VERTICAL STERILIZER SYSTEM

Sterilizer stations development over the past 30 years

 First generation palm oil mill

Early 70s

 Capacity: 30-60 tons / hr

Machineries :

  • 2 tons cages
  • Horizontal Sterilizer
  • 9 tons Screw Presses
  • Overhead crane
 Second generation palm oil mill

Early 80’s to 90’s

 Capacity: 30 -60 tons / hr

Machineries :

  • 5 tons cages
  • Horizontal sterilizer
  • 10-15 tons Screw Presses
  • Overhead crane
 Third generation palm oil mill

Early 90’s & beyond

 Capacity: 90-120 tons/ hr

Machineries :

  • 7-10tons cages
  • Horizontal Sterilizer
  • 20 tons Screw Press
  • FFB Tippler / Conveyor / Indexer
VS 3D Diagram

VS 3D Diagram

MILESTONE OF VERTICAL STERILIZER

  • FFB dropping from height causes mechanical damages on to the internal parts
  • FFB knocking and bruising cause high oil loss and increases FFA
  • Arching problem affects discharging of SFB
  • Uneven steam distribution affects sterilization
  • Prolonged sterilization cycle time
  • Higher steam consumption
  • 10 ton FFB per charge

THE GREAT ARCH

  • Vertical Sterilizer (latest version) is designed to create arching effect during sterilization (under pressure)
  • This will lessen the compactness of the sterilized fruit inside the VS
  • Once the discharge door is opened, the SFB bridging (arching) will collapse naturally
  • No more downtime due to bridging during SFB (sterilized fruit bunch) discharge

Horizontal Sterilizer and Cages System

  • FFB are loaded into cages and charged into the sterilizer for cooking
  • Area taken up by horizontal sterilizer is dependent on the size of cages
  • Uses a lot of cages –ranges from 40 units @ USD2800 per cage
  • Uses 5 railway tracks for a 45tones/hr mill
  • Modern Mill uses tippler incl. conveyor, transfer carriage, winch, indexer, etc
  • Sterilization Station is very long to accommodate length of sterilizers and large marshalling yard is required
  • Oil losses resulting from spilled fruitlesduring loading to cage, transfer to sterilizer and out to thresher, oil dripping from cage and sterilizer condensate.
  • Triple or double sterilizing cycle is required for proper cooking.-Condensate oil cannot be recovered due to iron pick-up.-Reduced cages lifespan
  • Savings of labor as less manpower is required to operate the mill
  • High maintenance cost for railway, tracks, boogie wheels for cages, overhead crane/ tippler, winch / capstan, prime movers, marshalling yards upkeep.
  • Pit design is required

VS 3d DiagramCHD VERTICAL STERILIZER

  • FFB are loaded directly into the sterilizer, NO cages are used
  • Area taken up by vertical sterilizer is significantly smaller
  • FFB feeding by conveyor
  • Conveyor arrangement is used
  • Simple FFB handling
  • Smaller sterilization station with slightly higher building
  • Direct filling of FFB and discharge to stripper. No spillage & oil drip. Sterilizer condensate oil is recovered to system.
  • FFB cooking time is much shorter achieved due to better steam penetration
  • Less workers are needed because automation features through PLC / SCADA
  • Minimal maintenance cost
  • Mass concrete in single level
VS System Diagram

VS System Diagram

SYSTEM COMPARISONS:VERTICAL STERILIZER –HORIZONTAL STERILIZER

ITEMS VERTICAL STERILIZER SYSTEM CAGE SYSTEM
Mill layout at sterilizer station Compact design, pit-less Bigger area (4 times) with pits
Labor requirement/shift(Reception-thresher) 3 workers 6 to 12 workers
Steam consumption 130-160kgs/ton FFB 270 -350kgs/ton FFB
Oil recovery potential HighCondensate oil fully recoverable with minimum loss LowCondensate oil not encouraged to be recovered (poor quality)
Downtime and maintenance Relatively low maintenance and breakdown (lesser machinery) HigherMaintenance on cages,rail track, tipper/crane,cantilever, transfer car, winch/capstan,pit,sterilizer liner…….
House-keeping Better housekeeping.(closed system with minimum spillages, smaller floor area) Difficult housekeeping-Oily and slippery, larger floor area, more machinery & pits
Work hazard SafeLess moving machines HigherMore moving machines & pits
Operation Simple and safe operation (semi automatic system) Multiple machinery & complicated operations. Mainly manual works

