditanam ditanah. Ban bekas dikumpulkan, lalu dibuatkan Berita Acara untuk dijual. Batteray bekas, Engine block, Axle bekas, roller bekas dikumpulkan lalu dibuatkan Berita acara kehapusan untuk dijual (daur ulang).

SOP Pengoperasian Timbangan TBS (RSPO)

 1.                  Tujuan

Untuk menjamin bahwa bahan yang ditimbang (diantaranya TBS, Kernel dan CPO)  di st. weight bridge di PKS tidak ada kesalahan dalam penimbangan yang dilakukan secara benar dan teliti

2.                  Tanggung Jawab

Petugas security, petugas WB, Logistik, KTU dan Mill Manager

3.                  Ruang Lingkup

Pabrik Kelapa Sawit (PKS) mulai dari pos security, st. weight bridge dan st. sortasi.

4.                  Prosedur

4.1. Sebelum Penimbangan

  1. Petugas WB membaca buku laporan timbangan untuk mendapatkan informasi dari kondisi sebelumnya.
  2. Petugas WB memastikan bahwa plateform timbangan dalam keadaaan bersih dan bebas dari lumpur/benda lain yang menempel antara plateform dan dinding beton jembatan timbang.
  3. Petugas WB memastikan bahwa instalasi kabel komputer, load cell dan UPS terpasang dengan baik dan aman.

4.2. Pengoperasian Komputer Timbangan

  1. Petugas WB harus memastikan terlebih dahulu bahwa arus listrik dalam kondisi stabil sebelum menghidupkan komputer.
  2. Petugas WB harus memastikan bahwa komputer harus dimatikan dan semua perangkat server yang terhubung dengan arus listrik harus dicabut pada saat arus listrik tidak stabil atau kondisi cuaca hujan.
  3. Tidak boleh menggunakan UPS jika alat sudah memberikan alarm tanda arus hampir habis pada saat tidak ada arus listrik.
  4. Pastikan semua peralatan kerja (komputer, instalasi arus listrik, perangkat server, printer, meja dan kursi kerja, dsb) dalam kondisi aman sebelum memulai pekerjaan.

4.3. Proses Penimbangan

  1. Supir menyerahkan surat pengantar TBS ke pos security untuk kemudian petugas security mencatat di buku ekspedisi : Nama supir dan tanggal masuk. Petugas Security dan weighbrisge mengetahui TBS yang bersertifikat RSPO dari kebun-kebun yang telah bersertifikat RSPO dan non-RSPO dengan membawa surat pengantaran TBSnya.
  2. Petugas security menyerahkan kembali SP –TBS kepada supir beserta nomor antrian.
  3. TruckTBS dipanggil masuk oleh petugas security sesuai dengan nomor antrian.
  4. Truck TBS masuk ke jembatan timbang secara perlahan-lahan dengan terlebih dahulu petugas WB memastikan indicator timbangan berada pada posisi “0” (nol).
  5. Supir truck beserta penumpang turun dari truck dan menyerahkan SP-TBS kepada petugas WB. Pastikan pada saat penimbangan, tidak ada lagi beban selain muatan truck.
  6. Petugas timbangan menginput / memasukkan data ke program timbangan, dengan terlebih dahulu menanyakan ke sopir nomor Polisi kendaraan (agar tidak terjadi kesalahan timbang karena perbedaan antara nomor polisi kendaraan pada SP TBS dengan No Polisi kendaraan actual yang di timbang). Petugas timbangan dapat mengidentifikasi TBS yang bersertifikat RSPO dan yang tidak bersertifikat RSPO dari kebun yang membawa surat pengantar TBSnya. Dan dari kuantitas TBS RSPO dan Non-RSPO akan dicatat berdasarkan produksi harian CPO/PK sesuai dengan kondisi yang ada.
  7. Petugas WB melakukan penginputan data
  8. (Jelaskan prosespenginputan data)
  9. Form timbangan kemudian diserahkan kepada supir untuk selanjutnya dibawa ke sortasi
  10. TBS kemudian dibongkar dan disortir di Bagian sortasi oleh petugas sortasi.
  11. Truck TBS kemudian masuk ke timbangan secara perlahan-lahan, dengan terlebih dahulu petugas timbangan memastikan indicator timbangan pada posisi “0” (NOL).
  12. Supir truck beserta penumpang turun dari truck dan menyerahkan form timbangan dan berita acara sortasi kepada operator timbangan.
  13. Petugas timbangan menanyakan kepada sopir kendaraan nomor Polisi kendaraan tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa kendaraan yang akan di timbang adalah kendaraan yang sesuai dengan dokumen yang diberikan.
  14. Petugas timbangan harus memastikan bawa sopir truck beserta penumpangnya sudah turun dari kendaraan dan posisi kendaraan di jembatan timbang sudah sesuai ketentuan
  15. Petugas timbangan melakukan penimbangan ke II
  16. Aplikasi program timbangan
  17. Petugas WB menginput data dari berita acara sortasi.
  18. Data yang telah di input kemudian di save dan mencetak slip timbangan / hasil timbangan.
  19. Petugas timbangan harus memastikan kesesuaian aplikasi program penimbangan dengan kondisi actual kendaraan yang di timbang. Jika ada kesalahan, segera lapor kepada Bagian Logistik/KTU/Mill Manager.
  20. Petugas timbangan akan memberikan cap stempel CSPO/CSPK (Dengan nomor sertfikat RSPO) di timbangan ke dalam tiket dan surat jalan setelah ditimbang maka CSPO/CSPK akan dikirm ke pabrik refinery.

