Pemurnian (Clarification)

Tujuan Utama

Di Pabrik Minyak Sawit, Minyak kasar yang diperoleh dari pengempaan, dibersihkan dari kotoran yang terutama berasal dari daging buah berupa bahan padat dan air.

Maksud dari pada pembersihan/pemurnian Minyak kasar adalah untuk memurnikan Minyak tersebut agar diperoleh mutu sebaik mungkin dan dapat dipasarkan dengan harga yang layak.

Untuk dapat memahami dengan baik tujuan dan hakekat dari pada pemurnian Minyak kasar, maka perlu dipelajari sifat-sifat “fisika-kimiawi” dari Minyak kasar tersebut.

Minyak kasar sebagai hasil pengempaan dapat diperinci sebagai berikut :

a.    Campuran Minyak dan Air

Campuran yang unsurnya (Air dan Minyak) terbagi tidak terlalu halus sehingga dengan cepat dan mudah kedua unsur itu dapat dipisah-pisahkan sesamanya.

Minyak yang sedemikian berasal dari :

  • Bejana pengaduk yang dipanaskan (Digester) yaitu minyak yang keluar sebelum proses pengempaan (Press).
  • Minyak yang keluar dari hasil pengempaan tahap awal dimana tekanan masih rendah.

Minyak dalam campuran ini disebut Minyak bebas karena boleh dikatakan tak mempunyai affinitas apapun dengan air yang mengelilinginya dan yang tercampur dengannya.

Minyak jenis ini bila dibiarkan akan segera memisah ditas lapisan air yang mengendap.

b.   Campuran homogen antara Butir Air dan Minyak

Campuran homogen antara Butir air dan minyak yang terbagi sangat halus. Dalam hal demikian kedua unsur merupakan emulsie yang sangat stabil.

Campuran semacam ini terutama berasal dari tahap terakhir pengempaan yaitu sisa-sisa zat cair dalam ampas yang ditekan dan dipaksakan mencari jalan keluar melalui celah-celah kecil dari dalam ampas pengempaan, sehingga terpecah/terurai menjadi butir-butir molekul dan minyak seakan-akan terhomogenisir didalam lingkungan air.

c.   Emulsi Air/Minyak

 Emulsi semacam ini boleh dikatakan tidak berarti didalam pemurnian minyak di Pabrik Minyak Sawit asalkan dapat dijamin viscositas yang layak (pada suhu 80ºC – 100ºC).

d.    Emulsie Minyak/Air

Jika de-integrasi minyak didalam air sedemikian jauhnya sehingga terjadi homogenisasi maka diperoleh suatu emulsi yang stabil, walaupun diketahui juga bahwa tanpa de-integrasi minyak dalam air yang intensif, akan dapat juga terbentuk emulsie yang stabil berkat adanya emulgator yang aktif.

Asam lemak, zat lendir dan serat halus  serta sisa-sisa sel merupakan emulgator ataupun stabilisator sehingga dapat terjadi emulsie yang hidup dan yang tak hidup.

Minyak kasar yang berasal dari pengempaan terdiri dari butir-butir minyak berbagai ukuran didalam lingkungan air. Air yang dimaksud bukan air murni dalam arti physis, tetapi Phase Disperse dari emulsie.

  • Butir-butir minyak itu menunjukkan gerak kepermukaan. Apabila medium pemisah antara butir-butir itu hilang, maka akan terjadi penggabungan butir kecil menjadi butir-butir yang lebih besar dan dengan demikian gerak kepermukaanpun menjadi dipercepat.
  • Gerak keatas dan penggabungan butir menjadi butir-butir besar adalah gerak kearah keseimbangan sehingga akhirnya terjadi lapisan minyak disebelah atas dan lapisan air bawahnya.
  • Mula-mula pemisahan kedua lapisan itu tidak jelas (kabur) ; butir-butir kecil air didalam lapisan minyak dan butir-butir kecil minyak dalam lingkungan air. Butir-butir air akan dapat mengendap masuk kedalam lingkungan air jika lapisan minyak cukup encer (BJ Air > BJ Minyak).
  • Butir-butir halus minyak lambat sekali bergerak keatas dan sebagian akan tetap berbentuk butir-butir yang halus sekali dan melayang didalam ligkungan air.
  • Emulgator-emulgator dengan muatan listriknya mencegah ataupun memperlambat penggabungan butir-butir halus minyak itu.
  • Butir-butir halus yang bermuatan listrik itu adalah merupakan emulsie yang hidup.
  • Emulsie yang tak hidup diakibatkan oleh gejala absorbsi yang timbul disebabkan adanya zat-zat organik seperti misalnya : sisa sel dan serat-serat halus yang berasal dari daging buah.
  • Dengan pengolahan pendahuluan (Sterilisasi) yang baik maka pengaruh zat-zat lendir dan lilin dari dalam daging buah dapat diperkecil.