CONCLUSION

  • Based on the results of the mill operating on VS, the cost of operation and extraction efficiency have improved significantly
  • VS system is a one-way traffic arrangement that uses cage-less & pit-less design
  • VS system is more energy efficient (Steam and electrical power savings)
  • VS system relatively improves food safety compares to conventional system (horizontal sterilizer)
  • VS system improves operational safety and environment

Sumber : CHD Marketing Presentation

Clarification Station

Tujuan dari Clarifier adalah untuk memproses atau memurnikan jumlah maksimum Crude Palm Oil (CPO) dari CPO dan Non Oily Solids (NOS) yang tidak larut sehingga menghasilkan CPO yang baik bersih dan kering. produk akhir CPO harus memiliki kandungan kotoran (dirt) tidak lebih dari 0,02% dan kadar air (moisture) tidak lebih dari 0,01%. CPO hasil pressing ini direbus dengan air panas (steam) kemudian di diamkan agar terjadi proses pengendapan, dimana minyak akan mengambang dan sludge akan mengendap untuk memperoleh proses pemurnian selanjutnya. Setelah menetap itu dialirkan ke bagian bawah kompartemen menetap luar. Dari sini itu diperbolehkan meluap ke Heat Exchanger / pengering sebelum mentransfer melalui Tank dikalibrasi dengan metode pilihan penyimpanan atau kemasan.

Clarification Process

Palm Oil Mill Clarification Process

Di Pabrik Minyak Sawit, Minyak kasar yang diperoleh dari pengempaan, dibersihkan dari kotoran yang terutama berasal dari daging buah berupa bahan padat dan air. Maksud dari pada pembersihan/pemurnian Minyak kasar adalah untuk memurnikan Minyak tersebut agar diperoleh mutu sebaik mungkin dan dapat dipasarkan dengan harga yang layak.

Flow Proses

Crude Oil dari Screw Press masuk ke Sand Trap tank melalui sebuah talang (Gutter). Overflow dari Sand Trap Tank mengalir ke Crude Clarification StructureOil Tank (COT) melalui Vibrating Screen double deck dengan mesh 20.

Dari COT Crude Oil dipompakan melewati Crude Oil Buffer Tank menuju Vertical Continuous Settling Tank (CST) kapasitas 120 m3. minyak mentah ditahan untuk pengendapan dalam CST untuk memisahkan minyak bagus dan sludge.

Kebutuhan air panas untuk proses klarifikasi dan pressing di suplay dari Hot Water Tank kapasitas 6 m3 dengan over flow menuju Hot Well Tank yang akan dipompakan kembali oleh Hot Well Pumps menuju Hot Well Tank.

Process Flow Diagram Of Palm Oil Mill

A process flow diagram (PFD) is a diagram commonly used in engineering to indicate the general flow of plant processes and equipment. The PFD displays the relationship between major equipment of a plant facility and does not show minor details such as piping details and designations.

The process of extracting Palm Oil from Oil Palm Fresh Fruit Bunches (FFBs) is long established. It is done using broadly the same technique but with one of three different technologies. A process flow diagram (PFD) of palm oil milling process is shown as figure below.

Process Flow Diagram

Process Flow Diagram

The Process Flow Chart provides a visual representation of the steps in a process. Flow charts are also referred to as Process Mapping or Flow Diagrams. Constructing a flow chart is often one of the first activities of a process improvement effort, because of the following benefits:

  • Gives everyone a clear understanding of the process
  • Helps to identify non-value-added operations
  • Facilitates teamwork and communication
  • Keeps everyone on the same page

A flow chart diagram of palm oil milling process is shown as figure below.

