Pemberhentian Mendadak Pada Boiler (Emergency Stop)

Sumber : Manual Book “Takuma Boiler ”

Mati Listrik

  • Alihkan secepatnya sistem pengisian air umpan dari electric pump ke steam pump.
  • Tutup penuh kerangan main steam (kerangan induk)
  • Buka semua pintu dapur dan pintu abu bagian depan
  • Buka damper ID Fan 100% secara normal, dengan jalan menarik Arm (tuas) pembuka damper ID fan.
  • Alihkan pengisian air umpan dari system automatic water regulating control ke sistem by pass.

Apabila level air terus menerus jatuh :

  • Pemeriksa semua kerangan buangan condesate dan blow down apakah ada yang terbuka, terutama kerangan blow down dari header dan dari lower drum
  • Jaga agar temperatur air pengisi boiler tidak lebih dari 100oC. Temperatur air pengisi > 100oC, air sudah bercampur dengan uap, sehingga dapat menyebabkan kevacuman di dalam pompa dan dapat mengakibatkan kerusakan pada pompa maupun turunnya kapasitas pompa.
  • Periksa kondisi air dalam feed water tank dan peralatan pendukung pada feed water tank.
  • Periksa kondisi pompa pengisi air boiler yang di gunakan.

Akibat kekurangan airpada boiler.

Jika ternyata level air gelas penduga di bawah batas terendah, segera hentikan pemasukan bahan bakar (matikan rotary feeder), matikan seluruh blower, tutup kerangan uap utama dan kerangan supplay uap lainnya untuk memelihara jumlah air yang masih ada dalam boiler.

Cari sebab – sebabnya dengan melakukan pemeriksaan pada bagian – bagian peralatan seperti :

–          Indicator level air pada upper drum

–          Regulator level air pada drum

–          Meter air pengisi (water flow meter)

–          Tekanan pada inlet dan outlet pompa air pengisi boiler

–          Level air dalam feed water tank

–          Pompa air pengisi (feed water pump)

–          Pemipaan air pengisi

Dan lain – lainnya yang mencurigakan.

Apabila telah di dapatkan penyebabnya, dasar level air harus didapat kembali. Apabila dasar level air pada boiler dalam batas – batas yang di izinkan, maka alihkan pengisian air dari automatis water regulating control ke sistem by pass. Selanjutnya boiler dapat dioperasikan kembali sesuai dengan petunjuk pengoperasian.

Apabila air dalam gelas penduga kondisi kosong sama sekali, sehingga tidak diketahui sampai dimana titik terendah kondisi air didalam boiler, sementara boiler full operation maka  boiler tidak boleh langsung di isi secara tiba –tiba. Sebab bila pipa dalam drum telah memperoleh panas yang berlebihan, dan apabila di isi secara tiba – tiba maka pipa – pipa pada drum yang dipasang dengan sistem expander (pengerolan) akan terjadi penyusutan yang dapat mengakibatkan kebocoran pada expander dan pipa – pipa boiler tersebut berubah bentuk serta drum akan bergeser dari posisinya.

Hal – hal yang harus kita lakukan pada kondisi sepeti ini :

  • Menutup semua kerangan supply uap untuk menjaga jumlah air yang ada di dalam boiler.
  • Hentikan supplay bahan bakar, matikan blower – blower dan double damper dust collector.
  • Tutup penuh semua damper pada ID Fan, FD Fan dan Secondary FD Fan.
  • Secepatnya pembakaran di dalam ruang dapur di matikan dan semua sisa pembakaran dikeluarkan.
  • Seluruh pintu dapur di tutup dengan rapat agar jangan ada udara luar yang masuk ke ruang dapur pembakaran yang dapat menurunkan temperatur boiler secara drastis dan juga mengakibatkan penyusutan air di dalam boiler dengan cepat.
  • Perlakukan boiler dengan kondisi tersebut di atas selama +- 3 hari agar temperatur turun secara alamiah
  • Setelah temperatur boiler benar – benar dingin, air dalam boiler di kosongkan, handhole  dan manhole dibuka semua.
  • Periksa seluruh pengerolan (expanding) pada pipa (water tube), apakah terjadi perubahan pengerolan (expanding) dari pipa atau water tube, dan laporkan ke depnaker setempat untuk mendapat petunjuk.
  • Bila tidak terdapat perubahan pastikan dengan melakukan hydrostatic test sebesar tekanan kerja +- 3 kg/cm2 (P + 3 kg/cm2), seijin depnaker.
  • Bila terjadi kebocoran maka laksanakan pengerolan (expanding) sesuai dengan prosedur yang berlaku dan bila dilaksanakan hydrotest tidak terdapat kebocoran maka boiler dapat di operasikan kembali dengan mengadakan pemanasan awal, seijin depnaker setempat.
Iklan

