Analisa Risiko Dan Pemilihan Jenis Kontrak

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kota Surabaya adalah ibu kota Provinsi Jawa Timur sekaligus menjadi kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Menjadi pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di Jawa Timur serta wilayah Indonesia bagian timur. Hal ini membawa konsekuensi logis tingginya urbanisasi dan tuntutan ketersediaan pemukiman dan hunian yang layak. Terbatasnya ketersediaan lahan dan mahalnya harga tanah menjadi kendala utama pengembang dalam menyediakan perumahan yang terjangkau bagi masyarakat kelas menengah kebawah. Hal ini menjadi pertimbangan sehingga pengembang perumahan di Surabaya tidak lagi horizontal yang memakan banyak lahan tetapi mengarah kehunian vertikal, kalaupun pilih landed, terpaksa jauh dari pusat Surabaya.

Pemerintah Kota Surabaya berkomitmen memudahkan izin bisnis properti bagi para pengembang yang ingin berinvestasi di Kota Pahlawan. Komitmen tersebut akan diwujudkan melalui penerbitan Peraturan Wali Kota, yang di antaranya menyederhanakan proses perizinan sehingga menghemat waktu dan biaya. Jika sebelumnya proses terbitnya Izin Mendirikan Bangunan atau IMB bisa memakan waktu dua tahun atau lebih menjadi selama enam bulan. Proses perizinan yang harus satu persatu, mulai dari Surat Keterangan Rencana Kota (SKRK), Upaya Kelola Lingkungan-Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL), hingga berbagai jenis Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dapat dilakukan secara bersamaan.

Kebutuhan apartemen di Surabaya sangat tinggi, terutama untuk kelas menengah dan menengah ke bawah. Apalagi, tidak mudah untuk mendapatkan hunian tapak dengan harga terjangkau. Sehingga banyak sekali di bangun Apartemen dan Komplek Pertokoan Central Business District (CBD) dengan konsep superblok. Kombinasi antara hunian, perkantoran, ruko dan mall.

1.2. Batasan Masalah

Terdapat banyak hal yang dipertimbangkan dalam menyepakati kontrak. Aspek hukum , teknis , keuangan , perpajakan , asuransi , sosial ekonomi dan Administrasi adalah aspek-aspek yang ditinjau dalam pelaksanaan kontrak konstruksi. Tentu dalam pelaksanaan kontrak dengan banyak aspek yang dipertimbangkan , ada risiko-risiko yang dapat mengancam , bahkan membatalkan kontrak yang dibuat.

Penulisan makalah ini fokus pada pembahasan proses pemilihan kontrak pada proyek kontruksi Pembangunan Struktur, Arsitektur, Mekanikal Elektrikal & Plumbing Apartemen Dan Ruko XXX Surabaya.

Melakukan analisis terkait resiko proyek dan dengan memperhatikan alokasi resiko-resiko tersebut kemudian merekomendasikan bentuk kontrak berdasarkan delivery method dan cara perhitungan biaya (fixed lump sum/fixed unit rate/cost+fee/turn-key).

1.3. Data Proyek

Terlampir.

 

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kontrak Kerja Konstruksi

Definisi kontrak menurut PMBOK adalah dokumen yang mengikat pembeli dan penjual secara hukum. Kontrak merupakan persetujuan yang mengikat penjual dan penyedia jasa, barang, maupun suatu hasil, dan mengikat pembeli untuk menyediakan uang atau pertimbangan lain yang berharga.Kontrak berarti Perjanjian Kontrak (Contract Agreement), Surat Penunjukan (Letter of Acceptance), Surat Penawaran (Letter of Tender), Persyaratan (Conditions), Spesifikasi (Spesifications), Gambar-gambar (Drawings), Jadual/Daftar (Schedules), dan dokumen lain (bila ada) yang tercantum dalam perjanjian kontrak atau dalam Surat Penunjukan (FIDIC Edisi 2006). UU Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 tentang jasa konstruksi dijelaskan bahwa kontrak kerja konstruksi merupakan keseluruhan dokumen yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi.Kontrak kerja konstruksi adalah juga kontrak bisinis yang merupakan suatu perjanjian dalam bentuk tertulis dimana substansi yang disetujui oleh para pihak yang terikat di dalamnya terdapat tindakan-tindakan yang bermuatan bisnis. Sedangkan yang dimaksud bisnis adalah tindakan yang mempunyai aspek komersial. Dengan demikian kontrak kerja konstruksi yang juga merupakan kontrak bisnis adalah perjanjian tertulis antara dua atau lebih pihak yang mempunyai nilai komersial (Hikmahanto Juwana, 2001).

 

2.2.      Jenis- Jenis Kontrak

Pemilihan jenis kontrak yang sesuai untuk suatu proyek konstruksi lebih didasarkan pada karakteristik dan kondisi proyek. Tiga jenis kontrak pada proyek konstruksi berdasarkan perhitungan biaya adalah

  1. Kontrak Harga Satuan (Unit Price Contract)

Dalam menggunakan kontrak jenis ini, kontraktor hanya menentukan harga satuan pekerjaan. Kontraktor perlu memperhitungkan semua biaya yang mungkin dikeluarkan pada item penawarannya, seperti biaya overhead dan keuntungan. Jenis kontrak ini digunakan jika kuantitas aktual masing-masing item pekerjaan sulit untuk diestimasi secara akurat sebelum proyek dimulai. Untuk menentukan kuantitas pekerjaan yang sesungguhnya, dilakukan pengukuran (opname) bersama pemilik dan kontraktor terhadap kuantitas terpasang. Kelemahan dari penggunaan kontrak jenis ini, yaitu pemilik tidak dapat mengetahui secara pasti biaya aktual proyek hingga proyek itu selesai.