Flow Chart Diagram Of Palm Oil Mill

Flow Chart Diagram Of Palm Oil Mill

Related Post :

Pabrik Minyak Kelapa Sawit (Palm Oil Mill)

Kelistrikan Pabrik Kelapa Sawit (Palm Oil Mill)

Proses Penerimaan Buah

 

Pabrik Minyak Kelapa Sawit (Palm Oil Mill)

Adalah pabrik yang mengolah tandan buah segar (Fresh Fruit Bunch) menjadi Minyak sawit mentah (Crude Palm Oil).

Palm Oil Mill

Palm Oil Mill

Selain memproduksi CPO, pabrik ini juga menghasilkan biji kelapa berupa inti (Kernel) untuk di proses menjadi minyak kernel (Palm Kernel Oil) pada pabrik pengolahan yang berbeda (Kernel Crushing Plant).   Produk jadi dari CPO adalah : Mentega, Minyak Goreng, Sabun, Industri Farmasi (Vitamin A), Pelumas (pembuatan lembaran baja), Lilin, dan lain sebagainya. Sedangkan Minyak inti sawit sebagai bahan baku, produk jadinya adalah : Sabun, Minyak Goreng, Kosmetik, dll.

Untuk pabrik dengan kapasitas 30 ton FFB per hour diperlukan minimal 6000 ha kebun. Tanaman kelapa sawit biasanya dipanen setelah berumur + 3 tahun, buah dengan umur pohon dibawah 3 tahun unsur minyaknya sedikit dan biasanya disebut buah pasir. Pohon sawit diremajakan (regenerasi) biasanya umur + 25 tahun.

Effluent Ponds

Effluent Ponds

Pabrik kelapa sawit adalah primadona investasi di indonesia dan nilai eksportnya terbesar di dunia menggeser malaysia. Disamping iklim katulistiwa yang mendukung, lahan yang tersedia juga cukup luas. Teknologi pengolahannya tergolong cukup sederhana dan hampir tidak ada limbah yang terbuang. Sisa hasil Threser berupa janjangan kosong dapat dimanfaatkan utnuk pupuk kompos sebagai penyubur tanaman di perkebunan. sisa pengolahan Pressing dan Kernel Station berupa Fiber dan Shell digunakan sebagai bahan bakar pembangkit tenaga uap pada Boiler, sedangkan limbah cair dari perebusan dan clarifikasi juga bisa dimanfaatkan untuk land Aplication.

Proses-prose utama pengolahan Pabrik Kelapa Sawit adalah :

  1. Penerimaan Buah (Fruit Reception Station)
  2. Perebusan dan Sterilisasi (Sterilizer Station)
  3. Pemisahan dan Penebah (Thresher Station)
  4. Pengadukan dan pemerasan (Pressing Station)
  5. Pemurnian Minyak (Clarification Station)
  6. Pemisahan inti (Kernel Station)

Sedangkan untuk proses pendukung jalannya Pabrik adalah :

  1. Penyediaan dan penjernian air (Water Treatment Plant)
  2. Pemurnian air (Demineralization Plant)
  3. Pembangkit tenaga uap (Boiler Station)
  4. Pembangkit tenaga listrik (Power Station)
  5. Pengolahan air limbah (Effluent Treatment Plant)

 

Artikel Terkait :

Process Flow Diagram Of Palm Oil Mill

Penjelasan Umum “TAKUMA” Boiler

 

Pemisahan Minyak dengan cara Pengendapan (Settling)

Proses pemurnian minyak dilakukan dengan tiga cara yaitu :

–          Cara dengan pengendapan (Settling)

–          Cara dengan pemusingan (Centrifuge)

–          Cara dengan pengaruh biologis.

Penjelasan  dibawah ini akan memberikan gambaran mengenai penggabungan dimaksud serta keterkaitan antara satu proses dengan proses yang menyusul berikutnya.

