Hal-hal yang Perlu Diketahui Selama Proses Pengadukan

Untuk pengertian praktis dibutuhkan pengetahuan mengenai hal-hal yang terjadi selama pengadukan yaitu :

  • Perusakan dari sel minyak
  • Pengeluaran minyak dari dalam ketel pengaduk
  • Pendidihan isi dari Ketel Pengaduk
  • Pengisian Ketel Pengaduk & pengaruhnya terhadap effek pengadukan

1. Perusakan sel-sel minyak

Karena gesekan yang timbul pada waktu pengadukan maka dinding sel (daging buah) yang mengandung minyak akan terkoyak/terusak sehingga minyak (bintik-bintik minyak) akan keluar dengan sendirinya atau sekurang-kurangnya dapat dengan mudah sekali dikeluarkan dari dalam sel pada proses pengempaan (Press).

Jika diambil ampas pengempaan dan diteliti sel-sel minyaknya dibawah Mikroskop, maka akan dapat dilihat bahwa sel minyak itu sebahagian besar hilang dan hanya pada beberapa bahagian saja masih kelihatan sedikit sisa minyak berbentuk bintik-bintik.

Apabila selama proses pengadukan minyak yang telah membebaskan diri dari selnya tersebut tidak segera dialirkan keluar dari dalam Ketel Pengaduk, maka masa yang sedang diaduk menjadi licin serta akan berakibat menurunnya effek pengadukan dan dengan demikian tidak dapat memenuhi apa yang diinginkan.

2. Pengeluaran minyak dari dalam pengaduk

Kecuali menurunkan effek pengadukan, seperti dijelaskan diatas maka minyak “bebas” yang tidak dikeluarkan dari dalam Ketel Pengaduk (Digester) akan membentuk emulsi dengan unsur lain yang terkandung dalam minyak kasar itu.

Minyak kasar ini terbentuk dari unsur-unsur :

  1. Non-fat (bahan bukan lemak) : terdiri dari serat-serat, sisa-sisa sel & bahan lain yang dapat larut.
  2. Cairan bukan minyak.
  3. Emulsi cairan bukan minyak dengan minyak.
  4. Emulsi minyak dengan cairan bukan minyak.
  5. Minyak.

Terutama emulsi tersebut (3) dan (4) adalah cairan yang tinggi sekali Viskositasnya yang dihasilkan oleh pengempaan pada tekanan tinggi.

Untuk menurunkan Viskositas dapt ditempuh beberapa cara, antara lain :

  • Menambah air panas kedalam Ketel Pengaduk tetapi hasilnya tidak memuaskan, malahan merugikan karena : effek pengadukan akan sangat menurun. Daging akan “tercuci” sehingga sel-sel tidak terpecah dan kandungan minyak didalamnya akan ikut terbawa bersama lumpur dan meningkatkan kerugian minyak didalam lumpur (Sludge).
  • Penambahan air panas pada minyak kasar hanya dilakukan pada proses pengempaan (Press).
  • Pengenceran Minyak kasar tersebut diperlukan terutama pada proses penyaringan dan pemisahan awal antara minyak dengan lumpur (Sludge) pada System Continous Settling Tank (Clarifier) di Station Clarification (Station Pemurnian Minyak).
  • Untuk memperoleh pengenceran yang dikehendaki diperlukan penambahan air panas yang tidak sedikit yaitu berkisar anatara 15% s/d 20% per ton TBS. Hal ini menyebabkan timbulnya pekerjaan extra pada Station Pemurnian Minyak.

3. Pemanasan Isi Ketel Pengaduk

Meskipun Minyak “bebas” didalm pengadukan telah dialirkan keluar dari dalam Ketel Pengaduk tetapi tetap masih akan terdapat sisa-sisa cairan yang karena pendidihan membentuk gelembung yang timbul bergerak kearah atas sambil membawa sisa cairan yang mengendap dibagian bawah dari Ketel Pengaduk, sehingga msa yang sudah menjadi lebih kesat akan encer kembali dan merugikan effek pengadukan.

Kecuali hal yang tersebut diatas itu maka gelembung pendidihan yang selaput tipisnya mengandung minyak, jika kemudian pecah, akan menyebabkan minyak yang semula sudah berhimpun akan terpencar kembali dalam bintik minyak yang sangat halus (terjadi emulsi).

Ketentuan dibawah ini adalah mutlak dan harus menjadi perhatian yaitu :

  • Jika Ketel Pengaduk terisi penuh maka tekanan yang ditimbulkan oleh beban berat isian itu sendiri mempertinggi gaya gesekan yang diperlukan untuk memperoleh hasil pengadukan yang optimal.
  • Jangka waktu pengadukan yang harus dialami oleh isi Ketel Pengaduk sebelum di Press juga merupakan faktor yang cukup penting untuk dapat memenuhi syarat-syarat pengadukan yang baik.
  • Semakin banyak isian suatu Ketel Pengaduk maka semakin lama buah akan teraduk sebelum dikempa, jadi gabungan dari kedua faktor : isian Ketel Pengaduk dan jangka waktu pengadukan harus diusahakan sedapat mungkin untuk dipenuhi secara simultan.

PENGADUKAN

Pendahuluan

Proses pengadukan yang harus dijalani oleh buah (daging buah) untuk memperoleh minyak secara rational adalah proses yang cukup penting, sebab proses pengadukan yang sempurna (baik) akan menghasilkan minyak yang optimal.