2. Kontrak Biaya Plus Jasa (Cost Plus Fee Contract)

Pada kontrak jenis ini, kontraktor akan menerima pembayaran atas pengeluarannya, ditambah dengan biaya untuk overhead dan keuntungan. Besarnya biaya overhead dan keuntungan, umumnya didasarkan atas persentase biaya yang dikeluarkan kontraktor.Kontrak jenis ini umumnya digunakan jika biaya aktual dari proyek belum bisa diestimasi secara akurat, karena perencanaan belum selesai, proyek tidak dapat digambarkan secara akurat, proyek harus diselesaikan dalam waktu singkat, sementara rencana dan spesifikasi belum dapat diselesaikan. Kekurangan dari kontrak jenis ini, yaitu pemilik tidak dapat mengetahui biaya aktual proyek yang akan dilaksanakan.

3. Cost Plus Fix Fee Contract

Kontrak ini jumlah fee ditetapkan secara pasti tanpa melihat besarnya biaya fisik yang dikeluarkan. Kontrak ini dapat diterapkan bila pekerjaan sudah dirumuskan secara garis besar dan jelas.

4. Kontrak Biaya Menyeluruh (Lump Sum Contract)

Kontrak ini menyatakan bahwa kontraktor akan melaksanakan proyek sesuai dengan rancangan biaya tertentu. Jika terjadi perubahan dalam kontrak, perlu dilakukan negosiasi antara pemilik dan kontraktor untuk menetapkan besarnya pembayaran (tambah atau kurang) yang akan diberikan kepada kontraktor terhadap perubahan tersebut. Kontrak ini dapat diterapkan jika perencanaan benar-benar telah selesai, sehingga kontraktor dapat melakukan estimasi kuantitas secara akurat. Pemilik dengan anggaran terbatas akan memilih jenis kontrak ini, karena merupakan satu-satunya jenis kontrak yang memberi nilai pasti terhadap biaya yang akan dikeluarkan.

 

Setiap proyek melalui suatu daur hidup proyek. Sistem pelaksanaan seluruh tahapan yang terkait dengan pihak-pihak yang akan terlibat dalam setiap tahapan disebut project delivery system (PDS) atau sistem pelaksanaan proyek. Pemilik proyek di hadapkan pada pilihan untuk menetapkan PDSdengan pertimbanganPengalaman, kebiasaan, Saran konsultan, Sumber dan kendala pembiayaan, Penggunaan sumber daya yang dimiliki dan keinginanstakeholder dari proyek.

Jenis kontrak proyek berdasarkan delivery method adalah :

  1. General Contracting.

Pada sistem ini owner hanya memberikan desain kepada general contractor (Main Contractor) yang berfungsi sebagai construction manager untuk mengkoordinasikan beberapasub-kontraktor.

2. Design and Build.

Pada sistem ini pekerjaan desain dan konstruksidiserahkan kepada perusahaan. Perusahaan yang ditunjuk dapat mengerjakan proyek dan pekerjaannya sendiri atau mengalihkan sebagian pekerjaannya pada sub contractor. Untuk bangunan industri seperti pabrik dan power plant dikenal istilah yang mirip dengan DB, yaitu Engineering, Procurement, Construction (EPC). Dalam EPC satu entitas bertugas untuk melakukan kegiatan perancangan engineering, pembelian bahan dan alat, serta melakukan pelaksanaan konstruksi.

3. Construction Management.

Pada sistem ini proses desain dan pembuatan jadwal ditangani oleh konsultan. Pemilihan suatu kontraktor dilakukan secara langsung oleh klien. Kontraktor yang dipilih dapat lebih dari satu, jadi dalam satu proyek bisa terdapat beberapakontraktor. Untuk mengkoordinasikan para kontraktor tersebut, maka klien mengangkat sebuah tim manajemenkonstruksi.

4. Management Contracting.

Pada sistem ini klien menyerahkan tugas desain kepada konsultan yang juga bertindak sebagai pengawas jalannya proyek.

5. Swakelola (owner-provided)

Swakelola dilakukan jika lingkup pekerjaan sesuai dengan keahlian, pengalaman, dan sumber daya yang dimiliki oleh owner. Swakelola bias dilakukan baik untuk perancangan maupun pelaksanaan. Owner dapat menambahkan sumber daya pada bagian perancangan dari seorang ahli perancangan. Owner dapat pula berlaku sebagai general contractor yang mengelola beberapa sub-kontraktor. Dalam hal ini owner harus memiliki ijin praktek dan juga sertifikat yang memadai. Contoh: Bina Marga melakukan swakelola untuk pekerjaan pemeliharaan jalan dan jembatan.

 

2.3.      Manajemen Risiko

Setiap proyek konstruksi pada dasarnya melibatkan risiko yang tidak dapat dihindari dari berbagai jenis. Walaupun telah dianalisis dan diklasifikasikan, tetapi analisis awal kadang jarang terjadi. Biasanya, spektrum yang luas dari risiko berkurang untuk beberapa kategori, seperti waktu, biaya, kinerja / kualitas, kesehatan dan keselamatan bahkan mungkin resiko lingkungan. Contoh-contoh berikut ini merangkum banyak risiko (berdasarkan Abrahamson 1984, Buni 1985), antara lain Manajemen, pengarahan dan pengawasan, Fhysical work, Delay dan perselisihan, Kerusakan dan cedera dan property, Faktor eksternal, Pembayaran, Hukum dan arbitrase

 

2.4.      Analisa Risiko

Secara sederhana, analisis resiko atau risk analysis dapat diartikan sebagai sebuah prosedur untuk mengenali satu ancaman dan kerentanan, kemudian menganalisanya untuk memastikan hasil pembongkaran, dan menyoroti bagaimana dampak-dampak yang ditimbulkan dapat dihilangkan atau dikurangi. Analisis resiko juga dipahami sebagai sebuah proses untuk menentukan pengamanan macam apa yang cocok atau layak untuk sebuah sistem atau lingkungan (ISO 1799, “An Introduction To Risk Analysis”, 2012).

