SOP MAINTENANCE

Tujuan

Dengan adanya mekanisasi maka dituntut suatu keharusan bengkel (workshop) untuk mengadakan perawatan dan pemeliharaan machinery service routine secara efisien agar tidak mengalami kerusakan akibat kelalaian perawatan sehingga mengakibatkan kerusakan yang sangat besar.

Ruang lingkup

SOP ini berlaku untuk kegiatan workshop dan maintenance di area pabrik Minyak Kelapa Sawit xxxxxxxxxxx.

Aktivitas

  1. Melakukan pengelasan
  2. Melakukan Oil/Lubrication Grease
  3. Pengadaan barang /Spare Parts
  4. Penyimpanan Oli Bekas
  5. Melakukan penggerindaan
  6. Pengoprasian gerinda potong
  7. Pengoprasian Mesin bubut
  8. Pengoprasian Mesin bor
  9. Pembersihan area workshop
  10. Melakukan servisc genset,Loder,Excapator,Mobil
  11. Melakukan pengecekan alat angkut Elevator dan Conveyor di setiap station proses
  12. Melakukan penggantian worm screw dan Press cake sesuai dengan jam yg telah di tentukan
  13. Melakukan pengecekan digister
  14. Melakukan Pengecekan Compressor

Prosedur

Apabila machinery akan menjalani pemeliharaan atau service routine, terlebih dahulu operator menunjukkan surat pengantar pemeliharaan atau service routine yang diketahui minimal Asisten. Selanjutnya surat pengantar diberikan kepada krani workshop untuk selanjutnya dibuka ‘job card’ dicatat jam kerja mekanik kemudian di input kedalam komputer. Mekanik melaksanakan Technical Inspection dan service rutin sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Setelah melaksanakan Technical Inspection terhadap kendaraan, farm tractor dan mobil kecil, kemudian service sheet atau technical inspection form diisi dan ditanda tangani oleh Operator Mekanik dan Asisten Tehnik/Ka. Mekanik lalu diarsipkan kedalam arsip masing-masing kendaraan.

Jadwal technical inspection untuk masing-masing kendaraan setiap  10 (sepuluh) hari sekali sesuai Jadwal Technical Inspection tiap bulan.

Untuk penggantian oli engine dan service raoutine ditentukan sebagai berikut:

  1. Dump truck,Strada dan mobil kecil setiap 5000 km operasi
  2. Generator set Cumin setiap 100/250 jam operasi
  3. Mitsubishi engine water pump set setiap 100/250 jam operasi
  4. Sepeda motor setiap 2000 km operasi

Semua kendaraan, generator set, water pump set dan lain-lain mempunyai kode alat pengenalan untuk mudah mencatat pembebanan pengeluaran spare parts/barang dan pembebanan jam kerja mekanik (job card), jadwal service dan dokumen lain.

Tenaga Kerja

Workshop mempunyai tenaga sebagai berikut:

  1. Mill Head
  2. Supervisor Tehnik
  3. Ass. Supervisor
  4. Administrasi Workshop
  5. Foreman
  6. Mekanik
  7. Welder
  8. Oilman
  9. Elektrik

Semua mekanik dibekali dengan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

Persedian  Barang

Bahan Bakar.

  • Melakukan pemeriksaan penyediaan bahan bakar pada peralatan/mesin.
  • Menyediakan stock BBM secukupnya minimal untuk persedian selama 3 hari dan membuat tumpahan BBM (bunding) dengan dilengkapi kran penutup.
  • Diusahakan agar tumpahan tidak langsung ketanah/sungai.

Oli dan Lubrication Grease

  • Menyediakan stok oli/Lubrication dan grease secukupnya.
  • Ketersediaan minimal cukup untuk tiga hari.

Spare Parts

  • Tersedia stock yang cukup digudang untuk spare part yang sering diganti.
  • Menggunakan spare parts buatan Original Equipment Manufacture (OEM).