4.4. Selesai Pekerjaan

  1. Petugas WB memastikan bahwa semua perangkat komputer telah dimatikan sesuai dengan prosedur.
  2. Petugas WB membuat laporan harian penerimaan TBS dan pemasaran.
  3. Petugas WB memastikan bahwa tidak ada kabel yang masih terhubung dengan arus listrik, perangkat computer dan email.
  4. Petugas WB memastikan bahwa semua pemakaian energi telah dimatikan dan merapikan meja kerja sebelum meinggalkan tempat kerja serta mengunci pintu dan jendela dengan benar.

5. Pertimbangan Lingkungan Hidup dan K3

  1. Menjaga tempat kerja selalu bersih dari sampah
  2. Petugas harus menjamin bahwa tugasnya dilaksanakan secara penuh perhatian terhadap K3
  3. Waktu pergantian Shift tempat kerja masing – masing harus dalam keadaan bersih dan tempat sampah harus dikosongkan/ bersih.
  4. Pada setiap saat mempertimbangkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan Anda:
  • Emisi udara,
  • Pencemaran ke badan air/sungai,
  • Pengelolaan sampah,
  • Pencemaran tanah / lahan,
  • Pemakaian sumber daya alam
  • Isu lingkungan hidup lokal yang lain.

 

AUTOMATIC FIRE HYDRANT CONTROL

Fire Hydrant

Fire Hydrant

Pendahuluan

Pencegahan bahaya kebakaran sangat penting untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan. Namun demikian jika kebakaran itu sampai terjadi maka kita harus siap dalam menghadapi dan memadamkan api tersebut secepat mungkin sebelum memakan lebih banyak korban baik manusia, peralatan dan bangunan.

Pada lingkungan Pabrik Minyak kelapa Sawit terdapat banyak sumber dan potensi yang dapat menyebakan timbulnya api. Lingkungan di sekitar ruang bakar boiler, kamar mesin, Threshing, Pressing banyak terdapat Fiber dan Kernel yang sangat rentan terhadap kebakaran. Waspadai saat terjadi perbaikan dan pengelasan pada area Fiber seperti Elevator, Thresher Drum dan CBC harus segera di siram dengan air washer agar percikan las tidak membakar fiber yang tersisa.

Selain Pemasangan dan ketersediaan Fire Extinguser di setiap Station. Peralatan Fire Hydrant dan instalasi pipa harus tersedia dan terjangkau di semua titik di dalam Pabrik. Unit pompa electric dan Diesel pump juga peralatan utama dalam pencegahan kebakaran. Disarankan pemasangan perangkat ini, ditempatkan diluar bangunan Pabrik, biasanya ditempatkan di area Water Treatment Plant agar terhindar dari kebakaran.

Peraturan dan Referensi

Departemen Pekerjaan Umum, Skep Menteri Pekerjaan Umum No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya  Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.