PERENCANAAN INSTALASI LISTRIK

1. PERTIMBANGAN UMUM

Dalam merencanakan system instalasi kelistrikan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan peralatan pengaman dan penghantar adalah :

  • Ketahanan arus hubung pendek
  • Susut tegangan
  • Pemutus tegangan
  • Kemampuan hantaran arus

1.1       Ketahanan arus hubung pendek

Kapasitas penghantar harus tahan terhadap kemungkinan terjadinya hubungan pendek dan berlaku juga untuk peralatan peralatan seperti : Switchboard, Fuse, Circuit breaker dan lain-lain.

1.2       Susut tegangan

  • Susut tegangan pada kondisi beban penuh dan kondisi starting motor sesuai dengan standart dan permintaan proyek harus mengikuti :
    • Tidak lebih dari 5 % pada kondisi arus nominal kondisi kontinu pada sirkuit AC
    • Tidak lebih dari 20 % pada kondisi arus starting motor pada sirkuit AC
  • Generator harus memenuhi ketentuan yang berlaku. Pada waktu dimasukkan beban penuh turun tegangan sebaiknya tidak melebihi 25% dan dalam waktu 0,5 detik tegangan sudah pulih kembali dalam batas 5% dari tegangan normal. (PUIL 8.21.3.2.3)
  • Susut tegangan antara terminal konsumen dan sembarang titik dari instalasi tidak boleh melebihi 5 % dari tegangan pengenal pada terminal konsumen. (PUIL 4.2.3.1)

1.3       Pemutus tegangan

  • Setiap motor harus dilengkapi dengan sarana pemutus tersendiri, kecuali motor dengan daya pengenal tidak lebih dari 1,5 kW. (PUIL 5.5.8.2)
  • Sarana pemutus harus mempunyai kemampuan arus sekurang-kurangnya 115 persen dari arus beban penuh motor. (PUIL 5.5.8.3.3)
  • Gawai proteksi harus dipilih yang mempunyai nilai arus pengenal lebih rendah atau sama dari KHA penghantar.

1.4       Kemampuan hantaran arus

1.4.1    Penentuan luas penampang kabel

  • Penghantar dari terminal generator ke proteksi pertama harus mempunyai kemampuan arus tidak kurang dari 115 % dari arus pengenal yang tertera pada pelat nama generator. (PUIL 5.6.1.3)
  • Penghantar sirkit akhir yang menyuplai motor tunggal tidak boleh mempunyai KHA kurang dari 125 % arus pengenal beban penuh. Di samping itu, untuk jarak jauh perlu digunakan penghantar yang cukup ukurannya hingga tidak terjadi susut tegangan yang berlebihan. Penghantar sirkit akhir untuk motor dengan berbagai daur kerja dapat menyimpang dari ketentuan di atas asalkan jenis dan penampang penghantar serta pemasangannya disesuaikan dengan daur kerja tersebut. (PUIL 5.5.3.1)

1.4.2    Faktor koreksi

KHA yang tercantum dalam tabel 7.3.5a harus dikoreksi sebagai berikut:

  • Untuk kabel tanah berinti lebih dari 4 serta berluas penampang 1,5 mm² sampai dengan 10 mm² dan bertegangan 0,6/1 kV (1,2 kV), KHA harus dikoreksi sesuai dengan Tabel 7.3-13.
  • Untuk kabel tanah yang ditanam dalam tanah bersama-sama, KHA harus dikoreksi dengan faktor-faktor yang tercantum dalam Tabel 7.3-16a untuk a.s. dan a.b., sedangkan Tabel 7.3-16b dan 7.3-17 untuk a.b.
  • Untuk kabel tanah yang dipasang bersama-sama di udara, KHA harus dikoreksi dengan faktor yang tercantum dalam Tabel 7.3-19 dan 7.3-20 untuk sistem a.s. dan a.b. Dalam penggunaan tabel tersebut harus diperhatikan faktor dan jumlah kabel seperti yang tercantum pula dalam kedua Tabel 7.3-19 dan 7.3-20 tersebut.

