Unloading Procedure Fuel Depot Aviation

1. Product Information
Aviation fuel will have to be provided to aircraft operating into/from Oe-cusse International Airport. These aircraft will range from medium to short haul passenger jetliners with the occasional wide body long haul charter flight and it is assumed that general aviation piston driven private aircraft may demand this airport mainly for business purpose.

Fig 1. Airport LayoutFigure 1. Oe-cusse International Airport Layout

To cater for these needs, Oe-cusse International Airport requires that its Master Plan contemplates the design and construction of an aviation fuel depot, and designed to comply with the best aviation standards in terms of safety and environment protection. The project requirement is to service fuel aviation fuel consumption are as follow:

  • Aviation fuel requirements
    • Aircraft assumption : 4 aircraft code C strands together at the same time; 2 aircraft code C and 1 code E strands at the same time
    • General aviation (no feasible forecast)
    • Helicopter : 2 aircraft considered on original scope
  • Ground Support fuel requirements
    • Ground Support aircraft tanker : minimum 4 tanker truck for 4 parking strands
    • Ground Support Equipment (GSE) assumption : 2 baggage/cargo tow tractor; 8 closed baggage carts; 1 aircraft pushback and tow tractor; Jet engine air start unit; 2 cleaning service car; 1 lavatory service car; 1 ground power unit; 2 passenger stair truck; 4 caster bed pallet trailer
    • Rescue & Fire Fighting Services (RFFS) assumption : 2 fire fighting vehicles; 1 ambulance; 4×4 vehicle

2. Start-Up Procedure Avtur/Avgas Pumps

Before start-up prosedure, make sure have installed pumps right, check the coupling alighment, fill pumps with fluid and check rotation. At normal operating temperature, the vibration velocity shall not exceed 2.8 mm/s RMS, or 4 mm/s PEAK in any direction. The maximum acceptable values of DE/NDE bearing temperature during operation shall be 54 oC (Ambient) + 10 oC.

2.1. Avtur And Avgas Piping & Valve Unloading System

pid avtur unloading diagramFigure 3.  Flow diagram unloading avtur system

  1. Open all the valves (Manual Valve with Limit swicth and Suction Valve) in system before start-up pumps
  2. Open the discharge valve in system
  3. Open the valve on Microfilter and Water separator to differential pressure gauge
  4. Open the valve on Positif displacement meter inlet and outlet line
  5. Close the valve on by pass pumps
  6. Close the valve on by pass Positif displacement meter
  7. Close the valve on by pass to loading system
  8. Open the valve inlet avtur and avgas storage tank
  9. Start on of electric motor
  10. Check the pressure gauge for make sure the pump according the pressure discharge and suction is appropriate
  11. If the pump fails to reach the right pressure, do the following steps:
    • Stop the electric motor
    • Do primming pump
    • Start the electric motor
    • Check temperature bearing, vibration and noise of pump, if it exceeds the normal limit stop the electric motor and repair the problem
    • Repeat step 10 and 11
  12. Check if there is a leak in the system

2.2. Unloading Control & Instrumen System

flow diagram unloading instrument control 2Figure 4.  Unloading avtur/avgas control &instrumen system.

Notes :

No. Description Qty Product
1 Unloading flexible house 3 OPW
2 Level Switch High 3 JERGUSON
3 Level switch Low 3 JERGUSON
4 Emegency push button 2 MEDC
5 Earthing switch with clamp 2 NEWSON GALE
6 Local control panel (LCP) 2 WEIDMULLER
7 Manual valve with limit switch 2 OPW
8 MCC 1 ABB
9 Emergency disconnecting switch (EDS) 4 KILLARK
10 Pump 4 VIKING
11 Fuel Tank 3 BBI

Process Control Unloading

  1. Check power from panel MCC and LCP.
  2. Position the selector switch in Incoming MCC panel is ON (RED pilot lamp).
  3. Position the selector switch in Instrument panel is ON (RED pilot lamp).

2.1. Avtur And Avgas Piping & Valve Loading System

pid avtur unloading diagram

 

Iklan

Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU)

Pendahuluan.