Continuous Settling Tank

Continuous Settling Tank

 

Proses pendahuluan

Minyak kasar yang diperoleh dari hasil pengempaan (Press) dialirkan ke Saringan Getar (Vibrating Screen) untuk disaring, agar kotoran kasar berupa serabut-serabut dan cangkang yang lolos dari Saringan Press (Press Cage) dapat dipisahkan. Minyak kasar yang telah disaring selanjutnya dimasukkan kedalam suatu bak penampung (Crude Oil Tank), sedangkan kotoran yang berupa Serabut dan Cangkang dikembalikan ke Fruit Elevator untuk di proses ulang (Re-Cycle ke Digester/Press).

Minyak kasar atau Crude Oil yang telah terkumpul didalam Crude Oil Tank kemudian dinaikkan temperaturnya hingga mencapai 95 s/d 100ºC untuk selanjutnya dipompakan ke Tanki Pengendap (Static Clarifier Tank).

Menaikkan temperatur Minyak kasar adalah sangat penting artinya ; yaitu untuk memperbesar perbedaan berat jenis (BJ) antara Minyak, air dan Heavy Sludge yang terkandung didalam minyak kasar tersebut agar pada proses pengendapan minyak yang berat jenisnya lebih ringan akan mudah memisahkan diri dan naik kepermukaan.

Jika Minyak kasar dari pengempaan dibiarkan sementara waktu, maka akan terbentuk lapisan minyak dipermukaan yang semakin lama semakin tebal.

Untuk mendapatkan pengertian yang lebih jauh terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengendapan, maka akan diteliti apakah yang akan terjadi seandaninya cairan yang diendapkan terdiri hanya dari dua unsur yang tidak dapat bercampur (dalam hal ini Air dan Minyak) karena berat jenis yang berbeda-beda sedangkan zat yang terdispersi (Minyak) didalam zat dispersis (Air) berbentuk butir-butir kecil dari berbagai garis menengah.

Diumpamakan bahwa butiran-butiran minyak berbentuk bola. Butiran tersebut apabila dialirkan dalam suatu Tabung berisi media dengan berat jenis yang lebih besar akan mendapat gaya dorong keatas.

Butiran-butiran minyak yang dianggap berbentuk bola mempunyai volume sebagai berikut :

Volume      =    (4/3)    x  phi.  R3            =  1/6 . phi.  d3

Dimana     :  R = jari-jari bola minyak

d = diameter bola minyak

phi = 3.14

Apabila :    – Berat jenis (BJ) dari zat yang terdispersi (Minyak)  =    Y1

– Berat jenis (BJ) dari zat dispersie (Air) ………….    =    Y2

– Garis tengah butir (Minyak) ……………………….  =    d

Maka butir-butir zat yang terdispersi akan bergerak kearah permukaan oleh gaya sebesar :

1/6 p  d3  (Y2 – Y1) ………………………………….. (I)

Pada awalnya gerak ini adalah gerak yang dipercepat yang kemudian menjadi gerak yang beraturan. Pengaruh geseran yang dialami butir-butir minyak dalam geraknya didalam zat dispersie (Air) adalah m,engikuti hukum STOKES.

Menurut hukum STOKES daya gerak butir minyak (P) adalah :

3 phi n d.v  ……………………………………………………….    (II)

Dimana :

n (etha)  =       Viscositas Dynamis

V  =       kecepatan beraturan dari geraknya butir.

Dari persamaan (I) dan (II) apabila gerak dari butiran Minyak untuk mencapai kecepatan beraturan adalah sama, maka :

1/6 p d3 (Y2 – Y1) =  3 p h d.v

Kecepatan beraturan (v) adalah :

= ((1/6 . phi . d3)/(3 . phi . n . d)) x (Y2 – Y1)

= ((d2)/(18n)) x (Y2 – Y1)       ……………………………   (III)

Jalan pemikiran tersebut diatas tidak seluruhnya tepat, meskipun cukup cermat untuk keperluan kita, karena jarak yang telah ditempuh oleh butir minyak sebelum gerak yang dipercepat berobah menjadi gerak yang beraturan, dapat diabaikan saja karena sangat kecilnya.