Namun demikian tidak boleh diabaikan pengaruhnya sebagai emulgator dan terutama sebagai stabilisator jika zat-zat itu terdapat dalam fat pit meskipun dalam persentase yang rendah, karena mempersukar pemisahan minyak dari dalam fat pit.

Cara-cara untuk memperoleh & memisahkan minyak dari minyak kasar

Ada berbagai cara yang lazim dilakukan dalam pemurnian minyak kasar di pabrik minyak kelapa sawit yaitu :

  • Cara dengan pengendapan (Settling)                                                                                                                                                                           Pemisahan minyak dari minyak kasar terjadi/berlangsung karena pengendapan bagian yang berat (sludge + air) dan minyak yang terpisah berada dilapisan atas.
  • Cara dengan pemusingan (Centrifugal)                                                                                                                                                                        Dengan cara ini waktu pemisahan yang diperlukan menjadi lebih singkat karena bantuan tenaga centrifugal.
  • Cara dengan pengaruh biologis                                                                                                                                                                                              Cara ini adalah merupakan kelanjutan dari kedua cara tersebut diatas dan dilakukan pada proses pemisahan di fat pit atau Sludge Oil Recovery System.

Pada umumnya cara-cara tersebut diatas dilakukan secara tergabung ; baik gabungan dari ketiganya maupun dua dari ketiga cara.

 

Artikel Terkait :

 

Iklan

Pengempaan (Pressing)

Tujuan Utama

Tujuan utama dari proses pengempaan (Pressing) adalah mengeluarkan Minyak dari bubur buah yang telah diaduk. Secara umum pengambilan minyak nabati dari sumbunya disebut “ekstraksi minyak atau lemak.”

Pekerjaan ekstraksi minyak dapat dilakukan dengan cara :

  1. Ekstraksi Minyak (lemak) secara mekanis.
  2. Ekstraksi Minyak (lemak) secara Fisis.
  3. Ekstraksi Minyak (lemak) secara Mekanis dan fisis.
  4. Ekstraksi Minyak (lemak) secara Biologis.

Pada umumnya ekstraksi Minyak Kelapa Sawit dilakukan secara Mekanis yaitu dengan pengepressan atau pengempaan.

Dengan pengepressan atau pengempaan minyak yang ada pada bubur Buah Kelapa Sawit akan dibebaskan dari bubur buah dan terpisah dari serat dan biji Sawit.

Jenis alat kempa yang dikenal, yaitu :

  1. Kempa Hydraulik (Hydraulic Press)
  2. Kempa Ulir (Screw Press).

Kempa Ulir (Screw Press) dalam penggunaannya lebih menguntungkan dibandingkan dengan kempa Hydraulik (Hydraulic Press).

Keuntungan-keuntungan yang diperoleh antara lain :

  1. Bekerja secara kontinyu.
  2. Kapasitas Olahnya tinggi.
  3. Efisiensi pengempaan lebih tinggi (kehilangan Minyak kecil).
  4. Pemakaian tenaga (Operator) yang sedikit.

“Kelemahan Screw Press terutama adalah karena tingginya persentase biji yang pecah & kadang-kadang sulit untuk dimonitor secara visual”.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Pengempaan (Pressing) :

  1. Suhu air panas harus mencapai 90ºC.
  2.  Tekanan Press harus diatur sedemiian rupa agar kerugian minyak didalam ampas cukup rendah sedangkan sebaliknya biji-biji yang pecah atau hancur harus juga rendah.
  3.  Setiap Press harus distop dari pemakaian untuk direkondisi (Rebuilt) Screwnya setelah berjalan ± 500 jam.

Screw yang sudah aus melebihi 5 s/d 6 mm akan menyebabkan tingginya percentage biji pecah dan disamping itu akan juga mempercepat kerusakan Saringan Press (Press Cage).

Artikel Terkait :

Pemurnian (Clarification)

Process Flow Diagram Of Palm Oil Mill

 

Hal-hal yang Perlu Diketahui Selama Proses Pengadukan

Untuk pengertian praktis dibutuhkan pengetahuan mengenai hal-hal yang terjadi selama pengadukan yaitu :

  • Perusakan dari sel minyak
  • Pengeluaran minyak dari dalam ketel pengaduk
  • Pendidihan isi dari Ketel Pengaduk
  • Pengisian Ketel Pengaduk & pengaruhnya terhadap effek pengadukan

1. Perusakan sel-sel minyak

Karena gesekan yang timbul pada waktu pengadukan maka dinding sel (daging buah) yang mengandung minyak akan terkoyak/terusak sehingga minyak (bintik-bintik minyak) akan keluar dengan sendirinya atau sekurang-kurangnya dapat dengan mudah sekali dikeluarkan dari dalam sel pada proses pengempaan (Press).