Artikel Terkait :

Methodology Perhitungan

Cable Current Rating (Kabelindo Technical Data)

Cable Resistance & Reactance (Nexans Technical Data)

PENGADUKAN

Pendahuluan

Proses pengadukan yang harus dijalani oleh buah (daging buah) untuk memperoleh minyak secara rational adalah proses yang cukup penting, sebab proses pengadukan yang sempurna (baik) akan menghasilkan minyak yang optimal.

Untuk tujuan itu diperlukan pengertian mengenai daging buah dan susunannya.

Secara global maka buah kelapa sawit terdiri dari :

–          Daging buah

–          Cangkang Biji

–          Inti biji

Tebal daging buah, dari buah yang cukup baik (normal), berkisar antara 2 s/d 8 mm sesuai dengan jenis buah.

Daging buah ini terdiri dari sel-sel yang mengandung minyak, serabut dan bahan pengikat (semen).

Sel-sel yang mengandung minyak mempunyai dinding yang tipis dan boleh dikatakan terisi sepenuhnya oleh minyak yang berbentuk bintik-bintik.

Serabut yang tersusun memanjang dari pangkal kearah ujung buah melingkungi daging buah. Bahan pengikat (semen) yang mempunyai sifat seperti Pectine, mengikat sel-sel antara sesamanya dan juga mengikat serabut sehingga terbentuk suatu ikatan atau dalam hal ini kita sebut daging buah.

Analoginya adalah beton bertulang :

–          Kerikil = sel-sel.

–          Kerangka besi beton = serabut.

–          Semen/Specie = bahan pengikat/Pectine.

Untuk lebih memahami gejala-gejala yang terjadi didalam proses pengadukan (peremasan) perlu diketahui hal-hal sebagai berikut :

  1. Suatu potongan/irisan yang tidak terlalu tipis dari buah yang matang dan masih segar yang dicelupkan kedalam air dingin, tidak akan mengalami perobahan apapun.
  2. Irisan seperti tersebutdalam (a), setelah dicelupkan beberapa saat kedalam air panas (90ºC – 100ºC) akan terurai. Ikatan antar sel terputus dan sel atau gugusan sel akan bercerai-berai dengan bintik-bintik minyak didalamnya.
  3. Jika percobaan (b) dilakukan dengan risan daging buah yang telah direbus, maka hasilnya akan sama tetapi penguraian daging buah akan lebih cepat terjadi.
  4. Pada serabut yang dikeluarkan dari dalam daging buah matang yang segar akan terdapat sel-sel yang mengandung minyak, yang melekat padanya dan tidak dapat dilepaskan dari serabut dengan mencelupkannya kedalam air dingin.
  5. Sel-sel tersebut diatas akan melepas dari serabut jika dilakukan pencelupan kedalam air panas.

Dari hal tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa semen yang mengikat sel-sel kepada sesamanya dan kepada serabut akan larut dalam air panas karena sifatnya yang seperti Pectine untuk kemudian berobah menjadi Peclos yang larut dalam air panas.

Didalam buah, perobahan ini berlangsung selama proses pematangan.

Demikian juga halnya dengan serabut dan sel minyak yang terikat pada batok/cangkang biji oleh semen yang sama seperti tersebut diatas.

Mudahlah sekarang untuk dimengerti bahwa karena pengaruh perebusan (panasnya uap) maka ikatan antar sel, serabut dan batok biji menjadi lemah sekali.

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan tindakan apa yang perlu dilaksanakan untuk mencapai effect pengadukan yang seting-tingginya dan berguna untuk mendapatkan minyak yang semaksimal mungkin.

Tujuan Utama Proses Pengadukan

Proses pengadukan bertujuan memudahkan pekerjaan pengempaab sehingga minyak dengan mudah dapat dipisahkan dari daging buah dengan tingkat kerugian yang sekecil-kecilnya.