National Fire Codes,

1.    NFPA-10, Standard for Portable Fire Extinguisher

2.    NFPA-13, Standard for The Installation of Sprinkler Systems

3.    NFPA-14, Standard for The Installation of Standpipe and Hose Systems

4.    NFPA-20, Standard for The Installation of Centrifugal Fire Pumps

5.   SNI  03-1735-2000

6.   SNI  03-1745-2000

b.    Mc. Guiness, Stein & Reynolds

Mechanical & Electrical for Buildings

 Peralatan Utama

Fire Fighting System

Fire Fighting System

1. Fire Hydrant Pump

No.

Description

Qty

Power

Kapasitas Head

Unit

kW

m3/hr

1

Diesel Pump

1

18.5

80

45 m

2

Electric Pump

1

18.5

80

45 m

3

Jockey Pump

1

3

40

5 bar

Fire Hydrant Panel

Fire Hydrant Panel

2. Fire Pump Control

Panel kontrol merupakan kelengkapan unit tiap-tiap fire Fighting pump yang dapat mengatur kerja pompa secara automatic baik jockey pump sebagai pompa pembantu, pompa utama penggerak electric maupun pompa penggerak engine masing-masingn mempunyai Fire Pump Controller tersendiri. Khusus pompa penggerak engine akan bekerja secara automatic bila saluran daya listrik terputus pada saat terjadi kebakaran. Fire Pump Controller harus standard NFPA-20.

Fire Hydrant Panel

Fire Hydrant Panel

3. Fighting Fixtures

  • Hydrant Pillar
  • Fire Hydrant Box
  • Seamese Connection

4. Pipa, Fitting dan Valve

Cara Kerja Control Fire Hydrant Pump

fire hydrant system

fire hydrant system

  • Jockey pump gunanya untuk mempertahankan tekanan tertentu pada pipa besar A umpama tekanan tersebut sebesar 8 kg/cm², jika ada kebocoran pada pipa besar A, maka tekanan air akan turun, umpamanya pada 7 kg/cm² tugas jockey pump untuk menaikkan kembali menjadi 8 kg/cm², jadi titik kerja jockey pump pada 7-8 kg/cm².
  • Electric fire hydrant pump, akan bekerja pada tekanan air dibawah dari tekanan kerja Jockey Pump. Untuk contoh diatas umpanya 6 kg/cm². Jadi jika terjadi kebakaran dan kran B dibuka, maka tekanan air cepat turun mencapai 6 kg/cm², dengan demikian Electric fire hydrant pump bekerja. Rangkaian control jockey pump dibuat sedemikian rupa, sehingga jika Electric fire hydrant pump atau diesel pump bekerja, jockey pump stop.
  • Diesel pump, bekerja sebagai cadangan jika Electric fire hydrant pump, karena sesuatu hal tidak dapat bekerja. Umpama PLN padam atau dipadamkan. Titik kerja diesel pump dibawah titik kerja Electric fire hydrant pump jika diesel pump bekerja, maka Electric fire hydrant pump dan jockey pump stop.
  • Untuk lebih jelasnya bisa di lihat tabel di bawah ini.

 

AUTO

MANUAL

<5,5

6

6,5

>7

AC

POWER

ON

JOCKEY PUMP

ON

ON

ON

OFF

DEPEND ON – OFF SWITCH

DUTY PUMP

ON

OFF

OFF

OFF

DEPEND ON – OFF SWITCH

DIESEL PUMP

OFF

OFF

OFF

OFF

OFF

AC

POWER

ON

JOCKEY PUMP

OFF

OFF

OFF

OFF

OFF

DUTY PUMP

OFF

OFF

OFF

OFF

OFF

DIESEL PUMP

ON

OFF

OFF

OFF

DEPEND ON – OFF SWITCH

 