Pengertian Analisa risiko kuantitatif menurut Santosa (2009) adalah salah satu metode untuk mengidentifikasi risiko kemungkinan kerusakan atau kegagalan sistem dan memprediksi besarnya kerugian. Dalam menganalisa risiko kuantitatif, dilakukan perhitungan antara probabilitas kejadian dengan dampak. Hal tersebut dapat dilihat pada rumus dibawah ini :

Tingkat kepentingan risiko = probabilitas x dampak        ……………………………(1)

Sedangkan untuk mengurutkan risiko yang merupakan perkalian antara frekuensi dengan dampak dimulai dari yang terbesar sampai yang terkecil.

Indeks risiko dirumuskan oleh Sonhadji (2011) berdasarkan probabilitas dan dampaknya. Probabilitas adalah banyaknya kemungkinan terjadinya risiko. Probabilitas dapat didasarkan pada analisis statistik atau didasarkan pada frekwensi kejadian yang terjadi dimasa lalu. Sedangkan dampak merupakan akibat dari terjadinya risiko, dimana dampak tersebut dapat mengakibatkan terjadinya kerugian yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dari proyek. Besar kecilnya dampak dilihat dari besar kecilnya kerugian yang ditimbulkan.

Dari indeks risiko dapat ditetapkan tingkat risiko. Dimana tingkat risiko dibagi menjadi 4 (empat) yaitu risiko rendah (R), risiko sedang / moderat (M), risiko tinggi (T) dan risiko ekstrim (E). Penggolongan untuk tingkat risiko  menggunakan tabel 1.

Tabel Rating Risiko

Tabel Rating Risiko

Keterangan.

Merah      : E (Ekstrim Risk), Diperlukan tindakan segera

Coklat      : H (High Risk), Dibutuhkan perhatian manajemen senior

Kuning     : M (Moderat Risk), Tanggung jawab manajemen harus ditentukan

Hijau        : L (Low Risk), Dikelola dengan prosedur rutin

 

2.5. Pengendalian Risiko

Pengendalian resiko ( risk control ) adalah suatu tindakan untuk menyelamatkan perusahaan dari kerugian. Proses pengendalian risiko dilakukan dengan melakukan penanganan meliputi :

  1. Avoid Risks. Opsi menghindari risiko ini diambil apabila risiko memiliki kemungkinan tinggi dengan dampak yang tinggi.
  2. Transfer Risk. Yaitu memindahkan risiko kepada pihak lain dengan kompensasi, opsi ini diambil jika risiko memiliki kemungkinan medium dengan dampak yang tinggi. Contohnya dengan melakukan pekerjaan Outsourcing, di subkontrakkan atau di asuransikan.
  3. Treat Risks with Control. Opsi ini diambil apabila resiko mempunyai kemungkinan tinggi dengan dampak medium.
  4. Accept Risk. Menerima resiko karena memiliki kemungkinan rendah dengan dampak rendah.

 

2.6. Alokasi Risiko Dan Keputusan Pemilihan Jenis Kontrak

Pemilihan jenis kontrak adalah penentuan besaran risiko yang dialokasikan ke masing-masing pihak. Jenis kontrak tertentu memberikan besaran risiko yang tertentu pula pada masing-masing pihak dalam proyek. Pada jenis kontrak lump sum, kontraktor akan menanggung lebih banyak risiko dibandingkan dengan kontrak unit price.

Pemilihan jenis kontrak yang baik pada dasarnya adalah penentuan alokasi risiko berdasarkan kondisi proyek yang diberikan secara tepat kepada masing-masing pihak (yang terikat dalam kontrak) dimana dianggap paling mampu untuk mengatasi alokasi risiko tersebut. Pemilihan jenis kontrak tidak boleh dipandang untuk mengalihkan seluruh risiko kepada kontraktor sebagaimana yang sering terjadi terutama pada proyek swasta, karena hal ini hanya akan meningkatkan biaya dari yang seharusnya.

Dalam menentukan jenis kontrak berdasarkan delivery method. Hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana pendanaan, desain dan koordinasi proyek tersebut akan di lakukan. Pendekatan yang harus di pertimbangkan dalam pemilihat jenis kontrak berdasarkan delivery metode ditunjukkan pada gambar 2 di bawah ini.

Contracts delivery methodes

Pemilihan tipe kontrak yang tepat dengan mempertimbangkan faktor risiko dan alokasi risiko tidak hanya akan mempengaruhi besarnya biaya pekerjaan konstruksi, tetapi juga akan mempengaruhi kesuksesan suatu proyek baik dari sisi penyedia jasa maupun dari pengguna jasa.

Dalam pemilihan tipe kontrak berdasarkan perhitungan biaya, penggunaan tipe cost plus contract akan memberikan tingkat kesuksesan pada proyek yang semakin tinggi dilihat dari perspektif pengguna jasa dan penyedia jasa, seiring dengan semakin tingginya ketidakpastian yang terdapat pada proyek tersebut. Demikian pula sebaliknya pemilihan fixed price contract akan memberikan tingkat kesuksesan yang semakin tinggi dilihat dari perspektif penyedia jasa dan pengguna jasa, seiring dengan semakin rendahnya ketidak pastian yang terdapat pada proyek tersebut.

 

Pustaka

Hughes, W. Champion, R. and Murdoch, J. (2015), Construction Contracts, Law and management.. — Fifth edition

Santosa, Budi, (2009), Manajemen Proyek, Graha Ilmu, Yogyakarta, hal 191 – 206

Sonhadji, (2011), Manajemen Resiko Dalam Project Jalan Tol, Thesis Magister Teknik Sipil, Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, hal 25 – 45

ISO 31000:2009, clause 2.1

Project Management Institute, Inc., (2013), A guide to the project management body of knowledge (PMBOK® guide). — Fifth edition

MDB Harmonised Edition, (March 2006 Version), Construction Contract: Conditions of Contract for Construction, FIDIC