Jika diambil ampas pengempaan dan diteliti sel-sel minyaknya dibawah Mikroskop, maka akan dapat dilihat bahwa sel minyak itu sebahagian besar hilang dan hanya pada beberapa bahagian saja masih kelihatan sedikit sisa minyak berbentuk bintik-bintik.

Apabila selama proses pengadukan minyak yang telah membebaskan diri dari selnya tersebut tidak segera dialirkan keluar dari dalam Ketel Pengaduk, maka masa yang sedang diaduk menjadi licin serta akan berakibat menurunnya effek pengadukan dan dengan demikian tidak dapat memenuhi apa yang diinginkan.

2. Pengeluaran minyak dari dalam pengaduk

Kecuali menurunkan effek pengadukan, seperti dijelaskan diatas maka minyak “bebas” yang tidak dikeluarkan dari dalam Ketel Pengaduk (Digester) akan membentuk emulsi dengan unsur lain yang terkandung dalam minyak kasar itu.

Minyak kasar ini terbentuk dari unsur-unsur :

  1. Non-fat (bahan bukan lemak) : terdiri dari serat-serat, sisa-sisa sel & bahan lain yang dapat larut.
  2. Cairan bukan minyak.
  3. Emulsi cairan bukan minyak dengan minyak.
  4. Emulsi minyak dengan cairan bukan minyak.
  5. Minyak.

Terutama emulsi tersebut (3) dan (4) adalah cairan yang tinggi sekali Viskositasnya yang dihasilkan oleh pengempaan pada tekanan tinggi.

Untuk menurunkan Viskositas dapt ditempuh beberapa cara, antara lain :

  • Menambah air panas kedalam Ketel Pengaduk tetapi hasilnya tidak memuaskan, malahan merugikan karena : effek pengadukan akan sangat menurun. Daging akan “tercuci” sehingga sel-sel tidak terpecah dan kandungan minyak didalamnya akan ikut terbawa bersama lumpur dan meningkatkan kerugian minyak didalam lumpur (Sludge).
  • Penambahan air panas pada minyak kasar hanya dilakukan pada proses pengempaan (Press).
  • Pengenceran Minyak kasar tersebut diperlukan terutama pada proses penyaringan dan pemisahan awal antara minyak dengan lumpur (Sludge) pada System Continous Settling Tank (Clarifier) di Station Clarification (Station Pemurnian Minyak).
  • Untuk memperoleh pengenceran yang dikehendaki diperlukan penambahan air panas yang tidak sedikit yaitu berkisar anatara 15% s/d 20% per ton TBS. Hal ini menyebabkan timbulnya pekerjaan extra pada Station Pemurnian Minyak.

3. Pemanasan Isi Ketel Pengaduk

Meskipun Minyak “bebas” didalm pengadukan telah dialirkan keluar dari dalam Ketel Pengaduk tetapi tetap masih akan terdapat sisa-sisa cairan yang karena pendidihan membentuk gelembung yang timbul bergerak kearah atas sambil membawa sisa cairan yang mengendap dibagian bawah dari Ketel Pengaduk, sehingga msa yang sudah menjadi lebih kesat akan encer kembali dan merugikan effek pengadukan.

Kecuali hal yang tersebut diatas itu maka gelembung pendidihan yang selaput tipisnya mengandung minyak, jika kemudian pecah, akan menyebabkan minyak yang semula sudah berhimpun akan terpencar kembali dalam bintik minyak yang sangat halus (terjadi emulsi).

Ketentuan dibawah ini adalah mutlak dan harus menjadi perhatian yaitu :

  • Jika Ketel Pengaduk terisi penuh maka tekanan yang ditimbulkan oleh beban berat isian itu sendiri mempertinggi gaya gesekan yang diperlukan untuk memperoleh hasil pengadukan yang optimal.
  • Jangka waktu pengadukan yang harus dialami oleh isi Ketel Pengaduk sebelum di Press juga merupakan faktor yang cukup penting untuk dapat memenuhi syarat-syarat pengadukan yang baik.
  • Semakin banyak isian suatu Ketel Pengaduk maka semakin lama buah akan teraduk sebelum dikempa, jadi gabungan dari kedua faktor : isian Ketel Pengaduk dan jangka waktu pengadukan harus diusahakan sedapat mungkin untuk dipenuhi secara simultan.