Oli Bekas

Setiap penggantian oli harus ditampung ditempat oli dan tidak boleh tercecer ke tanah dan dimasukkan kedalam drum besar dengan kapasitas 3000 ltr. Membuat laporan ke bagian Accounting bila oli bekas di drum telah penuh selanjutnya dijual kembali ke Pertamina. Sedangkan oli bekas dari kebun ditampung didrum dengan kapasitas 200 ltr, dan bila drum sudah penuh oli bekas itu dikembalikan ke workshop.

Barang Bekas

Barang bekas dari sisa pekerjaan servis dan penggantian suku cadang seperti oil filter, fuel filter, hyd oil filter dikumpulkan ditempatkan didalam drum dan jika sudah penuh drum tersebut ditanam ditanah. Ban bekas dikumpulkan, lalu dibuatkan Berita Acara untuk dijual. Batteray bekas, Engine block, Axle bekas, roller bekas dikumpulkan lalu dibuatkan Berita acara kehapusan untuk dijual (daur ulang).

Iklan

SOP Pengoperasian Timbangan TBS (RSPO)

 1.                  Tujuan

Untuk menjamin bahwa bahan yang ditimbang (diantaranya TBS, Kernel dan CPO)  di st. weight bridge di PKS tidak ada kesalahan dalam penimbangan yang dilakukan secara benar dan teliti

2.                  Tanggung Jawab

Petugas security, petugas WB, Logistik, KTU dan Mill Manager

3.                  Ruang Lingkup

Pabrik Kelapa Sawit (PKS) mulai dari pos security, st. weight bridge dan st. sortasi.

4.                  Prosedur

4.1. Sebelum Penimbangan

  1. Petugas WB membaca buku laporan timbangan untuk mendapatkan informasi dari kondisi sebelumnya.
  2. Petugas WB memastikan bahwa plateform timbangan dalam keadaaan bersih dan bebas dari lumpur/benda lain yang menempel antara plateform dan dinding beton jembatan timbang.
  3. Petugas WB memastikan bahwa instalasi kabel komputer, load cell dan UPS terpasang dengan baik dan aman.

4.2. Pengoperasian Komputer Timbangan

  1. Petugas WB harus memastikan terlebih dahulu bahwa arus listrik dalam kondisi stabil sebelum menghidupkan komputer.
  2. Petugas WB harus memastikan bahwa komputer harus dimatikan dan semua perangkat server yang terhubung dengan arus listrik harus dicabut pada saat arus listrik tidak stabil atau kondisi cuaca hujan.
  3. Tidak boleh menggunakan UPS jika alat sudah memberikan alarm tanda arus hampir habis pada saat tidak ada arus listrik.
  4. Pastikan semua peralatan kerja (komputer, instalasi arus listrik, perangkat server, printer, meja dan kursi kerja, dsb) dalam kondisi aman sebelum memulai pekerjaan.