SOP PRESS

Digester Press

Digester Press

  1. TUJUAN
    Untuk memastikan proses pengambilan minyak dari buah di press berjalan secara optimal dan aman.
  2. RUANG LINGKUP
    Digister, Screw Press, Sand Trap Tank dan Vibrating Screen.
  3. TANGGUNG JAWAB
    Operator Press, Foreman, Asisten Supervisor Proses, Supervisor Proses, dan Mill Head.
  4. PROSEDUR
    1. Periksa kondisi motor, gearbox, hydraulic, conveyor, digester, press, dan Vibrating Screen sebelum dioperasikan.
    2. Pastikan setiap mesin dalam keadaan baik sebelum dioperasikan. Bila ada mesin yang tidak berfungsi atau dalam kondisi yang dapat menimbulkan ganguan atau kerusakan, segera ambil tindakan yang diperlukan atau laporkan kepada atasan.
    3. Pastikan Cake Breaker Conveyor (CBC) telah beroperasi sebelum sebelum mesin – mesin di stasiun press di operasikan.
    4. Buka valve by-pass pada steam trap agar air di dalam Steam header keluar
    5. Operasikan mesin – mesin dengan urutan berikut : Vibrating Screen, digister, Hydraulic Press lalu screw press.
    6. Buka valve steam ke Crude Oil Tank (COT), Sand Trap Tank, Digester dan Hot Water Tank.
    7. Bila digester sudah terisi 3⁄4 , buka pintu Outlet digester dan operasikan hydraulic secara manual sampai ampas yang keluar dari press tidak terlalu basah.
    8. Selama proses berlangsung temperature di Digester sekitar 85°C sampai 120˚C dan temperatur air sekitar 65°C sampai 100˚C.
    9. Buka valve air pengencer untuk press diatur agar ampas tidak basah dan losses sesuai dengan standar.
    10. Bukaan valve air pengencer untuk oil gutter di atur agar minyak tidak tumpah dari gutter dan kadar air di sand trap palong tidak terlalu tinggi, agar beban kerja Vibrating Screen tidak berlebih.
    11. Umpan dan air pengencer Vibrating Screen harus diatur agar ampas yang keluar dari Vibrating Screen tidak basah dan kadar air di COT tidak tinggi.
    12. Tinggi buah di digester harus dijaga agar senantiasa antara 3⁄4 sampai penuh.
    13. Saat proses di Stasiun Press akan di hentikan, pasrikan di digester kosong, Vibrating Screen kosong dan valve umpan ke Vibrating Screen ditutup, dan minyak di sand trap palong sudah di transfer semuah ke COT.
    14. Pastikan lingkungan kerja yang meliputi Vibrating Screen, Digester, Press, Sand Trap Tank, dan CBC sudah bersih saat selesai operasi atau tukar Shift.
    15. Catat kondisi selama operasi kedalam Press Stasion Journal kumpulkan jurnal tersebut kepada Foreman setiap selesai operasi.
  5. PERTIMBANGAN K3
    1. Sebelum mengoperasikan press, operator harus memastikan bahwa press tersebut dapat beroperasi dengan baik/normal, atau tidak ada kerusakan yang mengakibatkan kecelakaan kerja.
    2. Petugas harus menjamin bahwa tugasnya dilaksanakan secara penuh perhatian terhadap K3.
    3. Petugas menggunakan perlengkapan APD yang sesuai (helm, sepatu safety).
  6. PERTIMBANGAN LINGKUNGAN
    1. Pada setiap saat mempertimbangkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan Anda:
    2. Emisi udara,
    3. Pencemaran ke badan air,
    4. Pencemaran tanah/lahan, atau
    5. Isyu lingkungan hidup lokal yang lain.

KELISTRIKAN PABRIK KELAPA SAWIT

Pendahuluan

Proses pengolahan kelapa sawit menjadi CPO melalui beberapa tahapan yang memerlukan konsumsi energi listrik. Semakin besar kapasitas produksi, kompleksitas proses dan automation, konsumsi energi listrik yang di perlukan semakin tinggi. Parameter umum konsumsi energi listrik  (power consumption) di pabrik pengolahan kelapa sawit yakni sebesar 17-19 kWh/ton TBS.