PENEBAH (THRESHING)

1. Pendahuluan

Sebagaimana telah diterangkan didalam bab proses perebusan, maka perebusan yang dilaksanakan menurut syarat-syarat optimal harus menghasilkan, antara lain :

  • Buah harus melepas atau sekurang-kurangnya mudah melepas dari tandannya.
  • Daging bush telah menjadi cukup lunak/lembek.

Pemipilan adalah proses yang segera menyusul setelah proses perebusan dan bertujuan melepaskan/mengeluarkan/memisahkan semua buah dari tandannya. Dalam proses pemipilan, walaupun telah dilakukan seefisien mungkin tetapi beberapa kerugian kadang-kadang masih juga dialami antara lain :

a. Didalam tandan yang dipipil kadang-kadang masih terdapat beberapa butir buah yang tidak dapat keluar, meskipun sudah terlepas dari tandannya.

b. Benturan-benturan yang terjadi terhadap tandan didalam alat Pemipil mengharuskan agar semua buah terlepas dan keluar dari tandannya, tetapi hal ini ternyata juga mengakibatkan kerusakan terhadap daging yang telah menjadi lembek karena perebusan.

Dengan menggunakan alat Pemipil yang tepat disertai cara penggunaannya yang baik, maka harus diusahakan agar tujuan pemipilan dapat terpenuhi semaksimal mungkin, yang berarti pemipilan dengan tingkat kerugian yang serendah mungkin dapat dicapai.

2.    Kerugian didalam proses pemipilan

Kerugian yang dimaksud dapat terjadi disebabkan :

  • Langsung oleh pemipilan
  • Tidak langsung oleh Pemipil (diluar pemipilan).

Hal ini dapat dibedakan sebagai berikut :

A. Kerugian minyak terserap oleh tandan kosong.

B. Kerugian Minyak didalam buah yang tidak terlepas/terpisah atau buah yang masih tertinggal didalam tandan.

Factor yang berpengaruh terhadap taraf kerugian ini adalah terutama :

  • Kriteria panen dan mutu buah yang diterima.
  • Metode/cara perebusan yang dilakukan
  • Model/jenis alat pemipil yang dipergunakan

Kerugian Kategori A

–     Didalam Bab Proses Perebusan telah diterangkan bahwa semakin tinggi taraf kematangan buah dan semakin lama waktu perebusan maka akan semakin besar kemungkinan bahwa minyak akan meleleh keluar dari daging buah selama perebusan karena daging telah menjadi terlalu lunak atau karena daging buah memang telah tidak utuh lagi sebelum perebusan ; umpamanya pada buah busuk atau pada tandan buah yang mengalami bantingan-bantingan berat yang menyebabkan buah dipermukaan tandan hancur/lumat dll.

Mudah dimengerti bahwa akibat dari gejala tersebut diatas maka Minyak meleleh terutama dari buah-buah yang hancur/lumat tadi dan terbawa keluar bersama air Kondensate Rebusan pada saat dilakukan pengurasan (Blow Down).

Sebagian dari Minyak ini akan terbuang bersama Kondensat, tetapi masih dapat diperoleh kembali sebagai minyak yang bermutu rendah pada proses pengutipan di Fat Pit, sedangkan sebahagian lagi akan terserap pada tandan dan ikut terbuang bersama tandan-tandan kosong pada proses pemipilan.

Kerugian tersebut diatas pada hakekatnya terjadi diluar pemipilan sehingga kurang tepat jika dipergunakan untuk menilai pekerjaan pemipilan tetapi sangat berpengaruh, sehingga harus mendapat perhatian cukup dalam penilaian kerugian minyak yang terserap oleh tandan kosong.

–     Kerusakan daging buah yang disebabkan oleh benturan-benturan selama pemipilan seperti diterangkan terdahulu, dapat berakibat penyerapan Minyak oleh tandan.

Kemungkinan ini tidak dapat dihindarkan akibatnya tetapi masih mugkin dikurangi yaitu dengan melakukan pengisian alat Pemipil (Stripper) secara teratur dan tidak berlebihan (Over Capacity) agar benturan antara tandan dengan buah-buah lepas yang rusak dagingnya tersebut menjadi lebih singkat waktunya.

Kerugian Kategori B

–     Pemuatan yang berlebihan pada alat Pemipil akan mengakibatkan menigkatnya kergian karena menurunnya effect bantingan/benturan terhadap tandan.