4.3. Proses Penimbangan

  1. Supir menyerahkan surat pengantar TBS ke pos security untuk kemudian petugas security mencatat di buku ekspedisi : Nama supir dan tanggal masuk. Petugas Security dan weighbrisge mengetahui TBS yang bersertifikat RSPO dari kebun-kebun yang telah bersertifikat RSPO dan non-RSPO dengan membawa surat pengantaran TBSnya.
  2. Petugas security menyerahkan kembali SP –TBS kepada supir beserta nomor antrian.
  3. TruckTBS dipanggil masuk oleh petugas security sesuai dengan nomor antrian.
  4. Truck TBS masuk ke jembatan timbang secara perlahan-lahan dengan terlebih dahulu petugas WB memastikan indicator timbangan berada pada posisi “0” (nol).
  5. Supir truck beserta penumpang turun dari truck dan menyerahkan SP-TBS kepada petugas WB. Pastikan pada saat penimbangan, tidak ada lagi beban selain muatan truck.
  6. Petugas timbangan menginput / memasukkan data ke program timbangan, dengan terlebih dahulu menanyakan ke sopir nomor Polisi kendaraan (agar tidak terjadi kesalahan timbang karena perbedaan antara nomor polisi kendaraan pada SP TBS dengan No Polisi kendaraan actual yang di timbang). Petugas timbangan dapat mengidentifikasi TBS yang bersertifikat RSPO dan yang tidak bersertifikat RSPO dari kebun yang membawa surat pengantar TBSnya. Dan dari kuantitas TBS RSPO dan Non-RSPO akan dicatat berdasarkan produksi harian CPO/PK sesuai dengan kondisi yang ada.
  7. Petugas WB melakukan penginputan data
  8. (Jelaskan prosespenginputan data)
  9. Form timbangan kemudian diserahkan kepada supir untuk selanjutnya dibawa ke sortasi
  10. TBS kemudian dibongkar dan disortir di Bagian sortasi oleh petugas sortasi.
  11. Truck TBS kemudian masuk ke timbangan secara perlahan-lahan, dengan terlebih dahulu petugas timbangan memastikan indicator timbangan pada posisi “0” (NOL).
  12. Supir truck beserta penumpang turun dari truck dan menyerahkan form timbangan dan berita acara sortasi kepada operator timbangan.
  13. Petugas timbangan menanyakan kepada sopir kendaraan nomor Polisi kendaraan tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa kendaraan yang akan di timbang adalah kendaraan yang sesuai dengan dokumen yang diberikan.
  14. Petugas timbangan harus memastikan bawa sopir truck beserta penumpangnya sudah turun dari kendaraan dan posisi kendaraan di jembatan timbang sudah sesuai ketentuan
  15. Petugas timbangan melakukan penimbangan ke II
  16. Aplikasi program timbangan
  17. Petugas WB menginput data dari berita acara sortasi.
  18. Data yang telah di input kemudian di save dan mencetak slip timbangan / hasil timbangan.
  19. Petugas timbangan harus memastikan kesesuaian aplikasi program penimbangan dengan kondisi actual kendaraan yang di timbang. Jika ada kesalahan, segera lapor kepada Bagian Logistik/KTU/Mill Manager.
  20. Petugas timbangan akan memberikan cap stempel CSPO/CSPK (Dengan nomor sertfikat RSPO) di timbangan ke dalam tiket dan surat jalan setelah ditimbang maka CSPO/CSPK akan dikirm ke pabrik refinery.

4.4. Selesai Pekerjaan

  1. Petugas WB memastikan bahwa semua perangkat komputer telah dimatikan sesuai dengan prosedur.
  2. Petugas WB membuat laporan harian penerimaan TBS dan pemasaran.
  3. Petugas WB memastikan bahwa tidak ada kabel yang masih terhubung dengan arus listrik, perangkat computer dan email.
  4. Petugas WB memastikan bahwa semua pemakaian energi telah dimatikan dan merapikan meja kerja sebelum meinggalkan tempat kerja serta mengunci pintu dan jendela dengan benar.

5. Pertimbangan Lingkungan Hidup dan K3

  1. Menjaga tempat kerja selalu bersih dari sampah
  2. Petugas harus menjamin bahwa tugasnya dilaksanakan secara penuh perhatian terhadap K3
  3. Waktu pergantian Shift tempat kerja masing – masing harus dalam keadaan bersih dan tempat sampah harus dikosongkan/ bersih.
  4. Pada setiap saat mempertimbangkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan Anda:
  • Emisi udara,
  • Pencemaran ke badan air/sungai,
  • Pengelolaan sampah,
  • Pencemaran tanah / lahan,
  • Pemakaian sumber daya alam
  • Isu lingkungan hidup lokal yang lain.

 

AUTOMATIC FIRE HYDRANT CONTROL

Fire Hydrant

Fire Hydrant

Pendahuluan

Pencegahan bahaya kebakaran sangat penting untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan. Namun demikian jika kebakaran itu sampai terjadi maka kita harus siap dalam menghadapi dan memadamkan api tersebut secepat mungkin sebelum memakan lebih banyak korban baik manusia, peralatan dan bangunan.

Pada lingkungan Pabrik Minyak kelapa Sawit terdapat banyak sumber dan potensi yang dapat menyebakan timbulnya api. Lingkungan di sekitar ruang bakar boiler, kamar mesin, Threshing, Pressing banyak terdapat Fiber dan Kernel yang sangat rentan terhadap kebakaran. Waspadai saat terjadi perbaikan dan pengelasan pada area Fiber seperti Elevator, Thresher Drum dan CBC harus segera di siram dengan air washer agar percikan las tidak membakar fiber yang tersisa.