Untuk mencapai tujuan itu perlu dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Pengadukan harus menghasilkan peremasan yang optimal sehingga daging buah terlepas seluruhnya dari bijinya; tidak boleh terdapat buah yang amsih utuh (daging buah masih melekat pada bijinya).
  2. Pengadukan harus menghasilkan masa yang merata (Homogen) dan biji tidak boleh memisah dari masa untuk kemudian turun kebagian bawah Ketel Pengaduk.
  3. Daging buah tidak boleh teremas lumat menjadi bubur, struktur serabut dari daging buah harus masih tampak.
  4. Minyak kasar yang keluar dari daging buah selama pengadukan harus dialirkan keluar dari Bejana pengadukan untuk menghindarkan pembentukkan emulsi.
  5. Pemanasan 95ºC selama proses pengadukan diperlukan untuk mempertinggi effect pengempaan Pemanasan tidak boleh mengakibatkan masa yang teraduk menjadi mendidih dan untuk itu suhu harus dapat diatur dan diukur.

Penelitian terhadap syarat-syarat tersebut diatas penting sekali karena sebagian besar didasarkan kepada penglihatan, ump : pengamatan “Massa” yang keluar dari Bejana pengadukan menuju Press melalui talang yang dilengkapi kaca atau Fibre Glass yang transparant.

Kerugian Minyak yang tertinggal didalam ampas Pressan dapat diteliti, tetapi penelitian itu tidak selalu dapat digunakan untuk menilai proses pengadukan sebab faktor lain (diluar proses pengadukan) juga sangat berpengaruh pada kegiatan itu, antara lain tingkat kematangan dari buah yang diolah serta proses perebusan.

Penelitian yang lebih cermat akan memerlukan waktu penelitian yang tidak sedikit sehingga tidak mungkin dapat dilakukan didalam waktu singkat.

Tepian Langsat

Terletak di sebelah barat kecamatan bengalon, dengan luasan lebih dari satu (1) juta hectare. Desa Tepian langsat merupakan salah

Tepian Langsat

Tepian Langsat

satu desa yang terluas dikecamatan Bengalon dan menjadi tujuan transmigrasi. Meski merupakan Desa yang berumur cukup tua dikecamatan bengalon ini, tidak membuat Tepian Langsat menjadi salah satu desa yang maju dibanding dengan desa-desa yang lainnya. Perpindahan penduduk dari tepian langsat ke sepaso kurang lebih 15 tahun yang lalu membuat perkembangan ditepian langsat terkesan cukup lamban.

Pola kehidupan yang bergantung dengan hasil alam dan hutan merupakan mata pencaharian utama bagi masyarakat. Bertani, mencari binatang buruan/jerat, sarang burung wallet, madu, bekerja kayu, nyadap aren (membuat gula merah), serta mencari ikan merupakan usaha yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka sehari-hari.

Sejak di bukanya perkebunan kelapa sawit sekitar tahun 2008, bertahap desa ini mulai berkembang. Penduduk yang mengandalkan transportasi sungai kini dapat mengakses Jalan perkebunan untuk pergi ke bengalon maupun kota lainnya. “Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) Tepian Langsat” yang beroperasi sejak Desember 2011 membawa roda perekonomian desa semakin bergerak. Usaha mikro seperti warung kopi, air bersih, toko sembako mulai berdiri di setiap rayon pemukiman perkebunan. Truck pengangkut Tandan Buah Segar Kelapa sawit dan Truck Tangki CPO datang dan pergi menghiasi jalan tepian langsat.

Bengalon

Adalah sebuah kecamatan di bawah pemerintahan kabupaten kutai timur, kalimantan timur. Desa-desa dari kecamatan Bengalon

simpang perdau

simpang perdau

adalah : Keraitan · Muara Bengalon · Sekerat · Sepaso · Sepaso Barat · Sepaso Selatan · Sepaso Timur · Tebangan Lebak · Tepian Baru · Tepian Indah · Tepian Langsat. Terletak di utara sangata yang dilalui oleh Jalan Poros Sangkulirang – Bengalon.  Dengan 1 jam perjalanan dari Sangatta lewat Jalan Poros Sangata – Bengalon lalu belok kanan saat ketemu persimpangan Perdau. Untuk menuju bengalon biasanya di tempuh dengan mengendarai taksi atau travel yang armadanya berupa innova atau avanza selama kurang lebih 10 jam perjalanan dari bandara sepinggan balikpapan. Travel beroperasi normal berangkat dari bandara jam 8 malam melewati samarinda, sangata dan sampai bengalon jam 5 pagi. Jika kita punya akses bisa naik pesawat dari sepinggan balikpapan ke bandara non komersial KPC di tanjung bara sekitar 1 jam.