Ir. H. Nazarkhan Yasin, (2013), KONTRAK KONTRUKSI DI INDONESIA, Edisi Kedua

https://manshurzikri.wordpress.com/2012/06/04/analisis-resiko-dan-beberapa-metodologinya/

http://karyatulisilmiah.com/analisa-risiko-kuantitatif/

http://www.slideshare.net/ditkaminfo/manajemen-risiko-46803418

http://www.jpnn.com/read/2014/04/04/226235/Puncak-Suplai-Apartemen-Menengah-ke-Bawah-

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/144594-pemkot-surabaya-inginkan-hutan-apartemen

http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/03/26/nltnn4-pemkot-surabaya-permudah-izin-bisnis-properti

http://8aspekmanajemenproyekkonstruksi.blogspot.co.id/2014/11/aspek-aspek-yang-terkandung-dalam.html

Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000)

SNI 04-0225-2000 PUIL 2000 dapat di unduh disini

Peraturan instalasi listrik yang pertama kali digunakan sebagai pedoman beberapa instansi yang berkaitan dengan instalasi listrik adalah AVE (Algemene Voorschriften voor Electrische Sterkstroom Instalaties) yang diterbitkan sebagai Norma N 2004 oleh Dewan Normalisasi Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian AVE N 2004 ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan pada tahun 1964 sebagai Norma Indonesia NI6 yang kemudian dikenal sebagai Peraturan Umum Instalasi Listrik disingkat PUIL 1964, yang merupakan penerbitan pertama dan PUIL 1977 dan 1987 adalah penerbitan PUIL yang kedua dan ketiga yang merupakan hasil penyempurnaan atau revisi dari PUIL sebelumnya, maka PUIL 2000 ini merupakan terbitan ke 4. Jika dalam penerbitan PUIL 1964, 1977 dan 1987 nama buku ini adalah Peraturan Umum Instalasi Listrik, maka pada penerbitan sekarang tahun 2000, namanya menjadi Persyaratan Umum Instalasi Listrik dengan tetap mempertahankan singkatannya yang sama yaitu PUIL.

Peralatan Laboratorium dan Bahan Kimia Pabrik Minyak Kelapa Sawit

Pendahuluan

Laboratorium CPO

Laboratorium CPO

Pengertian pengendalian mutu adalah kegiatan terpadu mulai dari pengendalian standar mutu bahan, standar proses produksi, barang setengah jadi,barang jadi, sampai standar pengiriman produk akhir ke konsumen agar barang (jasa) yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi mutu yang direncanakan

(Prawirosentono, 2007:74).
Tugas dan fungsi utama Laboratorium selain pencatatan dan pelaporan adalah dapat menganalisa faktor penyebab terjadinya penyimpangan kualitas CPO sehingga dapat dilakukan action pencegahan dan perbaikan oleh manajemen. faktor – faktor pembentuk kulaitas CPO adalah faktor bahan baku, metode kerja,manusia, mesin, metode kerja, serta lingkungan kerja. Di mana faktor yang secara umum paling berpengaruh adalah bahan baku, metode kerja, serta manusia.

Fungsi dan Tugas Laboratorium

  1. Analisa mutu minyak sawit (CPO) dan inti sawit (Kernel)
  2. Analisa oil losses. Prosentase kehilangan minyak per FFB (Oil looses/FFB) pada :
    • Janjang kosong
    • Brondolan dalam janjang kosong
    • Janjang keras
    • Ampas fibre pada press
    • Biji / Nuts
    • Sludge ex separator
    • Solid basah ex Decanter
    • Limbah pabrik terakhir (Effluent)
  3. Analisa kernel losses. Prosentase kehilangan kernel per FFB (Kernel Loss/FFB) pada :
    • Brondolan dalam janjang kosong
    • Janjang keras
    • Fibre Cyclone
    • Cangkang Hydrocyclone
    • LTDS
  4. Menganalisa Raw water ( bahan baku air, yang pada umum nya diperoleh dari pembuatan waduk konvensional atau dari air sungai) dan Boiler water
  5. Memonitor perubahan anaerobik dengan melakukan analisa rutin limbah (PME, Palm Mill Effluent).

 

Palm Oil Mill Laboratorium

Palm Oil Mill Laboratorium

Parameter Mutu Minyak Sawit

Selama ini standart mutu yang digunakan oleh Pabrik Minyak Kelapa Sawit cenderung mengikuti kontrak kerja yang ditetapkan oleh pembeli utamanya seperti PT. Willmar.
Pemerintah melalui BSN telah menetapkan standarisasi mutu CPO yang dimuat dalam SNI-01-2901-2006 yaitu:
No Karakteristik Keterangan
1 Kadar asam lemak bebas < 5,00 %
2 Kadar air < 0,50 %
3 Kadar kotoran < 0,50 %
4 Bilangan Yodium 50 – 55 g / 100 g TBS
5 Warna CPO (crude palm oil) Jingga kemerah-merahan
Dalam prakteknya untuk menghasilkan kualitas mutu CPO yang di hasilkan dari proses pengolahan di tetapkan baku mutu sebagai berikut :
  • Nilai FFA dalam CPO sebaik nya tidak lebih dari 4%.
  • Nilai kadar air (moisture content) pada CPO sebaik nya tidak lebih dari 0,4%.
  • Nilai Kadar kotoran (dirt content) pada CPO sebaik nya tidak lebih dari 0,04%.
  • Nilai Peroxide value pada CPO sebaik nya tidak lebih dari 1 meq/kgl.
  • Nilai Dobi yang baik harus lebih dari 2,5. Semakin tinggi nilai DOBI pada CPO menunjukkan mutu CPO yang bersangkutan semakin baik.