Contoh       :

Suatu butir minyak (BJ = 0,9) dengan diameter = 0,04 mm, akan bergerak kepermukaan didalam lingkungan air bersuhu 20ºC yang mempunyai viscositas dynamis 0,01 deci-poise dengan kecepatan,

v = (d2 (Y2 – Y1)) / 18

v = ((0.04mm x 103)2 x (1 – 0.9))/ (18 x 0,01 deci-poise)

v = ((0.04)2 x 106 x 0.1)/(18 x 0,01)

v = 900 micron/dt

v = 900  x  10-4  cm/dt

v = 9  x  10-2  cm/dt

Jika pada suatu pengendapan, dengan tinggi apisan cairan (h) = 4 meter, sedangkan dikehendaki tak ada lagi butir-butir minyak ≥ 0,04 mm yang masih belum terpisahkan, maka diperlukan jangka waktu pengendapan :

h/v = (4 x 102 detik)/ 9.10-2 = (4 x 104)/9 = 4.444,44 detik  =  ± 1,23 jam

Sehingga waktu yang diperlukan untuk pemisahan campuran dari 2 unsur (Air dan minyak) dengan pengendapan adalah tergantung dari :

h =   Tinggi lapisan campuran dalam cm

d =   Des-integrasi dari minyak (diameter minyak)

(Y2-Y1)=  Selisih berat jenis

(etha) =  Viscositas dari air

Tingginya Lapisan Campuran

Dari h/v = waktu pengendapan, nyatalah bahwa semakin besar (h)  =  semakin tinggi lapisan cairan, semakin panjang pula jangka waktu yang diperlukan untuk pengendapan.

Karena diutamakan waktu pengendapan yang sependek mungkin maka harus diusahakan lapisan yang setipis mungkin.

Didalam praktek perpendekan ini dapat dicapai dengan pemisahan sehingga cairan terbagi dalam beberpa lapisan-lapisan dan ini didapat misalnya, pada pengendapan Static Clarifier.

Des-integrasi Dari Minyak

Des-integrasi minyak diartikan bahwa halusnya butir-butir minyak atau semakin halus (kecil) akan semakin panjang jangka waktu pengendapan. Oleh karena itu harus tetap diusahakan supaya butir-butir minyak yang keluar dari pengempaan tidak terpecah dalam butir yang halus.

Didalam prakteknya hal yang demikian tergantung dari cara pengempaan dan tak selalu dapat dicapai.

Hal ini disebabkan :

–          Pengadukan yang berlebihan

–          Pengacauan (didalam talang minyak kasar)

–          Pengempaan pada tekanan tinggi dan lain sebagainya.

Selisih berat jenis dari kedua zat yang akan dipisahkan sesamanya, dapat dikatakan tetap karena juga pada umumnya suhu kedua zat adalah sama.

Agar supaya memperoleh gambaran mengenai jalannya proses pengendapan dari minyak kasar yang dihasilkan oleh pengempaan dan yang mengandung banyak zat padat bukan lemak, kita umpamakan tangki terisi oleh minyak kasar.

Jika minyak kasar kita biarkan maka isi tanki akan mengendap dan akan terbentuklah lapisan sebagai berikut :

a.   Lapisan pertama   :     Yang terutama terdiri dari minyak.

b.   Lapisan kedua       :     Terdiri dari Air dan minyak yang mungkin masih dikandungnya dan berada dalam bentuk yang terhomogenisir atau jika berbentuk emulsie maka minyak ini dengan air merupakan emulsie yang masih hidup.

c.   Lapisan ketiga       :     Pada umumnya terdiri dari emulsieminyak/air yang tak terpecahkan; yang menjadi stabilisator dari emulsie yang tak hidup ini terutama adalah zat-zat padat yang dikandung oleh minyak kasar.