Roda perekonomian bengalon sangat hidup dengan adanya aktifitas pertambangan batu bara. Jalan raya selalu di hiasi lalu lalang mobil 4 WD khas pertambangan seperti Ford Ranger atau Mitsubushi Strada Triton yang di beri bendera tinggi agar terlihat oleh operator dump truck saat di area tambang. Minibus juga beroperasi tiap pergantian shift kerja untuk mengangkut pemberangkatan dan pemulangan pekerja pertambangan.

Dump Truck

Dump Truck

Generasi pertama yang datang di kota ini adalah para penebang kayu dan buruh pabrik kayu. Terdapat komplek pabrik kayu yang sudah tutup, perumahan karyawan dan alat berat yang tidak beroperasi menunjukkan sisa sia kejayaan pabrik tersebut. Mulai berkembang pula perkebunan kelapa sawit skala besar dan pabrik pengolah hasil perkebunan tersebut.

Rumah di bengalon kebanyakan berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu. Beberapa perkantoran pemerintahan kecamatan, masjid dan sekolah yang terbuat dari bata dan sebagian rumah yang tergolong mewah juga terbuat dari bata. Ada komplek perumahan kayu berwarna merah terlihat cukup mencolok dan asri milik United Traktor.

Penduduknya sangat majemuk dari beberapa suku. Penduduk asli bengalon adalah Orang kutai dan orang bugis yang sudah menetap secara turun temurun di sana sehingga sebagian besar menjadi tuan tanah. Selanjutnya suku jawa, madura dan beberapa dari batak dll yang datang karena pekerjaan baik kayu, pertambangan dan perkebunan sawit.

Tambang KPC di Bengalon

Tambang KPC di Bengalon

Bisnis hotel, penginapan rumah kos sangat berkembang, juga usaha travel sangat laris karena kendaraan umum sangat terbatas. ATM BNI dan BRI sudah beroperasi dan sangat padat antrian pada awal bulan dan akhir bulan. Meskipun belum ada pusat perbelanjaan, tapi ada beberapa pasar tradisional yang menyediakan kebutuhan penduduk seperti pasar sebongkok. Pasar pagi. Pasar malam yang beroperaasi tiap malam minggu dan malam senin juga ada beberapa ruko dan mini market yang biasanya di jadikan jujukan belanja bagi penduduk. Untuk penerangan dan sumber energi menggunakan Listrik dari PLN, karena masih menggunakan PLTD maka sering terjadi pemadaman.

PENEBAH (THRESHING)

1. Pendahuluan

Sebagaimana telah diterangkan didalam bab proses perebusan, maka perebusan yang dilaksanakan menurut syarat-syarat optimal harus menghasilkan, antara lain :

  • Buah harus melepas atau sekurang-kurangnya mudah melepas dari tandannya.
  • Daging bush telah menjadi cukup lunak/lembek.

Pemipilan adalah proses yang segera menyusul setelah proses perebusan dan bertujuan melepaskan/mengeluarkan/memisahkan semua buah dari tandannya. Dalam proses pemipilan, walaupun telah dilakukan seefisien mungkin tetapi beberapa kerugian kadang-kadang masih juga dialami antara lain :

a. Didalam tandan yang dipipil kadang-kadang masih terdapat beberapa butir buah yang tidak dapat keluar, meskipun sudah terlepas dari tandannya.

b. Benturan-benturan yang terjadi terhadap tandan didalam alat Pemipil mengharuskan agar semua buah terlepas dan keluar dari tandannya, tetapi hal ini ternyata juga mengakibatkan kerusakan terhadap daging yang telah menjadi lembek karena perebusan.