Bantingan yang cukup harus berakibat buah melepas dan keluar dari tandannya untuk kemudian keluar melalui kisi-kisi dari alat Pemipil.

–     Pemipilan yang kurang sempurna juga menyebabkan peningkatan kerugian karena buah tidak cukup terlepas dari tandannya sebagai akibat dari proses kimiawi physica yang tidak/kurang sempurna didalam perebusan.

Gejala ini akan lebih banyak dijumpai pada tandan yang berada pada taraf kematangan rendah (buah mentah,dll) dari pada buah yang cukup matang.

Untuk menghindari kerugian yang berkebihan maka tandan yang tidak cukup terpipil dimaksud diatas harus direbus kembal.

Pengulangan perebusan dan pemipilan berari penurunan Output dari instalasi (penurunan effisiensi dalam pekerjaan) juga memperbesar kerugian tersebut dalam kategori A.

Dengan perebusan yang cukup dan pemipilan yang baikpun kadang-kadang masih dijumpai tandan dengan gejala tersebut dalam (b) yaitu bahwa buah tidak dapat terlepas dari tandannya dan biasanya buah jenis ini disebut buah “abnormal”.

Perebusan dan pemipilan kembali buah abnormal tidak akan memberikan hasil, malahan sebaliknya memperbesar kerugian tersebut dalam kategori A dan menurunkan Output Instalasi (Penurunan efisiensi dalam pekerjaan).

Buah abnormal ini walaupun telah mengalami perebusan ulangan, ternyata masih saja sulit untuk melepas buah dari tandannya.

Kelainan dari buah tersebut adalah “penyakit” dan tidak dapat diatasi didalam Pabrik.

3.    Penelitian terhadap Proses Perebusan dan Proses Pemipilan

Untuk dapat mengetahui apakah proses perebusan dan pemipilan telah terlaksana dengan baik, maka tandan-tandan kosong yang keluar dari alat pemipil harus diteliti dan dianalisa.

Seorang petugas mengmati tandan kosong yang keluar dari alat Pemipil. Tandan yang kelihatan tidak cukup terpipil, dikeluarkan dari Conveyor tandan kosong dan dikumpulkan untuk kemudian direbus kembali (perebusan ulang).

Dengan mengambil ciontoh tandan kosong yang keluar dari Pemipilan maka dapat diteliti hal-hal sebagai berikut :

  • Banyaknya tandan kosong yang harus direbus ulang dalam satu hari. Hal ini dipakai dalam menghitung berkurangnya kapasitas PKS karena pekerjaan uklangan dan bila perlu mengadakan penyesuaian dan perobahan terhadap lamanya proses perebusan.
  • Jumlah buah yang masih terdapat didalam tandan kosong dianalisa secara teratur untuk dihitung besarnya kerugian yang timbul karena hal ini berhubungan dengan efisiensi/rendement PKS.
  • Pada selang waktu tertentu tandan kosong harus diambil untuk dianalisa Minyak yang terikut (terserap) didalam janjang kosong tersebut karena hal ini juga merupakan kerugian yang berhubungan dengan rendement Minyak yang dihasilkan.

Dari beberapa data tersebut maka akan diperoleh angka kerugian :

  1. Minyak didalam buah tertinggal
  2. Minyak didalam janjang kosong

Angka ini bersama dengan angka kerugian dibagian pengolahan yang lain akan memberikan gambaran mengenai rendement dari pengolahan dalam keseluruhan dan sangat penting untuk mengadakan perbaikan didalam pengolahan baik mengenai cara bekerja maupun mengenai peralatan pengolahan.

4.    Alat-alat Pemipil (Thresher)

Hingga kini hanya ada 2 type alat Pemipil yang lazim digunakan didalam Pabrik Minyak Kelapa Sawit, karena kedua type ini sajalah yang memberikan hasil pemipilan yang memuaskan (rational).

Kedua alat Pemipil itu ialah :

  • Pemipil dengan lengan pemukul (Beater Arm type)
  • Trommol Pemipil (Rotary Drum Type)

1. Pemipil dengan lengan pemukul (Beater Arm Type)

–     Alat type ini lazimnya digunakan pada Pabrik dengan kapasitas pengolahan yang terbatas = 4 – 5 ton TBS per jam.

–     Pemipilan dengan type ini pada dasarnya karena pemukulan tandan oleh lengan-lengan yang diikat pada sumbu (bersama) yang terpasang dibawah palung pemipilan sedemikian rupa sehingga ujung-ujung lengan itu yang menyelip diantara celah-celah palung pemipilan membentuk bangun spiral yang melingkari sumbu.