Instalasi Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) adalah merupakan Instalasi yang berfungsi menerima’ menimbun dan menyalurkan Bahan Bakar Minyak dan Non Bahan Bakar Minyak dalam pelayanan di Bandar Udara untuk menunjang operasi pelayanan pengisian bahan bakar pesawat. Fasilitas pengisian bahan bakar pesawat menurut tipenya sekarang terdapat 2 (dua) tipe pengisian yaitu pengisian menggunakan jalur pipa (pipeline) dibawah apron atau menggunakan mobil truck bridger dari fuel farm menuju apron. Penggunaan jalur pipa (pipeline) dibawah apron banyak digunakan pada Bandar Udara Besar yang mempunyai tingkat kesibukan penerbangan yang cukup tinggi sedangkan untuk penggunaan mobil bridger biasanya digunakan pada bandar udara kecil yang mempunyai tingkat kesibukan penerbangan yang tidak terlalu tinggi.

Scope.

Bahan bakar penerbangan harus disediakan untuk pesawat yang beroperasi ke / dari Bandara Internasional Oecussi. Pesawat-pesawat ini akan berkisar dari jetliner penumpang jarak menengah sampai pendek dengan penerbangan charter jarak jauh berbadan lebar sesekali dan diasumsikan bahwa pesawat umum yang digerakkan oleh piston. Penerbangan umum menuntut bandara ini untuk tujuan bisnis.

3D DRAWING FUEL FARM DEPOTFigure1. Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) / Fuel Farm Depot 3D Drawing

Untuk memenuhi kebutuhan ini, Bandara Internasional Oecussi dilengkapi dengan depot bahan bakar avation, dan dirancang untuk memenuhi standar penerbangan terbaik dalam hal keselamatan dan perlindungan lingkungan. Perlengkapan untuk melayani konsumsi bahan bakar penerbangan adalah sebagai berikut:

  • Aviation fuel depot area – 600m2 (20m x 30m)
  • Storage Tank 80,000 Litres of aviation Fuel Jet A-1 (ø3.8×7.1m)
  • Storage Tank 3,000 Litres of AVGAS 100LL (ø2.28×1.4m)
  • Adequate and dedicate pump, filter & water separate system
  • Unloading area from refinery
  • Loading area to aviation Fuel system & Ground Support Fuel
  • Fire fighting system internal of Fuel Farm
  • Offices (20m2)
  • Control post (3m2)
  • Landside access from security gate
  • Perimeter fence

Ada dua jenis bahan bakar penerbangan yang digunakan di Bandara Internasional Oecussi. Bahan bakar Jet, aviation turbine fuel (ATF), atau dikenal sebagai avtur, jenis bahan bakar penerbangan yang dirancang untuk digunakan di pesawat yang ditenagai oleh mesin turbin gas. Avgas (aviation gasoline), bahan bakar penerbangan yang digunakan dalam mesin pembakaran internal percikan api untuk mendorong pesawat. Avgas dibedakan dari mogas (motor gasoline), yang merupakan bensin sehari-hari yang digunakan dalam kendaraan bermotor dan beberapa pesawat ringan.

Specification :

  1. Avtur Tank

Tanki Avtur 2 x 40 cubic

Figure2. Avtur Tank 2 x 40 cubic metric made in BBI

MECHANICAL DATA SHEET :
NUMBER OF UNITS TWO
CODE &SPECIFICATION ASME VIII  DIV.1  ( Latest Edition )
FLUID HANDLED AVTUR
NOMINAL CAPACITY 43.6 m3
WORKING CAPACITY 40         (40000 liter) m3
FILLING RATE 32.732     (120 gallon(UK)/min) m3/h
DISCHARGE RATE 32.732     (120 gallon(UK)/min) m3/h
NORMAL PRODUCT HEIGHT 2364 mm
MAXIMUM TEST FILL HEIGHT 2900 mm
PRODUCT DENSITY @ T, P 775 kg/m³
PRODUCT VAPOUR PRESSURE 0.000105   (0.0015 psia) kg/cm2a
DESIGN PRESSURE FULL OF WATER + 700mm H2O kg/cm2g
DESIGN TEMPERATURE / MDMT 71 °C
OPERATING PRESS. ATMOSPHERIC kg/cm³a
OPERATING TEMPERATURE 35 °C
HYDROTEST PRESSURE 1.3 X MAP (N&C) kg/cm2g
CORROSION ALLOWANCE:
SHELL 3 mm
HEAD 3 mm
SHELL INSIDE DIAMETER 2900 mm
SHELL LENGTH (TAN / TAN) 6600 mm
TANK ORIENTATION HORIZONTAL
TYPE OF HEAD NON STD. FLANGED DISH HEAD
JOINT EFFICIENCY 85%
SHELL THICKNESS 10     (note 1) mm
HEAD THICKNESS 10     (note 1) mm
SUPPORT TYPE SADDLE
WIND VELOCITY (MAX) 2.8 m/s
SEISMIC FACTOR MODERATE (UBC ZONE 2A)