Dengan menggunakan alat Pemipil yang tepat disertai cara penggunaannya yang baik, maka harus diusahakan agar tujuan pemipilan dapat terpenuhi semaksimal mungkin, yang berarti pemipilan dengan tingkat kerugian yang serendah mungkin dapat dicapai.

2.    Kerugian didalam proses pemipilan

Kerugian yang dimaksud dapat terjadi disebabkan :

  • Langsung oleh pemipilan
  • Tidak langsung oleh Pemipil (diluar pemipilan).

Hal ini dapat dibedakan sebagai berikut :

A. Kerugian minyak terserap oleh tandan kosong.

B. Kerugian Minyak didalam buah yang tidak terlepas/terpisah atau buah yang masih tertinggal didalam tandan.

Factor yang berpengaruh terhadap taraf kerugian ini adalah terutama :

  • Kriteria panen dan mutu buah yang diterima.
  • Metode/cara perebusan yang dilakukan
  • Model/jenis alat pemipil yang dipergunakan

Kerugian Kategori A

–     Didalam Bab Proses Perebusan telah diterangkan bahwa semakin tinggi taraf kematangan buah dan semakin lama waktu perebusan maka akan semakin besar kemungkinan bahwa minyak akan meleleh keluar dari daging buah selama perebusan karena daging telah menjadi terlalu lunak atau karena daging buah memang telah tidak utuh lagi sebelum perebusan ; umpamanya pada buah busuk atau pada tandan buah yang mengalami bantingan-bantingan berat yang menyebabkan buah dipermukaan tandan hancur/lumat dll.

Mudah dimengerti bahwa akibat dari gejala tersebut diatas maka Minyak meleleh terutama dari buah-buah yang hancur/lumat tadi dan terbawa keluar bersama air Kondensate Rebusan pada saat dilakukan pengurasan (Blow Down).

Sebagian dari Minyak ini akan terbuang bersama Kondensat, tetapi masih dapat diperoleh kembali sebagai minyak yang bermutu rendah pada proses pengutipan di Fat Pit, sedangkan sebahagian lagi akan terserap pada tandan dan ikut terbuang bersama tandan-tandan kosong pada proses pemipilan.

Kerugian tersebut diatas pada hakekatnya terjadi diluar pemipilan sehingga kurang tepat jika dipergunakan untuk menilai pekerjaan pemipilan tetapi sangat berpengaruh, sehingga harus mendapat perhatian cukup dalam penilaian kerugian minyak yang terserap oleh tandan kosong.

–     Kerusakan daging buah yang disebabkan oleh benturan-benturan selama pemipilan seperti diterangkan terdahulu, dapat berakibat penyerapan Minyak oleh tandan.

Kemungkinan ini tidak dapat dihindarkan akibatnya tetapi masih mugkin dikurangi yaitu dengan melakukan pengisian alat Pemipil (Stripper) secara teratur dan tidak berlebihan (Over Capacity) agar benturan antara tandan dengan buah-buah lepas yang rusak dagingnya tersebut menjadi lebih singkat waktunya.

Kerugian Kategori B

–     Pemuatan yang berlebihan pada alat Pemipil akan mengakibatkan menigkatnya kergian karena menurunnya effect bantingan/benturan terhadap tandan.

Bantingan yang cukup harus berakibat buah melepas dan keluar dari tandannya untuk kemudian keluar melalui kisi-kisi dari alat Pemipil.

–     Pemipilan yang kurang sempurna juga menyebabkan peningkatan kerugian karena buah tidak cukup terlepas dari tandannya sebagai akibat dari proses kimiawi physica yang tidak/kurang sempurna didalam perebusan.

Gejala ini akan lebih banyak dijumpai pada tandan yang berada pada taraf kematangan rendah (buah mentah,dll) dari pada buah yang cukup matang.

Untuk menghindari kerugian yang berkebihan maka tandan yang tidak cukup terpipil dimaksud diatas harus direbus kembal.

Pengulangan perebusan dan pemipilan berari penurunan Output dari instalasi (penurunan effisiensi dalam pekerjaan) juga memperbesar kerugian tersebut dalam kategori A.