2. Trommol Pemipil (Rotary Drum Type)

–     Daya pemipilan dari type ini dapat mencapai 25 s/d 35 ton TBS/Jam. Trommol Pemipil berbentuk silinder yang dibangun dari batang-batang besi memanjang sepanjang Trommol yang terpasang endatar dan berpusing pada sumbu mendatar atau pada empat buah titik tumpu (Shaft Less).

–     Batang-batang besi yang berbentuk huruf “T” terpasang berantara sehingga buah dapat lolos diantara celah-celah keluar dari dalam Trommol selama pemipilan.

–     Garis tengah dari lingkaran silinder berkisar antara ± 2 meter dengan panjang Trommol berkisar 4 s/d 5 meter. Jika ruangan didalam Pabrik mengizinkan dianjurkan untuk memilih Trommol berukuran panjang.

–     Dasar dari pada pemipilan dengan Trommol Pemipil ini adalah sentakan yang ditimbulkan oleh bantingan yang dialami oleh tandan yang sedang dipipil.

Kedalam Trommol Pemipil yang sedang berpusing akan “melekat” pada dinding Trommol dan ikut berpusing/terangkat karena pengaruh gaya sentrifugal. Tandan ini kemudian terlepas dan jatuh membentur dinding Trommol karena pengaruh gaya gravitasi.

Demikian berulang kali selama pemipilan tandan terangkat dan jatuh.

Sentakan pada jatuhan itu menyebabkan buah rontok lepas/keluar dari tandannya untuk kemudian melalui celah diantara batang besi keluar dari Trommol pemipilan dan masuk kedalam Conveyor pengantar menuju Elevator.

–     Untuk memudahkan/memperlancar tandan bergerak keluar dari Trommol Pemipil dengan effect pemipilan yang optimal, dipasan Plate pada dinding sebelah dalam dari Trommol sedemikian rupa sehingga membentuk alur spiral.

Pemasangan plate dengan tepat penting artinya terutama jika tidak dapat dijamin sepenuhnya bahwa Trommol Pemipil dimuati secara teratur, untuk menghindarkan pencampuran tandan yang masih penuh dengan tandan yang sudah habis/hampir habis terpipil yang akan menjadi penyebab meningkatnya kerugian Minyak terserap dalam tandan kosong.

–     Kecepatan berpusing dari Trommol Pemipil harus ditentukan secara tepat untuk mencapai effect pemipilan yang optimal.

Tandan yang sedang dipipil tidak bileh hanya berguling saja pada bagian bawah dari dinding tetapi juga tidak boleh tetap ikut melekat pada dinding silinder yang berpusing.

Kecepatan berpusing harus sedemikian rupa sehingga praktis semua tandan yang sedang dipipil berulang kali terangkat setinggi mungkin pada dinding silinder, untuk kemudian jatuh: sebab dengan demikian baru akan diperoleh pemipilan yang dikehendaki.

Perawatan Rebusan

Dalam Perawatan, semua peralatan memerlukan perhatian.

Setiap Rebusan harus dibersihkan bahagian dalamnya minimal setiap 2 minggu untuk dilakukan pemeriksaan, perawatan dan perbaikan yang diperlukan.

Selain hal tersebut diatas, maka Perawatan routine yang harus dilakukan antara lain sebagai berikut :

–     Periksa kebocoran Pipa-pipa uap dan Pipa Kondensat secara rutin. Jika ada kebocoran agar segera dilas/ganti, sebab jika hal ini dibiarkan akan mengganggu proses Perebusan Buah (pemborosan uap) dan akan mengotori sekitar Stasiun Rebusan.

Setiap kebocoran agar segera dilas pada keesokan harinya pada saat Rebusan Dingin. Kawat las yang digunakan adalah : Philips PH 36 S atau Equivalent.

Untuk mengetahui apakah perbaikan sudah baik dan tidak ada lagi bahagian lain yang masih bocor, maka perlu diadakan pemadatan dengan air dingin bertekanan Max. 2 Kg/Cm2. Apabila masih terdapat kebocoran segera lakukan pengelasan ulang.

–     Safety Valve (katup pengaman) yang terdapat pada Rebusan agar diperiksa setiap bulan apakah bekerjanya masih akurat.

Bila diperlukan (kalau ada kebocoran) maka katup dan tempat kedudukannya harus dibersihkan dan di-Skur, untuk kemudian dilakukan penyetelan ulang terhadap kepegasan dari per (spring) yang menekan katup tersebut.

Penyetelan-penyetelan semacam ini tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, melainkan oleh seorang tukang yang cukup berpengalaman dan dibawah pengawasan salah seorang “Staff”.