Peralatan Laboratorium Pabrik Minyak Kelapa Sawit

No. Description MODEL/TYPE QTY
1 Analitical balance C/W

piring tunggal

Meetler AE-200, Cap. 200 gr 1
Timbangan elektronik Sartorius A200S divisi 0,0001 gr, max 200 gr
2 Triple bean balance Ohaus, 2610 gr 1
Timbangan digital Sartorius 1002, 0,1-500 gr 1
Timbangan analitic Sartorius 1702/ 1712, 0,1-200 gr 1
3 Ton pan balance Skala 1 kg, cap. 50 kg 1
4 Timbangan set 238 Ohaus %, 1mg-200 gr 1
214   – 11 USA, ½ kg-5kg
5 Ekstraksi Sokhlet Termostat kotrol 230-V, pemanas listrik u/250ml, tabung komplit tiang penyangga boss head & kle penjepit gelas kondensor, 6×150 w, cat.No.EME 6, 0250/C 2
6 Ekstraktor Quickfit 200ml, Socket 40/38, kerucut 29/32 15
7 Kondensor Quickfit 200 ml, kerucut 40/38 15
8 Flat bottom flask Quickfit : 250 gr, Socket 29/32 20
9 Hexana distilasi set :
a. Isopad isomantel Electro mantel, 1000 ml 1
b. Leibig kondensor socket & kerucut, 24/29 1
c. Deliveri adapter socket 24/29 1
d. Plain still Head socket 14/23, kerucut 24/29
e. Round bottom flask soket 24/29 1
10 VFA distilasi set :
a. Leibig kondensor NS 29/32, 500 ml 1
b. flat bottom flask NS 29/32 1
c. Still two head cone NS 29/32,u/n uap Receiver adapter 1
d. (palaintbent) NS 29/32 1
11 Oven listrik  C/W thermostat Binder F 53 T, 400 x 400, V – 53 ltr, 330 mm, 220 v, min 200 c 2
12 Flat pemanas listrik model IKAMAG RH, 220 vlt,

415 kw, 22-2000rpm, C/W stirrer magnit dan kaki buret otomatis

1
13 Pompa vacum RRC 2 x 0.5, max. tor 5×0.0001 1
14 Vacum flask schot/duran 1000 ml 2
15 Electri water still IKA DEST model 3000 1
16 Desikator dan

vacum break

memmert 350 – 6 lubang 220 v, NS 850.067, dia 25 cm 2
18 Pengukur konduktif

(TDS meter)

Myron Model 532T1/USA, 0-5000 ppm 1
19 Flokulator u/Jar test PCI (Paterson), candy int. ltd 1
20 pH meter digitalt : Corning Model 220, Digital pH meter, Range : 0.00 to-14.00 in 0.001 1
21 Centrifuge Electric 4 tabung 1
22 Silica Test Kit Merk : Lamote, Range 0-10 ppm 1
23 Alat test air boiler  c/w chemical dan reaktif 1
24 StopwatcH 2
25 Alat penghitung 4 angka 3
26 Thermometer 30 cm 0-150 C 6
27 Penjepit gelas kimia Quickfit 600 ml 1
28 Slang plastik william int dia 5/16, u/ hubungan kondensor pada suply air 10m
29 Cawan porselein 75 ml 24
30 mortar&pestle porselein RRC – dia 13 cm 2
31 Gelas ukur 1000 ml 2
32 Gelas ukur 100 ml 3
33 Gelas ukur 50 ml 3
34 Gelas ukur 25 ml 4
35 Gelas ukur 10 ml 2
36 Burete otomatis

c/w 500 ml botol plastik

Brand Germany, 15×0,1 ml 2
37 Burete otomatis

c/w 500 ml botol plastik

Brand Germany, 25×0,1 ml 2
38 Beaker gelas pirex/duran, 1000 ml 2
39 Beaker gelas pirex/duran, 500 ml 12
40 Beaker gelas pirex/duran, 250 ml 10
41 Beaker gelas pirex/duran, 100 ml 12
42 Beaker gelas pirex/duran, 50 ml 6
43 Corong plastik dia 10 cm 4
44 Corong plastik dia 6 cm 4
45 Bottol gelas droping 100 ml 4
46 Crystallising Dish Dia 70mm x T.40mm, 150 ml 18
47 Tabung centrifuge kapasitas 15 ml, 10×0,1 ml 12
48 Tabung dgn ukuran isi 1000 ml 4
49 Pipet bola 20 ml 1
50 Pipet bola 10 ml 2
51 Pipet berukuran 10 ml 2
52 Pipet berukuran 5 ml 2
53 Gooch crusible dia. Dasar 25 mm, 50 ml 12
54 Petri dish dia 100mm 10
55 Botol bahan kimia 250 ml 6
56 Erlemeyer pirex/duran, 1000 ml 2
57 Erlemeyer pirex/duran, 500 ml 2
58 Erlemeyer pirex/duran, 250 ml 12
59 Erlemeyer pirex/duran, 150 ml 12
60 Botol timbangan 15 ml 1
61 Tangkai pengaduk gelas pirex/duran, 20 cm 2
62 Bidal ekstraksi (timbel) whatman 25 pcs, 33×110 mm 6
63 Filter GF/B whatman, dia 2,5 cm 6
64 Whatman kertas filter I dia 12,5 3
65 Silika gel  u/desikator 6
66 Silikon grease  u/desikator 1
67 Spatula besi 150 mm 2
68 Botol plastik dg tutup 250 ml 350
69 Botol plastik dg tutup 1 galon 20
70 Botol pencuci d/plastik 500 ml 3
71 Corong plastik dia 1 dm3 1
72 Labu ukur 1000 ml 2
73 Labu ukur 100 ml 2
74 PIpa gelas dia 9 mm 1 kg
75 Rubber cone 1”x 4 cm 2
76 Pipet dg penekan karet 2
77 Pemadam kebakaran 6 kg 1
78 Kantong plastik tebal lbr 26 cm, T 40 cm 5 kg
79 Nampan sampel Aluminium 2
80 Tempat mengambil

sampel storage tank

200 ml 1
81 Pisau Stainless steel 2
82 Kampak 0,5 kg 1
83 Sikat tabung percobaan 2

 

Laboratorium PMKS

 