Dengan perebusan yang cukup dan pemipilan yang baikpun kadang-kadang masih dijumpai tandan dengan gejala tersebut dalam (b) yaitu bahwa buah tidak dapat terlepas dari tandannya dan biasanya buah jenis ini disebut buah “abnormal”.

Perebusan dan pemipilan kembali buah abnormal tidak akan memberikan hasil, malahan sebaliknya memperbesar kerugian tersebut dalam kategori A dan menurunkan Output Instalasi (Penurunan efisiensi dalam pekerjaan).

Buah abnormal ini walaupun telah mengalami perebusan ulangan, ternyata masih saja sulit untuk melepas buah dari tandannya.

Kelainan dari buah tersebut adalah “penyakit” dan tidak dapat diatasi didalam Pabrik.

3.    Penelitian terhadap Proses Perebusan dan Proses Pemipilan

Untuk dapat mengetahui apakah proses perebusan dan pemipilan telah terlaksana dengan baik, maka tandan-tandan kosong yang keluar dari alat pemipil harus diteliti dan dianalisa.

Seorang petugas mengmati tandan kosong yang keluar dari alat Pemipil. Tandan yang kelihatan tidak cukup terpipil, dikeluarkan dari Conveyor tandan kosong dan dikumpulkan untuk kemudian direbus kembali (perebusan ulang).

Dengan mengambil ciontoh tandan kosong yang keluar dari Pemipilan maka dapat diteliti hal-hal sebagai berikut :

  • Banyaknya tandan kosong yang harus direbus ulang dalam satu hari. Hal ini dipakai dalam menghitung berkurangnya kapasitas PKS karena pekerjaan uklangan dan bila perlu mengadakan penyesuaian dan perobahan terhadap lamanya proses perebusan.
  • Jumlah buah yang masih terdapat didalam tandan kosong dianalisa secara teratur untuk dihitung besarnya kerugian yang timbul karena hal ini berhubungan dengan efisiensi/rendement PKS.
  • Pada selang waktu tertentu tandan kosong harus diambil untuk dianalisa Minyak yang terikut (terserap) didalam janjang kosong tersebut karena hal ini juga merupakan kerugian yang berhubungan dengan rendement Minyak yang dihasilkan.

Dari beberapa data tersebut maka akan diperoleh angka kerugian :

  1. Minyak didalam buah tertinggal
  2. Minyak didalam janjang kosong

Angka ini bersama dengan angka kerugian dibagian pengolahan yang lain akan memberikan gambaran mengenai rendement dari pengolahan dalam keseluruhan dan sangat penting untuk mengadakan perbaikan didalam pengolahan baik mengenai cara bekerja maupun mengenai peralatan pengolahan.

4.    Alat-alat Pemipil (Thresher)

Hingga kini hanya ada 2 type alat Pemipil yang lazim digunakan didalam Pabrik Minyak Kelapa Sawit, karena kedua type ini sajalah yang memberikan hasil pemipilan yang memuaskan (rational).

Kedua alat Pemipil itu ialah :

  • Pemipil dengan lengan pemukul (Beater Arm type)
  • Trommol Pemipil (Rotary Drum Type)

1. Pemipil dengan lengan pemukul (Beater Arm Type)

–     Alat type ini lazimnya digunakan pada Pabrik dengan kapasitas pengolahan yang terbatas = 4 – 5 ton TBS per jam.

–     Pemipilan dengan type ini pada dasarnya karena pemukulan tandan oleh lengan-lengan yang diikat pada sumbu (bersama) yang terpasang dibawah palung pemipilan sedemikian rupa sehingga ujung-ujung lengan itu yang menyelip diantara celah-celah palung pemipilan membentuk bangun spiral yang melingkari sumbu.

2. Trommol Pemipil (Rotary Drum Type)

–     Daya pemipilan dari type ini dapat mencapai 25 s/d 35 ton TBS/Jam. Trommol Pemipil berbentuk silinder yang dibangun dari batang-batang besi memanjang sepanjang Trommol yang terpasang endatar dan berpusing pada sumbu mendatar atau pada empat buah titik tumpu (Shaft Less).

–     Batang-batang besi yang berbentuk huruf “T” terpasang berantara sehingga buah dapat lolos diantara celah-celah keluar dari dalam Trommol selama pemipilan.