2. Avgas Tank

Avgas Tank pngFigure3. Avgas Tank made in BBI

MECHANICAL DATA SHEET :
NUMBER OF UNITS ONE
STANDARD API 650 LATEST EDITION
FLUID HANDLED AVGAS
NOMINAL CAPACITY 5.7     (5700 liter) m3
WORKING CAPACITY 3       (3000 liter) m3
FILLING RATE 2.182     (8 gallon(UK)/min) m3/h
DISCHARGE RATE 2.182     (8 gallon(UK)/min) m3/h
NORMAL PRODUCT HEIGHT 735 mm
MAXIMUM TEST FILL HEIGHT 1400 mm
PRODUCT DENSITY @ T, P 700 kg/m³
PRODUCT VAPOUR PRESSURE 0.50   (7.1 psia) kg/cm2a
DESIGN PRESSURE FULL OF WATER + 500mm H2O kg/cm2g
DESIGN TEMPERATURE 71 °C
OPERATING PRESS. ATMOSPHERIC kg/cm³a
OPERATING TEMPERATURE 35 °C
HYDROTEST PRESSURE FOW + 1.5 X DESIGN PRESS. kg/cm2g
CORROSION ALLOWANCE:
SHELL 3 mm
ROOF BOTTOM 3 mm
BOTTOM 3 mm
INSIDE DIAMETER 2280 mm
NOM. HEIGHT 1400 mm
TANK ORIENTATION VERTICAL
ROOF TYPE FIXED CONE ROOF, SLOPE 1 :5
BOTTOM TYPE SLOPE UPWARD 1 : 140 (note 12)
JOINT EFFICIENCY 85%
SHELL THICKNESS 6     (note 1) mm
ROOF THICKNESS 6     (note 1) mm
BOTTOM THICKNESS 8     (note 1) mm
ROOF UNIFORM LIVE LOAD 73.24 (lb/ft2) kg/cm2
WIND VELOCITY (MAX) 2.8 m/s
SEISMIC FACTOR MODERATE (UBC ZONE 2A)

3. Pump, Filter & water separate system

Bahan bakar Jet Penerbangan (Jet A-1), adalah pemindahan dari kilang ke Bandara Internasional Oecussi menggunakan kontainer truk, kemudian membongkar bahan bakar menggunakan pompa bongkar 10-PMP-01 A / B, kapasitas 120 GPM. Avtur memompa ke dua Tangki penyimpanan 10-TNK-01A / B yang masing-masing memiliki kapasitas 40.000 liter. Distribusi dari tangki Penyimpanan Avtur ke pompa pemuatan dilakukan bergantian. Pada saat satu tangki kosong maka tangki lainnya beroperasi. Flowrate dari pompa unloading ke tangki penyimpanan akan dipantau melalui flowmeter (PD Meter).

Pump & Filter System 6Figure4. Pump & Piping System of Fuel Farm Depot

Distribusi Avtur dari tangki penyimpanan ke truk distribusi menggunakan pompa pembuangan Avtur 10-PMP-02 A / B. Pompa pelepasan avtur terdiri dari dua pompa dan masing-masing memiliki kapasitas 120 GPM dengan konfigurasi satu beroperasi dan satu siaga. Jenis pompa yang digunakan adalah jenis sentrifugal.
Pada tahap yang tepat dalam transfer avtur dari kereta atau mobil tangki jalan ke tangki penyimpanan depot bandara dan dari tangki ini ke peralatan bahan bakar bergerak, ketentuan harus selalu dibuat untuk peningkatan dan pemeliharaan kualitas Avtur dengan menggunakan filtrasi, dan peralatan pemantauan seperti yang dipersyaratkan oleh prosedur kontrol kualitas yang diadopsi.
Aliran distribusi Avtur sebelum memasuki truk distribusi dipantau menggunakan flow meter (PD Meter).