Lapisan Pertama

Minyak dari lapisan ini masih mengandung bintik-bintik air dan zaat pengotor lainnya. Untuk memperoleh minyak murni maka kadar air diturunkan dari ± 0,75% sampai seminimal mungkin (atau berkisar £ 0,10%).

Lapisan Kedua

Jika dinilai dari sifat-sifat emulsi yang dikandungnya kecuali dengan oengendapan, minyak didalam lapisan ini dapat dibebaskan dengan proses kimia, umpamanya dengan pembubuhan Electrolyte yang dapat memecahkan emulsie.

Dengan percobaan kearah ini, ternyata hasil yang dicapai tidak memberikan harapan untuk dilakukan secara besar-besaran karena dari percobaan itu didapat kesan bahwa perobahan yang terjadi karena pembubuhan Electrolyte, disamping memecahkan beberapa emulsie yang telah ada, juga menimbulkan emulsie yang baru.

Oleh sebab itu maka pembebasan minyak dari emulsie lapisan kedua dengan jalan pemanasan atau dengan jalan pemusingan (Centrifuge) adalah tetap lebih sederhana.

Lapisan Ketiga

Lapisan ini mengandung emulsie yang tidak hidup dan zat organik yang padat.

Terbentuknya emulsie sangat dipengaruhi oleh tingkat hubungan secara kimiawi maupun physic antara zat padat itu terhadap zat yang meng-emulgeer (air).

Maka dalam hal ini perhatian yang khusus untuk lapisan ketiga tersebut sangat diperlukan, agar supaya kerugian minyak dapat dibatasi serendah mungkin.

Minyak kasar hasil pengempaan yang akan diendapkan mempunyai komposisi sebagai berikut :

  • Minyak : ± 50%
  • Air : ± 42%
  • Zat Padat : ±   8 %

Proses pengendapan (Settling) dilakukan didalam suatu tanki vertikal yang mempunyai daya tampung berkisar 70 M3.

Tanki ini disebut Static Clarifier (Clarification Tank) yang bekerja secara kontinu, artinya ninyak kasar dari Crude Oil Tank dipompakan ke tanki pengendap ini secara terus menerus dan pengeluaran dari tanki ini juga akan berlangsung secara terus-menerus yaitu berupa :

1. Minyak (Top Oil)

Minyak yang diperoleh dari hasil pengendapan ini mempunyai komposisi sebagai berikut :

  • Minyak                        : ± 99%
  • Air                    : ± 0,75%
  • Zat Padat        : ± 0,25%

Selanjutnya minyak ini dialirkan kedalam tangki penampung minyak (Oil Tank) untuk kemudian akan diproses lebih lanjut  dengan menggunakan oil Purifier dan Vacum Dryer.

Pemisahan yang terjadi adalah didasari “Hukum Bejana Berhubungan”’ dimana akan terjadi selisih ketinggian permukaan antara media ringan (minyak) dan media berat (air dan Sludge).

Karena pemisahan yang akan dilakukan adalah secara kontinue, maka selisih ketinggian dari kedua media tadi harus diatur posisinya agar tujuan/hasil pemisahan yang diperoleh enar-benar sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Untuk mengatur selisih permukaan tersebut diatas, maka rumus sederhana yang biasa digunakan adalah sebagai berikut :

->  Po g x + Ps g y = Ps g  z

g    =    Percepatan gravitasi (» 9,81 m/dt2)

Po  =    Berat jenis minyak (» 0,9 gm/cc)

Ps  =    Berat jenis sludge (» 1,0 gm/cc)

Maka persamaan menjadi :

->  Po x + Ps y = Ps  z ………………………………. (1)

Sehingga persamaan (1) menjadi :

->  0,9x + y = z ………………………………………. (2)

Menurut gambar diatas, terlihat : SH + z  = x + y  dimana :

SH =    Selisih permukaan minyak dan sludge

x    =    Tinggi lapisan minyak

y    =    Tinggi lapisan Sludge

z    =    Tinggi lapisan miniyak dan sludge

->  SH =    x  +  y  –  z………………………………..  (3)

SH =    Ketinggian Sludge Skimmer dibandingkan Oil Skimmer.