Selanjutnya pada safety Valve dipasang Segel atau Seal kembali dan siapapun dilarang membuka Segel atau Seal tersebut tanpa izin dari Mill Manager.

 

Pemeriksaan Sebelum Rebusan Dioperasikan

Rebusan adalah merupakan suatu bejana uap bertekanan yang bekerja dengan tingkat resiko yang tinggi.

Oleh karena itu maka rebusan dan unit pendukungnya harus diperiksa sebelum dioperasikan.

Hal-hal yang perlu diperiksa antara lain :

–          Packing Pintu

Kerusakan pada Packing Pintu biasanga timbul pada bahagian bawah, hal ini disebabkan adanya genangan Air Kondensat.

Untuk itu kebocoran Packing Pintu terutama pada bahagian bawah harus benar-benar diperiksa. Jika hal ini terjadi segera lakukan penggantian.

–          Manometer (Alat Pengukur Tekanan)

Manometer yang terdapat pada bahagian atas pintu muka/belakang harus diperiksa apakah masih berfungsi atau tidak, sebab Manometer ini adalah sebagai alat Indikator bagi Operator untuk menentukan apakah tekanan dalam Rebusan masih ada atau tidak.

Seluruh Valve, seperti Valve pemasukan/pengeluaran, Valve Kondensat harus diperiksa apakah berfungsi atau tidak. Untuk yang menggunakan Valve Automatic pemeriksaan dilakukan dengan mengoperasikan Compressor, sedangkan untuk yang menggunakan sistem manual pemeriksaan dilakukan dengan cara memutar Valve dengan tangan.

–          Plate Penyaring Kondensat

Penyaring Kondensat yang terdapat pada lantai dalam Rebusan harus diperiksa apakah ada Brondolan yang sangkut, sebab jika hal ini diabaikan dapat menghambat pengeluaran Air Kondensat pada saat pengoperasian.

Genangan Air Kondensat ini akan mempercepat rusaknya Packing Pintu.

–          Katup Pengaman

Periksa Mekanisme dari katup pengaman (Safety Valve) apakah sudah berfungsi baik.

–          Cantilever (Jembatan untuk keluar/masuk lorry rebusan)

Periksa apakah cantilever dalam keadaan baik dan tidak “Baling” (Twisted). Hal ini harus benar-benar diperhatikan agar lorry yang masuk/keluar dari Rebusan tidak terganggu (jatuh).

–          Condensat Pit Pump (Pompa air kondensat)

Periksa apakah pompa dapat beroperasi dengan baik dan normal.

Catatan :

Kepada para operator Rebusan perlu dijelaskan dan ditekankan bahwa :

“DILARANG KERAS” membuka pintu Rebusan sebelum tekanan pada Manometer menunjukkan angka Nol Kg/Cm2, karena hal ini dapat berakibat fatal dan mencelakakan Operator itu sendiri disamping merusak Packing dan pintu Rebusan.

Cara Perebusan

Dalam menetapkan waktu untuk satu siklus perebusan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :

–          Tekanan uap Rebusan (maksimum setiap puncak).

–          Menguras atau mengeluarkan udara dari dalam Rebusan.

–          Waktu merebus (memperoleh suhu yang baik dalam tandan).

–          Kebutuhan Uap.

–          Kapasitas Rebusan.

1. Tekanan Uap Rebusan

Dalam pengalamam bahwa untuk merebus dengan tekanan uap 3 bars (3,060 kg/cm2) selama 25 menit akan memberikan hasil perebusan yang sama jika tandan buah direbus dengan tekanan uap 1,5 bars selama 55 menit.

Tujuan dari pada pemakaian tekanan uap tinggi ialah untuk menghemat waktu, meskipun diketahui ada batasnya.

Tekanan uap tinggi dengan sendirinya memberikan suhu yang tinggi dan suhu yang tinggi dapat merusak kwalitas dari Minyak Sawit dan Inti Sawit. Pada Minyak Sawit harus diperhatikan tingkat pemucatannya, sedang untuk Inti Sawit harus dihasilkan warna Inti dalam yang putih.

Setelah diadakan beberapa kali percobaan perebusan buah, maka hasil perebusan dengan tekanan uap 2,8 kg/cm2 dengan total waktu 80 s/d 90 menit dinilai cukup memuaskan.

2. Menguras

Sebelum dapat mengeluarkan udara dari sela-sela tandan buah, perlu sekali untuk terlebih dahulu menguras udara yang berada disekitar tandan dan yang mengisi ruang kosong Ketel Rebusan.