Penggunaan konsumsi energi listrik yang tinggi otomatis mempengaruhi biaya operasional yang semakin tinggi. Bila biaya operasional terhadap pemenuhan energi listrik yang tinggi lantas tidak diimbangi dengan peningkatan produksi dan kapasitas pabrik, maka bakal menimbulkan kerugian yang besar. Olehkarenanya  perlu dilakukan upaya guna mengindentifikasi penyebab tingginya penggunaan energi listrik di PKS. Dampak dari nilai konsumsi listrik yang diatas standar bisa mengindikasikan adanya pemborosan energi atau penggunaan beban yang besar, tetapi perlu pula ditinjau terlebih dahulu dari pembebanan yang ada, selain itu konsumsi listrik yang tinggi bisa menyebabkan tingginya biaya operasional jika penyumbang energi listrik banyak ditanggung dari generator.

Power Plant

Idealnya pabrik kelapa sawit mampu mandiri memenuhi kebutuhan energinya. Limbah serabut (fiber) dan cangkang (shell) sawit digunakan untuk bahan bakar boiler sebagai penghasil uap yang digunakan untuk penggerak turbin pembangkit tenaga listrik juga sumber uap untuk proses perebusan dan pengolahan.

Sumber energi yang terpasang pada parik kelapa sawit kapasitas 30 ton per jam adalah 2 (dua) buah genset 400 kW, 1 (satu) buah genset 200 kW dan 1 (satu) buah steam turbine generator 1200 kW yang dapat beroperasi secara bergantian maupun bersama-sama. Genset dengan kapasitas 200 kW dioperasikan untuk mensuplay kebutuhan domestik dan penerangan ketika pabrik dalam kondisi belum aktif dan turbine belum bisa bekerja. Genset dengan kapasitas 2 x 400 kW dioperasikan untuk penyalaan dan proses pertama pabrik hingga pabrik menghasilkan fiber dan shell untuk bahan bakar boiler dan boiler mampu menghasilkan steam dengan kapasitas yang diharapkan untuk menggerakkan steam turbine hingga menghasilkan energi listrik secara continue.

Turbine dapat beroperasi normal jika tekanan steam berkisar 18 – 21 bar. Jika tekanan kerja boiler menunjukkan tren penurunan hingga 15 bar maka turbine tidak mampu di bebani untuk proses pabrik dan akan terjadi trib sehingga untuk menjaga proses tidak berhenti secara mendadak, maka operator engine room segera mengaktifkan genset 400 kw untuk di sinkron dengan turbine.

Jika keadaan ini sering terjadi konsekuensinya adalah naiknya biaya operasional akibat pemakaian solar dan menambah kecapekan operator boilller karena harus segera menyekrop bahan bakar ke dalam tungku boiler untuk meningkatkan panas pembakaran dan meningkatkan kembali tekanan steam yang seharusnya cukup di supplay dari fuel feedeng konveyor.

Distribution System

System distribusi tenaga listrik pada pabrik kelapa sawit digambarkan secara sederhana dengan mengirimkan sumber power yaitu genset dan turbine pada Main Switchboard. Main Switchboard ini terhubung menjadi satu dengan Main Distribution Board yang dilengkapi dengan pengaman berupa OCR, UVR, EFR, RPR dan peralatan sinkron dan switching dan juga capasitor bank untuk perbaikan factor daya. Kemudian melalui Main Distribution Board (MDB) akan di distribusikan menuju Motor Control Centre (MCC) dan Sub Distribution Board (SDB) pada masing-masing Station proses untuk kemudian mensuplay listrik pada beban berupa gear motor, pompa, fan. untuk beban penerangan, Office dan domestic akan di supplay dari Sub Distribution Board (SDB). Untuk beban yang letaknya jauh dari sumber yaitu Raw Water Pump dan Effluent Treatment Plant, drop voltage tegangan lebih dari 5 % maka dipasang trafo Step-Up dan Step-Down untuk perbaikan tegangan.

Distribution SystemDistribution System Diagram

Power Consumption

Untuk mengetahui karakteristik dan pemakaian beban listrik dapat dibaca dengan alat ukur yang terpasang dipanel kamar mesin berupa kW-meter dan amperemeter. Sedangkan energi listrik yang terpakai terukur melalui kWh-meter yang terdapat dipanel masing-masing pembangkit. Beban bakal mengalami fluktuasi dan menyesuaikan kebutuhan daya terhadap mesin atau listrik yang digunakan masing-masing unit. Penggunaan daya listrik untuk proses pengolahan lebih dominan sebesar 77,62 %. Beban domestik menempati urutan kedua mencapai 16,75 %. Sedangkan beban lain berupa head office, kantor PKS, Workshop KB,  dan penerangan jalan memiliki nilai yang kecil berkisar 0,5-3%. Sehingga penggunaan untuk beban ini tidak terlalu berpengaruh besar terhadap daya yang ditanggung terhadap pembangkit.