–     Garis tengah dari lingkaran silinder berkisar antara ± 2 meter dengan panjang Trommol berkisar 4 s/d 5 meter. Jika ruangan didalam Pabrik mengizinkan dianjurkan untuk memilih Trommol berukuran panjang.

–     Dasar dari pada pemipilan dengan Trommol Pemipil ini adalah sentakan yang ditimbulkan oleh bantingan yang dialami oleh tandan yang sedang dipipil.

Kedalam Trommol Pemipil yang sedang berpusing akan “melekat” pada dinding Trommol dan ikut berpusing/terangkat karena pengaruh gaya sentrifugal. Tandan ini kemudian terlepas dan jatuh membentur dinding Trommol karena pengaruh gaya gravitasi.

Demikian berulang kali selama pemipilan tandan terangkat dan jatuh.

Sentakan pada jatuhan itu menyebabkan buah rontok lepas/keluar dari tandannya untuk kemudian melalui celah diantara batang besi keluar dari Trommol pemipilan dan masuk kedalam Conveyor pengantar menuju Elevator.

–     Untuk memudahkan/memperlancar tandan bergerak keluar dari Trommol Pemipil dengan effect pemipilan yang optimal, dipasan Plate pada dinding sebelah dalam dari Trommol sedemikian rupa sehingga membentuk alur spiral.

Pemasangan plate dengan tepat penting artinya terutama jika tidak dapat dijamin sepenuhnya bahwa Trommol Pemipil dimuati secara teratur, untuk menghindarkan pencampuran tandan yang masih penuh dengan tandan yang sudah habis/hampir habis terpipil yang akan menjadi penyebab meningkatnya kerugian Minyak terserap dalam tandan kosong.

–     Kecepatan berpusing dari Trommol Pemipil harus ditentukan secara tepat untuk mencapai effect pemipilan yang optimal.

Tandan yang sedang dipipil tidak bileh hanya berguling saja pada bagian bawah dari dinding tetapi juga tidak boleh tetap ikut melekat pada dinding silinder yang berpusing.

Kecepatan berpusing harus sedemikian rupa sehingga praktis semua tandan yang sedang dipipil berulang kali terangkat setinggi mungkin pada dinding silinder, untuk kemudian jatuh: sebab dengan demikian baru akan diperoleh pemipilan yang dikehendaki.

Perawatan Rebusan

Dalam Perawatan, semua peralatan memerlukan perhatian.

Setiap Rebusan harus dibersihkan bahagian dalamnya minimal setiap 2 minggu untuk dilakukan pemeriksaan, perawatan dan perbaikan yang diperlukan.

Selain hal tersebut diatas, maka Perawatan routine yang harus dilakukan antara lain sebagai berikut :

–     Periksa kebocoran Pipa-pipa uap dan Pipa Kondensat secara rutin. Jika ada kebocoran agar segera dilas/ganti, sebab jika hal ini dibiarkan akan mengganggu proses Perebusan Buah (pemborosan uap) dan akan mengotori sekitar Stasiun Rebusan.

Setiap kebocoran agar segera dilas pada keesokan harinya pada saat Rebusan Dingin. Kawat las yang digunakan adalah : Philips PH 36 S atau Equivalent.

Untuk mengetahui apakah perbaikan sudah baik dan tidak ada lagi bahagian lain yang masih bocor, maka perlu diadakan pemadatan dengan air dingin bertekanan Max. 2 Kg/Cm2. Apabila masih terdapat kebocoran segera lakukan pengelasan ulang.

–     Safety Valve (katup pengaman) yang terdapat pada Rebusan agar diperiksa setiap bulan apakah bekerjanya masih akurat.

Bila diperlukan (kalau ada kebocoran) maka katup dan tempat kedudukannya harus dibersihkan dan di-Skur, untuk kemudian dilakukan penyetelan ulang terhadap kepegasan dari per (spring) yang menekan katup tersebut.

Penyetelan-penyetelan semacam ini tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, melainkan oleh seorang tukang yang cukup berpengalaman dan dibawah pengawasan salah seorang “Staff”.

Selanjutnya pada safety Valve dipasang Segel atau Seal kembali dan siapapun dilarang membuka Segel atau Seal tersebut tanpa izin dari Mill Manager.