Piping & FilterFigure5. Piping & Filter System of Fuel Farm Depot

4. Unloading System

Avtur Fuel System ConfigurationFigure6. Avtur Fuel System Configuration

Qty Description Product
3 Unloading flexible house OPW
3 Level Switch High JERGUSON
3 Level switch Low JERGUSON
2 Emegency push button MEDC
2 Earthing switch with clamp NEWSON GALE
2 Local control panel (LCP) WEIDMULLER
2 Manual valve with limit switch OPW
1 MCC ABB
4 EDS KILLARK
4 Pump VIKING
3 Fuel Tank BBI

5. Loading System

Avgas Fuel System ConfigurationFigure7. Avgas Fuel System Configuration

Qty Description Product
3 Fuel Tank BBI
3 Level Switch High JERGUSON
3 Level switch Low JERGUSON
2 Emegency push button MEDC
2 Rack Monitor CIVACON
2 Overfill sensor CIVACON
2 Earth clamp CIVACON
2 Local control panel (LCP) WEIDMULLER
2 Manual valve with limit switch OPW
1 MCC ABB
4 EDS KILLARK
4 Pump VIKING
2 Loading arm OPW

Sistem Perlindungan Kebakaran
Penanganan bahan bakar penerbangan, seperti halnya dengan semua produk minyak bumi yang mudah terbakar lainnya, memerlukan tindakan pencegahan khusus untuk mencegah bahaya dari emisi uap yang mudah terbakar.
1. Alarm Kebakaran
Perangkat suara yang cocok harus disediakan sebagai alarm kebakaran khusus. Suara harus jelas dapat dibedakan dari alarm lain dan harus diuji secara berkala.
2. Peralatan pemadam kebakaran
Peralatan pemadam kebakaran yang dapat diminum dan bergerak harus diletakkan di lokasi yang nyaman seperti yang dipersyaratkan oleh standar lokal atau nasional, dan harus menjalani inspeksi dan pengujian berkala, yang tanggalnya harus menjadi perekam baik pada peralatan atau dalam buku catatan harian yang dikelola untuk tujuan ini.
3. Pasir
Pasir kering adalah media yang nyaman untuk melawan merebaknya kebakaran kecil. Persediaan yang memadai dalam wadah tertutup dengan ember dan sekop harus ditempatkan di posisi strategis di seluruh depot

4. Peralatan Pemadam Api

Location Type Appliances required
Rail tank car discharge facilities Dry chemical 9 kg 1 unit between every 3 rail car discharge positions
Road-Bridger discharge and fueller loading racks Dry chemical 9 kg 1 unit for each vehicle position
Pump houses Dry chemical 9 kg 1 unit for up to 3 pumps

2 units for 4 or more pumps

Open pump platforms Dry chemical 9 kg 1 unit for every 3 pumps
Office Water 6L

CO2 5 kg

1 unit per 115m2 floor area. As necessary, to protect electrical equipment.

Sistem air kebakaran di area depot bahan bakar terdiri dari sistem dan komponen berikut:

  • Pompa air kebakaran

Pompa air kebakaran harus dirancang sesuai dengan NFPA untuk 150% kapasitas desain pada tidak kurang dari 65% tekanan operasi aliran desain tanpa kepala aliran ni lebih besar dari 120% tekanan operasi aliran desain. Pompa air kebakaran sekali mulai dijalankan sampai berhenti secara manual di pengontrol pompa.

  • Distribusi air kebakaran
  • Cincin api utama air
  • Sistem selang, hidran, dan monitor.

http://infopanduantrik.blogspot.com/2015/06/sistem-pengisian-bahan-bakar-pesawat.html

Analisa Risiko Dan Pemilihan Jenis Kontrak 2

1. Identifikasi Resiko

Dalam manajemen risiko, langkah awal sebelum mengerjakan proyek adalah dengan melakukan studi risiko. Studi risiko dibuat dengan cara mengidentifikasi peristiwa, penyebab dan kemungkinan yang akan terjadi disetiap fungsi kerja. Informasi dan prediksi di kumpulkan sebanyak mungkin kemudian di catat dalam daftar kejadian, risiko dan dampak yang di akibatkan. Daftar identifikasi risiko yang mungkin terjadi dapat dilihat pada tabel 1.