Bahan Kimia Laboratorium Pabrik Minyak Kelapa Sawit

No. Description Model/Type QTY
1 Pellets NaOH merck ART.5033, 1000 gr/b 1 btl
2 Pottasium hydrogen phthalate merk ART.4874, 500 gr/b 1 btl
3 Bubu phenophthalein merk ART.7233, 100 gr/b 1 btl
4 Bubuk methil orange merk ART.1322, 100 gr/b 1 btl
5 Iso propil alkohol AR.grade 96%, 2,5 ltr/b 2 btl
6 Hexana Commercial grade, 250 ltr/dr 1 drum
7 Konsentrat asam sulfat AR. Grade 95-97%, 5 ltr/btl 2 btl
8 Asam asetat, glacial UNIVAR UN 2789, 2,5 ltr/b 1 btl
9 Ethanol UNIVAR 95% murni, 2,5 ltr/b 1 btl
10 Wol katun 4 kg
11 Bubuk ammonium molybdat UNIVAR (81-83%), 10 gr/100 cc H20, 500 gr/btl 1 btl
C. Spares
1 Mantel pemanas untuk ekstraksi dg soklet 150 watt 6

Starting Motor With Auto Transformator (Auto Trafo)

Pendahuluan

Inti dari starting motor adalah bagaimana mengurangi arus start yang dapat mencapai 6 x In (arus nominal). Pada mode starting ini , tegangan awal yang dberikan pada motor mengalami pengurangan melalui sebuah autotransformator dan setelah beberapa detik kecepatan steady motor tercapai , tegangan yang menuju terminal stator motor dikembalikan keposisi nilai tegangan normal melalui perpindahan rangkaian kontak seperti terlihat pada gambar dibawah ini. Auto-Transformer biasanya mempunyai 3 pilihan taps pada masing-masing fasa (50%, 65%, 80%), sehingga karakteristik start motor dapat di pilih sesuai dengan kondisi beban.

Auto Trafo Centrado

Gambar 1. Auto Trafo CENTRADO.

Alat dan Bahan

Alat kerja :

  1. Bor tangan
  2. Hole Cutter
  3. Tool kitt (obeng, tang, dll)
  4. Tang Press, Crimping atau schoen
  5. Cutter

Bahan kerja :

  • 1 bh Box Panel type MCC, Free Standing
  • 1 bh Auto Trafo, 55 kW, CENTRADO
  • 1 bh MCCB 3 phs, 150A, FUJI
  • 4 bh Magnetic Contactor, 150A, FUJI
  • 1 bh Thermal Over load,
  • 2 bh Time Delay Relay
  • 1 bh MCB 1 phs, 6A
  • 2 bh relay, LY-2, OMRON.
  • 1 bh CT 150/5A, GEA.
  • 1 bh Ampere meter, 0 – 150A, GEA.
  • 1 bh Hour Meter
  • 1 bh Push button On (hijau)
  • 1 bh Push button Off (merah)
  • 1 bh Pilot lamp On signal (hijau)
  • 1 bh pilot lamp Trip signal (kuning)
  • 1 lot cable power NYAF 1c x 35 sqmm.
  • 1 lot accessories include terminal, cable wiring, skun, bolt & nut dll.

Gambar Kerja

Autotrafo Starter Power Diagram

Gambar 2. Power Diagram Auto Trafo Starter

wiring auto trafo

Gambar 3. Wiring Diagram Auto Trafo Starter

Prinsip Kerja

Line On

Start Pertama :

MC 1 – On

MC 2 – On

Selang waktu 10 detik MC 2 – Off

MC 1 – On

MC 3 – On

Langkah kedua :

Selang waktu 10 detik

MC 1 – Off

MC 2 – Off

MC 3 – Off

Langkah ketiga : MC 4 – On

 

Panel Auto Trafo

Gambar 4. Panel Auto Trafo.

Kesimpulan

  1. Auto Trafo Starter biasanya digunakan untuk starting motor dengan daya 30kW atau lebih
  2. Selain Auto Trafo, starter motor untuk daya besar juga bisa menggunakan system soft starter.
  3. Auto trafo mempunyai keunggulan kemudahan perawatan, kehandalan dan ketahanan system jika dibanding dengan soft starter.

Pengujian Unit Pengaman OCR/EFR Type SPAJ 140c ABB Menggunakan Relay Test Unit SVERKER 750 dengan Injection Current

Pendahuluan

Proteksi didalam sistem tenaga listrik adalah untuk mengamankan peralatan/sistem sehingga kerugian akibat gangguan dapat dihindari atau dikurangi menjadi sekecil mungkin dengan cara:

a) Mendeteksi adanya gangguan atau keadaan abnormal lainnya yang dapat membahayakan peralatan atau sistem.

b) Melepaskan (memisahkan) bagian sistem yang terganggu atau yang mengalami keadaan abnormal lainnya secepat mungkin sehingga kerusakan instalasi yang terganggu yang dilalui arus gangguan dapat dihindari atau dibatasi seminimum mungkin dan bagian sistem lainnya tetap dapat beroperasi.

ACB 2500A FUJI

Gambar 1. ACB 2500A Fuji (covered open)

Proteksi terdiri dari perangkat peralatan yang merupakan sistem yang terdiri dari komponen komponen berikut :

a) Relay utama dan Relay Bantu (auxiliary relay)

b) CT dan VT

c) Pemutus Tenaga (ACB/MCCB)

d) Power supply AC dan atau DC

e) Rangkaian control

Jika salah satu komponen dari perangkat proteksi tidak bekerja sebagaimana mestinya, maka proteksi tersebut akan gagal bekerja.

Peralatan pengaman yang terpasang pada Mainswitch Board (MSB) adalah :

  1. Over Under Voltage Relay (OUVR)
  2. Reverse Power Relay (RPR)
  3. Over Current Relay (OCR)
  4. Earth Fault Relay (EFR)

SPAJ 140c Merk ABB adalah peralatan pengaman yang menggabungkan Fungsi Over Current Relay (OCR) dan fungsi Earth Fault Relay (EFR). OCR tujuannya memproteksi pada beban lebih dan hubung singkat, sedangkan untuk EFR memproteksi arus bocor ke tanah.