No.

STATION

Terpasang

Beroperasi

Demand

Factor

Df (%)

Power

In

I Terukur

Power

kW

A

A

kW

1.

Reception & Sterilizer

147

279

175

92

 63

2.

Threshing

149

283

88

46

 31

3.

Pressing

240

456

200

105

 44

4.

Clarification

171

325

30

16

 9

5.

Oil Storage

23

44

12

6

 27

6.

Depericarper & Kernel

281

534

280

147

 52

7.

Boiler Control

230

437

320

168

 73

8.

WTP

193

367

63

33

 17

9.

Boiler Demint

76

144

20

11

 14

10.

Effluent Treatment

60

114

45

24

 31

11.

Factory Lighting

75

142

50

26

 35

12.

Domestic Lighting

50

95

40

21

 42

Total

1695

705

 42

Tabel 1. Power Consumtion for Palm Oil Mill Capacity 30 Ton FFB/Hour

Beban listrik untuk domestik cukup besar dalam menyumbang penggunaan daya listrik. Penggunaan daya listrik dari beban domestik ini ditanggung oleh PKS sehingga perhitungan konsumsi energi listrik terhadap kWh/ton TBS juga akan terpengaruh.

No.

STATION

Terpasang

Beroperasi

Demand

Factor

Df

Power

In

I Terukur

Power

kW

A

A

kW

1.

Reception & Sterilizer

198

376

25

13

7

2.

Threshing

121

229

95

50

42

3.

Pressing Line 1

293

556

130

68

23

4.

Preassing Line 2

293

556

140

74

25

5.

Clarification

143

270

200

105

74

6.

Oil Storage

33

63

12

6

19

7.

Kernel Line 1

239

455

300

158

66

8.

Kernel Line 2

240

456

225

118

49

9.

Boiler Control

330

627

300

158

48

10.

WTP

120

227

125

66

55

11.

Boiler Demint

170

323

55

29

17

12.

Effluent Treatment

66

125

40

21

32

13.

Factory Lighting

75

142

50

26

35

14.

Domestic Lighting

40

76

40

21

53

Total

2360

915

39

Tabel 2. Power Consumtion for Palm Oil Mill Capacity 60 Ton FFB/Hour Two (2) Line.

Kondisi pabrik, dalam keadaan mengolah dengan menggunakan operasional 2 line. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan untuk beban Head Office, Workshop Kantor Besar, Office DB (PKS), Oil storage, Workshop DB (PKS), daya tidak secara terus menerus terhadap beban yang digunakan selama proses pengolahan berlangsung. Pada kondisi aktual untuk beban domestik, tingginya penggunaan listrik tercatat rata-rata pada pukul 17.30-21.00. Ini terjadi lantaran waktu tersebut adalah waktu istirahat dan kebanyakan masyarakat cenderung menggunakan listrik guna menyalakan lampu rumah, menonton televisi atau perangkat lain yang membutuhkan listrik. Sedangkan untuk proses pengolahan di pabrik kondisi operasional tetap  stabil. Adapun perbedaan daya listrik  di pabrik digunakan untuk beban lampu penerangan. Pengaman  pada panel domestik digunakan untuk memenuhi beban seluruh domestik. Saat satu jalur distribusi listrik dilakukan terhadap kantor dan perumahan, otomatis  panel domestik tidak boleh dimatikan.

Asumsi untuk beban domestik jika kebutuhan daya listrik untuk kantor tetap, sedangkan untuk beban perumahan dimatikan maka memberikan pengaruh terhadap konsumsi aktual. Asumsi ini tidak terikat terhadap penerapan waktu jika listrik perumahan dimatikan karena penggunaan listrik di PKS untuk domestik selama 24 jam. Dan asumsi ini bisa diterapkan jika hanya jalur distribusi listrik atau pengaman untuk perumahan dan kantor dipisahkan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 65 pengikut lainnya.