Substitusi rumus (2) ke (3)

->  SH =  x  +  y  –  (0,9x  +  y)

=  x  +  y  –  0,9x  –  y

=  x  –  0,9x

=  0,1x

Jadi :

->  x  =  10 SH

Dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa selisih ketinggian antara permukan minyak dengan saluran keluar sludge atau tinggi SH adalah 1/10x.

2. Lumpur (Sludge)

Sludge yang diperoleh dari hasil pengendapan ini mempunyai komposisi sebagai berikut :

Minyak :  ±  15%

air           :  ±  75%

Zat padat :  ±  10%

Sludge ini kemudian dialirkan ke tanki Sludge untuk kemudian akan diproses lebih lanjut dengan Nozzle Separator atau Decanter.

Hal-hal yang perlu mendapat perhatian pada proses pemisahan dengan cara pengendapan ini antara lain adalah sebagai berikut :

a.   Untuk mendapatkan suatu hasil pemisahan yang baik, maka tangki Clarifier ini harus diisi secara kontinu dengan volume yang teratur dan dengan temperatur crude oil berkisar 95 s/d 100ºC.

Hindari cara pengisian yang berfluktuasi karena hal ini dapat menimbulkan Turbulensi dan mengacaukan lapisan-lapisan yang sudah terbentuk didalam tanki Clarifier.

b.   Tanki Clarifier dilengkapi dengan pipa pemanas (Heating Coil) yang berfungsi untuk memanaskan Crude Oil sisa pengolahan yang lalu dan hanya perlu dioperasikan paling lama 30 menit sebelum dimulainya pengolahan.

Selam proses berlangsung, pipa pemanas (Heating Coil) yang ada didalam tanki Clarifier tidak boleh dibuka/dioperasikan disebabkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Pemanasan oleh Heating Coil akan menyebabkan air yang terkandung ada didalam Heavy Phase dan berada disekitar Heating Coil menjadi mendidih.
  2. Pada air yang mendidih akan timbul gelembung-gelembung udara yang bergerak keatas untuk kemudian menimbulkan arus (Turbulensi) yang akan mengacaukan proses pemisahan serta pengendapan yang sudah mulai terbentuk.
  3. Setiap pagi sebelum pengolahan dimulai dan sebelum dilakukan pemanasan pendahuluan, maka sebahagian kecil dari isi tanki (± 3 m3) perlu dikeluarkan dan dimasukkan kedalam bak penampung (sludge Drain Tank).

Maksud pengeluaran ini adalah agar kotoran dan pasir yang telah mengendap pada saat tangki dalam keadaan diam (Statis) dapat dikeluarkan.

Pada Sludge Drain Tank ini pasir dan kotoran akan dipisahkan dari minyak yang masih terikut bersamanya ; untuk kemudian minyak yang telah bebas dari pasir dan kotoran tersebut dikembalikan ke Clarifier Tank atau ke Crude Oil Tank.

Lightning Protection and Earthing

All structure in factory area protected against direct and indirect lighting strike in accordance with the latest British Standard Code of

Lightning Protection

Lightning Protection

Practice.

The lighting protector shall be of “Early Streamer Emission” system as made by Indelec of France or equivalent.

Earthing system of the lighting protection shall be separated to the electrical earthing system and shall be below of 5 hours.

Number of such preventor, type and installation shall be as recommended by the manufacture as be proposed to the Engineer for approval.

Earthing

Earthing Grounding

Earthing Grounding

Earthing system shall be provided for turbo alternators, diesel alternators, main switch boards, MCC, and sub distribution boards using 5/8” copper and 1” x 1/8” copper strip. Copper rods to be used as electrodes which driven into the ground and interconnected with copper strips in order to obtain a station earth of below one ohm. For regularly inspection purpose some of test links and inspection pits for every connection between electrodes and earthing conductor shall be provided.