SPAJ 140C

Gambar 2. Unit SPAJ 140C ABB

Maksud dan Tujuan

Kalibrasi Protection Relay biasanya dilakukan secara berkala misalnya setiap 2 tahun sekali (atau disesuaikan dengan Standard yg berlaku) dengan maksud dan tujuan sebagai berikut :

a) Memastikan Relay tersebut bekerja saat terjadinya gangguan.

b) Waktu dan Nilai Setting untuk Trip sesuai yang diinginkan.

c) Mengecek Karekteristik Relay

d) Memastikan semua rangkaian & peralatan control terhubung dan bekerja dengan baik.

 

Alat dan Bahan

Untuk Test dan Kalibrasi Relay diperlukan alat-alat sebagai berikut :

a) Relay Test Unit (SVERKER 750)

sverker 750

 Gambar 3. Relay Test Unit SVERKER 750

b) Insulation Resistance Tester (Megger Tester)

c) Test Pen, Multi Tester & Tang Amper.

d) Tang, Kunci Pas & Obeng (+/-)

e) Control Cable (Cable Set)

f) Stabilizer 1000 VA.

 

Pelaksanaan

Persiapan sebelum melakukan pengetesan relay dan kalibrasi, perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :

a) Pastikan Alat-alat Test sudah lengkap dan dapat dioperasikan.

b) Switch off Power yang masuk ke Panel yang akan dikalibrasi.

c) Grounding-kan Main Busbar untuk membuang arus yang tersimpan pada Capacitor Bank.

d) Pastikan Main Busbar sudah tidak berarus listrik dengan cara mengukur dengan Voltmeter/Test Pen.

e) Lepaskan kabel dari CT pada terminal Relay dan ujung ujung kabel di short untuk menghindari kerusakan CT.

f) Selanjutnya ikuti prosedur kalibrasi pada Item

 

Pelaksanaan kalibrasi

Kalibrasi yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan metode Secondary Injection. Metode ini dilakukan dengan menyalurkan Arus (Ampere) atau inject langsung pada unit SPAJ untuk signal on operation of the overcurrent unit dan signal on operation of the eart-fault unit. Sedang besarnya Arus yang diinject harus disesuaikan dengan hasil perhitungan.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Hari                :   …………….

Tanggal          :   …………….

Jam                 :   08.00 – 16.00

Tempat          :

1. Workshop Fabricator Panel

2. di Site Project

 

Kalibrasi Over Current Relay (OCR) & Earth Fault Relay (EFR) Unit SPAJ 140C ABB.

Langkah-langkah pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

a) Catat spesifikasi yang tercantum pada name plate machineries yang akan diprotect misalnya untuk Generator (kW, Rating Ampere) dan ratio CT yang dihubungkan pada OCR

b) Dari data yang didapat hitung nilai kalibrasi yang akan di-inject ke OCR

c) Pastikan bahwa input OCR dari Current Transformer (CT) sudah dilepas (open) dari hubungan ketiga phasenya (R, S dan T) dan diberikan label/tanda untuk memudahkan re-connection. Untuk keamanan dari CT, kabel dari terminal CT dihubung-singkatkan.

d) Check auxiliary contact dan coil OCR tersebut terhadap adanya kerusakan. Untuk memastikannya, ukur dengan menggunakan Ohm Meter untuk mengecek apakah auxiliary contact dan coil OCR berfungsi dengan baik.

e) Jika dalam pelaksanaan kalibrasi mengalami kesulitan karena posisi relay yang sulit dijangkau maka unit OCR bisa dilepas terlebih dahulu setelah itu baru dikalibrasi.

wiring SPAJ 140C

Gambar 4. Conection diagram for the combined OCR and EFR type SPAJ 140C ABB

 

Nilai Setting Kalibrasi

Nilai Kalibrasi yang dikehendaki untuk Relay Proteksi ditentukan berdasarkan kapasitas mesin yang diproteksi, misalnya berapa % mesin itu dapat beroperasi terus menerus tanpa trip dan akan trip jika arus yang mengalir pada mesin tersebut melebihi nilai setting

 

pengujian SPAJ

Gambar 5. Pengujian SPAJ 140c dengan Relay Test Unit (INJECT CURRENT)

 

Pencatatan dan Pengesahan Hasil Kalibrasi

Kalibrasi yang telah dilakukan dicatat dalam Format disediakan dan dilaporkan hasilnya.

 

Lampiran

  1. Nilai setting kalibrasi
  2. Hasil kalibrasi

 

calibration report

commissioning pabrik kelapa sawit

Pendahuluan

Tahap terakhir dari perjalanan panjang proses pembangunan pabrik kelapa sawit yang di mulai dengan proses desain drawing, pengadaan raw material dan vendor part, transport material ke site, proses konstruksi bangunan, erection mechanical, instalasi listrik dan pipa adalah commissioning.

Commissioning adalah suatu proses dan tahapan yang dilakukan sehingga peralatan yang terinstal dapat beroperasi dan bekerja. Serangkaian kegiatan tersebut untuk menguji dan menjamin semua system dan komponen yang terpasang pada pabrik kelapa sawit sesuai dengan desain rencana, pemasangan, operasi, fungsi, perawatan dan performa mesin maupun system keseluruhan sesuai dengan kapasitas yang di harapkan.

Jadwal Pelaksanaan

schedule commissionig

Pelaksanaan

Tahapan kegiatan commissioning pabrik kelapa sawit adalah :

Mechanical completion

Penyelesaian mekanik definisikan sebagai keadaan di mana semua sistem termasuk perlengkapan dan fasilitas tambahan telah mencapai kondisi lengkap secara mekanik dan mendapat persetujuan dari perusahaan.