Selain Pemasangan dan ketersediaan Fire Extinguser di setiap Station. Peralatan Fire Hydrant dan instalasi pipa harus tersedia dan terjangkau di semua titik di dalam Pabrik. Unit pompa electric dan Diesel pump juga peralatan utama dalam pencegahan kebakaran. Disarankan pemasangan perangkat ini, ditempatkan diluar bangunan Pabrik, biasanya ditempatkan di area Water Treatment Plant agar terhindar dari kebakaran.

Peraturan dan Referensi

Departemen Pekerjaan Umum, Skep Menteri Pekerjaan Umum No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya  Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.

National Fire Codes,

1.    NFPA-10, Standard for Portable Fire Extinguisher

2.    NFPA-13, Standard for The Installation of Sprinkler Systems

3.    NFPA-14, Standard for The Installation of Standpipe and Hose Systems

4.    NFPA-20, Standard for The Installation of Centrifugal Fire Pumps

5.   SNI  03-1735-2000

6.   SNI  03-1745-2000

b.    Mc. Guiness, Stein & Reynolds

Mechanical & Electrical for Buildings

 Peralatan Utama

Fire Fighting System

Fire Fighting System

1. Fire Hydrant Pump

No.

Description

Qty

Power

Kapasitas Head

Unit

kW

m3/hr

1

Diesel Pump

1

18.5

80

45 m

2

Electric Pump

1

18.5

80

45 m

3

Jockey Pump

1

3

40

5 bar

Fire Hydrant Panel

Fire Hydrant Panel

2. Fire Pump Control

Panel kontrol merupakan kelengkapan unit tiap-tiap fire Fighting pump yang dapat mengatur kerja pompa secara automatic baik jockey pump sebagai pompa pembantu, pompa utama penggerak electric maupun pompa penggerak engine masing-masingn mempunyai Fire Pump Controller tersendiri. Khusus pompa penggerak engine akan bekerja secara automatic bila saluran daya listrik terputus pada saat terjadi kebakaran. Fire Pump Controller harus standard NFPA-20.

Fire Hydrant Panel

Fire Hydrant Panel

3. Fighting Fixtures

  • Hydrant Pillar
  • Fire Hydrant Box
  • Seamese Connection

4. Pipa, Fitting dan Valve

Cara Kerja Control Fire Hydrant Pump

fire hydrant system

fire hydrant system

  • Jockey pump gunanya untuk mempertahankan tekanan tertentu pada pipa besar A umpama tekanan tersebut sebesar 8 kg/cm², jika ada kebocoran pada pipa besar A, maka tekanan air akan turun, umpamanya pada 7 kg/cm² tugas jockey pump untuk menaikkan kembali menjadi 8 kg/cm², jadi titik kerja jockey pump pada 7-8 kg/cm².
  • Electric fire hydrant pump, akan bekerja pada tekanan air dibawah dari tekanan kerja Jockey Pump. Untuk contoh diatas umpanya 6 kg/cm². Jadi jika terjadi kebakaran dan kran B dibuka, maka tekanan air cepat turun mencapai 6 kg/cm², dengan demikian Electric fire hydrant pump bekerja. Rangkaian control jockey pump dibuat sedemikian rupa, sehingga jika Electric fire hydrant pump atau diesel pump bekerja, jockey pump stop.
  • Diesel pump, bekerja sebagai cadangan jika Electric fire hydrant pump, karena sesuatu hal tidak dapat bekerja. Umpama PLN padam atau dipadamkan. Titik kerja diesel pump dibawah titik kerja Electric fire hydrant pump jika diesel pump bekerja, maka Electric fire hydrant pump dan jockey pump stop.
  • Untuk lebih jelasnya bisa di lihat tabel di bawah ini.