Untuk tujuan itu diperlukan pengertian mengenai daging buah dan susunannya.

Secara global maka buah kelapa sawit terdiri dari :

–          Daging buah

–          Cangkang Biji

–          Inti biji

Tebal daging buah, dari buah yang cukup baik (normal), berkisar antara 2 s/d 8 mm sesuai dengan jenis buah.

Daging buah ini terdiri dari sel-sel yang mengandung minyak, serabut dan bahan pengikat (semen).

Sel-sel yang mengandung minyak mempunyai dinding yang tipis dan boleh dikatakan terisi sepenuhnya oleh minyak yang berbentuk bintik-bintik.

Serabut yang tersusun memanjang dari pangkal kearah ujung buah melingkungi daging buah. Bahan pengikat (semen) yang mempunyai sifat seperti Pectine, mengikat sel-sel antara sesamanya dan juga mengikat serabut sehingga terbentuk suatu ikatan atau dalam hal ini kita sebut daging buah.

Analoginya adalah beton bertulang :

–          Kerikil = sel-sel.

–          Kerangka besi beton = serabut.

–          Semen/Specie = bahan pengikat/Pectine.

Untuk lebih memahami gejala-gejala yang terjadi didalam proses pengadukan (peremasan) perlu diketahui hal-hal sebagai berikut :

  1. Suatu potongan/irisan yang tidak terlalu tipis dari buah yang matang dan masih segar yang dicelupkan kedalam air dingin, tidak akan mengalami perobahan apapun.
  2. Irisan seperti tersebutdalam (a), setelah dicelupkan beberapa saat kedalam air panas (90ºC – 100ºC) akan terurai. Ikatan antar sel terputus dan sel atau gugusan sel akan bercerai-berai dengan bintik-bintik minyak didalamnya.
  3. Jika percobaan (b) dilakukan dengan risan daging buah yang telah direbus, maka hasilnya akan sama tetapi penguraian daging buah akan lebih cepat terjadi.
  4. Pada serabut yang dikeluarkan dari dalam daging buah matang yang segar akan terdapat sel-sel yang mengandung minyak, yang melekat padanya dan tidak dapat dilepaskan dari serabut dengan mencelupkannya kedalam air dingin.
  5. Sel-sel tersebut diatas akan melepas dari serabut jika dilakukan pencelupan kedalam air panas.

Dari hal tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa semen yang mengikat sel-sel kepada sesamanya dan kepada serabut akan larut dalam air panas karena sifatnya yang seperti Pectine untuk kemudian berobah menjadi Peclos yang larut dalam air panas.

Didalam buah, perobahan ini berlangsung selama proses pematangan.

Demikian juga halnya dengan serabut dan sel minyak yang terikat pada batok/cangkang biji oleh semen yang sama seperti tersebut diatas.

Mudahlah sekarang untuk dimengerti bahwa karena pengaruh perebusan (panasnya uap) maka ikatan antar sel, serabut dan batok biji menjadi lemah sekali.

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan tindakan apa yang perlu dilaksanakan untuk mencapai effect pengadukan yang seting-tingginya dan berguna untuk mendapatkan minyak yang semaksimal mungkin.

Tujuan Utama Proses Pengadukan

Proses pengadukan bertujuan memudahkan pekerjaan pengempaab sehingga minyak dengan mudah dapat dipisahkan dari daging buah dengan tingkat kerugian yang sekecil-kecilnya.

Untuk mencapai tujuan itu perlu dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Pengadukan harus menghasilkan peremasan yang optimal sehingga daging buah terlepas seluruhnya dari bijinya; tidak boleh terdapat buah yang amsih utuh (daging buah masih melekat pada bijinya).
  2. Pengadukan harus menghasilkan masa yang merata (Homogen) dan biji tidak boleh memisah dari masa untuk kemudian turun kebagian bawah Ketel Pengaduk.
  3. Daging buah tidak boleh teremas lumat menjadi bubur, struktur serabut dari daging buah harus masih tampak.
  4. Minyak kasar yang keluar dari daging buah selama pengadukan harus dialirkan keluar dari Bejana pengadukan untuk menghindarkan pembentukkan emulsi.
  5. Pemanasan 95ºC selama proses pengadukan diperlukan untuk mempertinggi effect pengempaan Pemanasan tidak boleh mengakibatkan masa yang teraduk menjadi mendidih dan untuk itu suhu harus dapat diatur dan diukur.

Penelitian terhadap syarat-syarat tersebut diatas penting sekali karena sebagian besar didasarkan kepada penglihatan, ump : pengamatan “Massa” yang keluar dari Bejana pengadukan menuju Press melalui talang yang dilengkapi kaca atau Fibre Glass yang transparant.

Kerugian Minyak yang tertinggal didalam ampas Pressan dapat diteliti, tetapi penelitian itu tidak selalu dapat digunakan untuk menilai proses pengadukan sebab faktor lain (diluar proses pengadukan) juga sangat berpengaruh pada kegiatan itu, antara lain tingkat kematangan dari buah yang diolah serta proses perebusan.

Penelitian yang lebih cermat akan memerlukan waktu penelitian yang tidak sedikit sehingga tidak mungkin dapat dilakukan didalam waktu singkat.