 

Related Post :

Main Switchboard (MSB)

Motor Control Centre (MCC) and Distribution Boards (DB)

Power and Lighting Circuits

Kelistrikan Pabrik Kelapa Sawit (Palm Oil Mill)

 

Power and Lighting Circuits

All lighting and power circuits shall be in accordance wit single line diagram, as approved by Engineers. Any addition or deviations in

Lighting Main Building

Lighting Main Building

size, type or route shall be under permission in writing by Engineer. Power cables and wires shall be in compliance with the following specification:

All cable and wire inside buildings shall be of cooper conductor, PVC seated 600/1.000 volt grade insulation, having cross sectional area not less than 2.5 sq.mm and complying with Standard Industri Indonesia (SII). The cable shall be installed and protected mechanically and electrically as necessary in trenches, in conduits, in trays or in trunking. Number and size of cable in any trunking or conduit shall not exceed that given in the current editions of the IEE regulations of PUIL 1987. Cables shall be installed in such manner that it is possible to withdraw any number from the conduit or trunking without disturbing the remainder. Along all circuit shall be installed with earth continuity conductor with cross suction are as necessary. The protective conductor shall be PVC seated with double colour green and yellow.

All cable installed underground outside buildings shall be of cooper conductor having cross sectional are not less than 2.5 sq.mm. PVC seated to 600/1.000 volt insulation grade and armored. The cable shall be laid in trenches; bedding with fine sand compacted and covered with tiles along the route. The depth of the trench to the cable not less than 600 mm, and 900 mm if crossing any roads. At any turn of the cable routes are at every 50 m distant, shall be installed a concrete cable marker that exposed on the ground.

1. Lighting In the Building

Lighting arrangement in the mill and office buildings should be generally in accordance with the following illumination level specifications:

1. General lighting factory in the mill : 150 Lumen/sq. m

2. On task (instrument & machineries) in the mill: 500 lumen/sq. m.

3. Boiler room and power house: 150 lumen/sq.m. With colour corrected mercury vapour lamp.

4. Office (on task above 1 meter from finish floor level) : 1.000 lumen/sq.m.

5. Workshop: 300 lumen/sq.m.

6. Toilet block, mush olla and others: 300 lumen.sq.m.

2. Lighting Fitting in Office, Toilet Block and Musholla

Fluorescent lighting shall be generally installed in the office and other non industrial buildings. The fitting should be recessed ceiling mounted and equipped with reflector and luminance louver of anodized aluminium as made by Philip, Autholite or Europhane of France.

Lighting fitting for over out buildings should be of ceiling mounted with round or square opal methacry late diffuser, integrated control gear ad fully dust proof.

3. Lighting Fitting in The Mill and Workshop

Lighting mill workshop should be of fluorescent tubes mercury or sodium vapour lamp. The fitting should be of anticorrosive material, vibrating proof integrated control gear and in compliance with protection grade IP 54. Lighting for instrumentation and rotating machineries should be arranged to minimize stroboscopic effect.

4. Street and Fencing Lighting

Street and fencing lighting arrangement should be in accordance with the drawing PPD C 246-1/1. Illumination level on the road and fencing should be as following:

1. Average illumination level along the road not less than 20 lumen/sq.m.

2. Average illumination level along the fencing not less than 5 lumen/sq.m.

3. On unloading ramp not less than 300 lumen/sq.m.

Lighting should be of mercury or sodium vapour lamp as described on the drawing. The housing should be of anticorrosive material, weather proof with grade protection IP 65. Lighting fitting should be fixed on hexagonal, octagonal or circular steel lighting columns in cross section. The wall thickness not less than 5 mm galvanized and painted.

Each column shall be provided with a weather proof door with tamper proof locking device to give access to the base compartment. The same pattern lock shall be us for all columns. Door openings shall be to the minimum size consistent with access to the fused cut-out, cable terminations and control gear where fitted in the base compartment.

 

Related Post :

Main Switchboard (MSB)

Motor Control Centre (MCC) and Distribution Boards (DB)

Lightning Protection and Earthing