 

AUTO

MANUAL

<5,5

6

6,5

>7

AC

POWER

ON

JOCKEY PUMP

ON

ON

ON

OFF

DEPEND ON – OFF SWITCH

DUTY PUMP

ON

OFF

OFF

OFF

DEPEND ON – OFF SWITCH

DIESEL PUMP

OFF

OFF

OFF

OFF

OFF

AC

POWER

ON

JOCKEY PUMP

OFF

OFF

OFF

OFF

OFF

DUTY PUMP

OFF

OFF

OFF

OFF

OFF

DIESEL PUMP

ON

OFF

OFF

OFF

DEPEND ON – OFF SWITCH

 

SOP PRESS

Digester Press

Digester Press

  1. TUJUAN
    Untuk memastikan proses pengambilan minyak dari buah di press berjalan secara optimal dan aman.
  2. RUANG LINGKUP
    Digister, Screw Press, Sand Trap Tank dan Vibrating Screen.
  3. TANGGUNG JAWAB
    Operator Press, Foreman, Asisten Supervisor Proses, Supervisor Proses, dan Mill Head.
  4. PROSEDUR
    1. Periksa kondisi motor, gearbox, hydraulic, conveyor, digester, press, dan Vibrating Screen sebelum dioperasikan.
    2. Pastikan setiap mesin dalam keadaan baik sebelum dioperasikan. Bila ada mesin yang tidak berfungsi atau dalam kondisi yang dapat menimbulkan ganguan atau kerusakan, segera ambil tindakan yang diperlukan atau laporkan kepada atasan.
    3. Pastikan Cake Breaker Conveyor (CBC) telah beroperasi sebelum sebelum mesin – mesin di stasiun press di operasikan.
    4. Buka valve by-pass pada steam trap agar air di dalam Steam header keluar
    5. Operasikan mesin – mesin dengan urutan berikut : Vibrating Screen, digister, Hydraulic Press lalu screw press.
    6. Buka valve steam ke Crude Oil Tank (COT), Sand Trap Tank, Digester dan Hot Water Tank.
    7. Bila digester sudah terisi 3⁄4 , buka pintu Outlet digester dan operasikan hydraulic secara manual sampai ampas yang keluar dari press tidak terlalu basah.
    8. Selama proses berlangsung temperature di Digester sekitar 85°C sampai 120˚C dan temperatur air sekitar 65°C sampai 100˚C.
    9. Buka valve air pengencer untuk press diatur agar ampas tidak basah dan losses sesuai dengan standar.
    10. Bukaan valve air pengencer untuk oil gutter di atur agar minyak tidak tumpah dari gutter dan kadar air di sand trap palong tidak terlalu tinggi, agar beban kerja Vibrating Screen tidak berlebih.
    11. Umpan dan air pengencer Vibrating Screen harus diatur agar ampas yang keluar dari Vibrating Screen tidak basah dan kadar air di COT tidak tinggi.
    12. Tinggi buah di digester harus dijaga agar senantiasa antara 3⁄4 sampai penuh.
    13. Saat proses di Stasiun Press akan di hentikan, pasrikan di digester kosong, Vibrating Screen kosong dan valve umpan ke Vibrating Screen ditutup, dan minyak di sand trap palong sudah di transfer semuah ke COT.
    14. Pastikan lingkungan kerja yang meliputi Vibrating Screen, Digester, Press, Sand Trap Tank, dan CBC sudah bersih saat selesai operasi atau tukar Shift.
    15. Catat kondisi selama operasi kedalam Press Stasion Journal kumpulkan jurnal tersebut kepada Foreman setiap selesai operasi.
  5. PERTIMBANGAN K3
    1. Sebelum mengoperasikan press, operator harus memastikan bahwa press tersebut dapat beroperasi dengan baik/normal, atau tidak ada kerusakan yang mengakibatkan kecelakaan kerja.
    2. Petugas harus menjamin bahwa tugasnya dilaksanakan secara penuh perhatian terhadap K3.
    3. Petugas menggunakan perlengkapan APD yang sesuai (helm, sepatu safety).
  6. PERTIMBANGAN LINGKUNGAN
    1. Pada setiap saat mempertimbangkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan Anda:
    2. Emisi udara,
    3. Pencemaran ke badan air,
    4. Pencemaran tanah/lahan, atau
    5. Isyu lingkungan hidup lokal yang lain.