Pengurasan udara pertama adalah saat bermulanya perebusan tandan buah. Uap dimasukkan melalui kran pemasukan (Inlet Valve) sementara kran pengeluaran tetap terbuka. Uap yang masuk telah memungkinkan mendorong udara keluar dan tekanan dalam Ketel Rebusan dibuat serendah mungkin kira-kira hanya sekitar 0,1 – 0,2 kg/cm2.

Untuk memberikan hasil kerja yang lebih memuaskan, pipa pemasukan uap dibagian atas Ketel Rebusan, dilengkapi dengan pelat pembagi uap (Steam Distribution Plate) dan pipa pengeluaran (Blow Down Pipe) dilengkapi dengan Plate berlobang (saringan) untuk penahan buah dan kotoran agar tidak mengganggu bekerjanya kran-kran pembuangan.

3. Waktu Merebus

Untuk menguras udara keluar dari sela-sela tandan buah dipergunakan dua puncak pengurasan yang dengan cepat dapat menurunkan tekanan didalam Bejana dari 2,3 – 2,5 kg/cm2 menjadi nol kg/cm2.

Setelah tahap kedua pengurasan selesai, uap dimasukkan lagi untuk puncak ketiga sampai tekanan dalam Rebusan mencapai 2,8 kg/cm2. Selanjutnya buah yang berada didalam Rebusan dibiarkan berada dibawah pengaruh tekanan uap selama beberapa waktu sesuai kebutuhan.

Lamanya buah dibawah tekanan uap ini berkisar antara 35 s/d 43 menit tergantung dari kwalitas dan kondisi buah.

Untuk jelasnya dibawah ini digambarkan Kurva Tekanan Uap pada Bejana Rebusan tersebut sebagai berikut :

kurva perebusan

kurva perebusan

Tata cara yang harus dilakukan untuk memperoleh perebusan normal yang dilakukan secara manual adalah sebagai berikut :

– 13 menit pemasukan uap pertama dari 0 – 2,3 kg/cm2 sudah    termasuk menguras udara 2 menit.

– 2      menit pembuangan uap pertama sampai nol.

– 12   menit pemasukan uap kedua kali sampai 2,5 kg/cm2.

– 2      menit pembuangan uap kedua kali sampai nol.

– 13   enit pemasukan uap ketiga kali sampai tekanan 2,8 kg/cm2.

– 43   menit uap ditahan setelah mencapai tekanan 2,8 kg/cm2.

– 5         menit pembuangan akhir uap/air yang masih tinggal sampai tekanan menjadi nol kg/cm2.

4. Kebutuhan Uap

Kebutuhan pemakaian uap selama perebusan dan pengolahan dapat dinyatakan sebagai berikut : rata-rata kebutuhan uap untuk pengolahan dan perebusan ialah 450 kg per ton TBS, yang dapat diperinci 270 kg uap untuk perebusan dan 180 kg uap untuk proses pengolahan lainnya.

Kebutuhan uap untuk mencapai puncak setiap cyclus perebusan membutuhkan uap yang berlainan sekali, meskipun rata-rata untuk perebusan 270 kg uap per ton TBS. Dari hasil percobaan ternyata bahwa untuk mencapai puncak dibutuhkan ± 800 kg uap per ton TBS.

Penggunaan uap yang besar ini, relatif singkat berkisar 3-4 menit, tetapi pada saat tertentu bisa juga mencapai 6-10 menit tergantung dari tekanan uap yang tersedia.

5. Kapasitas Rebusan

Perebusan adalah langkah awal suatu proses pengolahan Kelapa Sawit, dan untuk itu perlu dihitung secara pasti berapa unit Bejana Rebusan yang dibutuhkan untuk suatu Pabrik sesuai kapasitas yang diinginkan.

Sebagai contoh akan dihitung kebutuhan Rebusan untuk suatu Pabrik dengan kapasitas 45 ton FFB/jam, sebagai berikut :

Ditentukan bahwan Rebusan yang akan digunakan adalah dengan diameter 2100 mm x 30.000 mm panjang dengan isi lori 10 buah @ 2.750 kg/lori, atau 27,5 ton sekali isi.

Apabila :

Cyclus perebusan adalah 100 menit (termasuk buka dan tutup pintu Rebusan) maka kebutuhan unit Rebusan untuk PKS kapasitas 45 ton FFB/jam adalah :

Kebutuhan Rebusan =  (Kap. PKS x Cyclus perebusan dalam menit)/(Isi Rebusan x 60 menit)

Atau (45  x 100)/(27.5 x 60) = 2,73 unit rebusan

Dibulatkan menjadi 3 unit rebusan