Penyelesaian mekanis dari suatu sistem meliputi hal-hal berikut namun tidak terbatas pada:

  • Semua desain dan rekayasa telah selesai
  • Semua pekerjaan instalasi untuk sistem termasuk semua peralatan telah diselesaikan sesuai dengan gambar “Approved for Construction”, spesifikasi, kode aplikasi dan peraturan yang berlaku serta penerapan teknik yang baik.
  • Semua instrumen telah diinstal.
  • Semua koneksi tie-in telah dibuat.
  • Semua tes penerimaan pabrik dan semua kegiatan pengujian dan inspeksi lainnya telah selesai.
  • Studi Keamanan telah dilakukan dan “Persyaratan Keamanan” telah dipenuhi termasuk dokumentasi yang di perlukan
  • Semua dokumentasi dan sertifikasi dokumen yang diperlukan telah disediakan.
  • Semua prosedur operasi dan prosedur perawatan telah diteruskan dan di review oleh perusahaan
  • Semua item yang menjadi tanggung jawab kontraktor yang berhubungan dengan pihak ketiga, regulasi pemerintah atau persetujuan vendor telah dipenuhi dan memperoleh konfirmasi dokumentasi dari Perusahaan.

 

Individual test

Kegiatan yang dilakukan setelah Penyelesaian Mekanis sebuah peralatan atau sistem adalah menguji secara individu apakah peralatan tersebut siap untuk menerima bahan baik berupa buah, nut, fiber, kernel atau fluida berupa air, steam, Crude Oil maupun Sludge .  kegiatan pengujian secara individu antara lain :

  • Penyelesaian dan pengujian peralatan & platform sistem.
  • Pengujian semua bagian dan sistem dari Pekerjaan termasuk komunikasi sistem (jika diperlukan).
  • Penyediaan mengisi awal kemasan, bahan kimia, inhibitor, pelumas, Greas, air dan lainnya yang diperlukan.
  • Memeriksa putaran motor, geared motor, gear box dan pompa.
  • Flushing pembersihan vessels & pipe
  • Kalibrasi PSVs.
  • Kalibrasisemua instrumen .
  • Memeriksa loop.
  • Pemeriksaan lengkap pada sistem keamanan.
  • Cek pada sistem listrik dan paket vendor lainnya.
  • Hydrotest dan pneumatik test pada vessels.
  • Pelatihan dan pengarahan personel yang terlibat di commissioning.
  • Penghapusan semua puing-puing dan peralatan konstruksi.

Loading test

Performance test

Lampiran

Precommissioning Ceck List :

  1. General Procedures
  2. Packing and Seals
  3. Removal of Temporary Supports
  4. Alignment of Rotating Equipment
  5. System Check/Inspection
  6. Site Modifications
  7. Flushing
  8. Temporary Screens, Strainers and Blinds
  9. Vacuum Test
  10. Safety Devices
  11. Purging
  12. Drying out
  13. Lubricants and chemicals
  14. House keeping
  15. Equipment Protection and Spare Parts
  16. Chemical Cleaning
  17. Fire Fighting & Life Saving Equipment

PENGOPERASIAN GENSET 2 X 400 kW dan 1 x 200 kW CUMMIN

Genset CUMMIN

Genset CUMMIN

1. Cek engine system : Fuel, oil, coolent, electrical system (batteray, air accu 6 bulan, alternator 25 V, kode trauble). Mechanical ( belt, air cleaner, kebocoran).

2. System operation.

2.1. Local Start.

  • Tekan tombol manual.
  • Tekan tombol start. (engine idle sampai temperatur 38 oC.).

2.2. Local close breaker.

  • Naikkan knife switch untuk memasukkan netral panel
  • Tekan tombol close untuk masuk breaker.
  • Tekan tombol open untuk melepas breaker.

3. Local synchrone.

  • Lakukan operasi (2a).
  • Pilih menu pararel.
  • Plih synchrone check pada nilai derajat terkecil.
  • Lakukan local close breaker (2b).

4. Remote operation.

CUMMIN Operation Module

CUMMIN Operation Module

  • Tekan tombol auto pada display Genset.
  • Tekan tombol start engine pada MSB (tekan sampai frekuaensi normal 50 Hz)
  • Tekan tombol stop engine untuk mematikan Genset.
  • Tekan tombol close breaker pada MSB untuk memasukkan power.
  • Tekan tombol open breaker pada MSB untuk memutuskan power.

5. Remote synchrone.

  • Lakukan operasi (4a).
  • Pilih nomer pada selector switch pada panel synchrone sesuai dengan Genset yang akan di masukkan.
  • Putar key switch pada panel MSB Genset yang mau di synchrone
  • Pilih nilai derajat terkecil pada synchronoscope meter dan lampu synchrone padam.
  • Tombol close breaker pada genset yang akan di synchrone.

6. System pembebanan / load system.

Cummin load share module

Cummin load share module

  • Load share system yaitu melakukan pararel 2 (dua) genset 400 kW untuk genset no. 2 dan no. 3. System ini bersifat membagi beban secara merata.
  • Base load system yaitu melakukan pararel 2 genset atau lebih no. 1, 2, 3 dan turbine. System ini bersifat membagi beban sesuai kebutuhan.
  • Load share hanya berlaku untuk genset no. 2 dan no. 3. Namun jika genset no. 1 atau turbine sudah masuk di main bus semua menjadi hubungan system base load.
Main Switchboard

Main Switchboard

7. Pengaturan beban/ base load.

  • Kondisi genset 1 200 kw atau turbine running (on bus), Point 2, 3, 4 telah dilakukan.
  • Kondisikan potensio 0 – 5 Vdc untuk pengambilan beban (0 berarti 0% load, 5 berarti max load)
  • Operator harus bisa membaca beban yang akan di ambil, jika beban total hanya 200 kW jangan posisikan di 5 Vdc karena akan terjadi reverse power.
  • Pengaturan kVAR. Adalah pengaturan cos Q/ ampere sesuai dengan kebutuhan, berlaku untuk base load dan bersifat konstan. Contoh : saat pembebanan cos Q dengan menggunakan potensio kVAR kita posisikan 0,8 leaging (induktif), seterusnya genset akan mempertahankannya 0,8. Selebihnya akan di berikan pada genset no. 1 atau turbine dan capasitor bank.