 NO PERISTIWA RISIKO AKIBAT
1 Pekerjaan yang tidak terhitung atau volume yang ditawarkan tidak sesuai. Gambar tender yang tidak lengkap dan detail. Turunnya margin dari yang direncanakan.
2 Pekerjaan repair atau rework. Kualitas pekerjaan tidak diterima Owner Penambahan biaya langsung dari yang direncanakan.
3 Kenaikan harga material, upah dan alat akibat kenaikan BBM Kenaikan harga BBM dan TDL Turunnya margin dari yang direncanakan.
4 Rework pekerjaan galian atau urugan. Elevasi dasar bangunan tidak jelas pada gambar tender. Penambahan biaya pada pekerjaan galian dan urugan.
5 Progres proyek terhambat akibat Keterlambatan supply material. Terlambatnya skedul proyek secara keseluruhan.
6 Keterlambatan pendatangan material Keterlambatan pembayaran terhadap vendor Penambahan biaya tak langsung yang berdampak penurunan margin.
7 Komplain dari Pemerintah Daerah maupun dari masyarakat sekitar. Tanah dan debu berterbangan mengotori jalan umum Denda ataupun biaya kompensasi terhadap masyarakat sekitar.
8 Kehilangan margin yang disebar pada item pekerjaan terkait material SBO tersebut. Terdapat sebagian material supplied by owner (SBO) Turunnya margin dari yang direncanakan.
9 Penambahan biaya akibat penambahan nilai slump untuk workability beton Lalu lintas menuju lokasi proyek cukup padat dan memperpanjang waktu perjalanan truk readymix Turunnya margin dari yang direncanakan.
10 Pembayaran material impor akan mempengaruhi biaya proyek secara signifikan. Kenaikan kurs USD Penambahan biaya tak langsung yang berdampak penurunan margin.
11 Perubahan design/metode pekerjaan pondasi tiang pancang. Struktur tanah tidak mendukung untuk pondasi tiang pancang. Penambahan biaya langsung dari yang direncanakan.
12 Adanya perubahan design atau spesifikasi Perubahan design atau spesifikasi yang merupakan permintaan dari pihak owner Penambahan waktu, biaya langsung dan tak langsung dari yang direncanakan.
13 Kerusakan atau kehilangan material Tempat/ stok material kurang aman Penambahan biaya langsung dari yang direncanakan.
14 Produktifitas tenaga kerja yang rendah Tenaga kerja dilapangan ketrampilannya kurang baik. Penambahan biaya langsung dari yang direncanakan.
15 Kondisi struktur tidak sesuai standard Perancah dan bekisting sudah tidak layak. Penambahan biaya langsung dari yang direncanakan.

2. Analisa Risiko

Analisa risiko dilakukan dengan menjabarkan risiko yang dapat terjadi dan dampak yang ditimbulkannya kemudian di buatlah variable risiko untuk dikelompokkan sesuai bagian atau fungsi kerja masing-masing sesuai Tabel 2.

No. Variabel Risiko Notasi
1 Risiko Engineering A
2 Risiko Komersial B
3 Risiko Produksi C
4 Risiko Keuangan D
5 Risiko SHE E
6 Risiko QA F
7 Risiko Pengadaan G

Dari daftar risiko dan akibat yang di timbulkan di lakukan penilaian berdasarkan 2 (dua) kriteria yaitu Rating kemungkinan risiko tersebut terjadi (Sangat besar, Besar, Sedang, Kecil, Sangat Kecil) sesuai tabel 3..

Rating Kemungkinan Kuantitatif Kualitatif
I Sangat Besar Diatas 80% Dipastikan akan sangat mungkin terjadi
II Besar Diatas 60% s.d 80% Kemungkinan besar dapat terjadi
III Sedang Diatas 40% s.d 60% Sama kemungkinannya antara terjadi atau tidak terjadi
IV Kecil Diatas 20% s.d 40% Kemungkinan kecil dapat terjadi
V Sangat Kecil s.d 20% Dipastikan akan sangat tidak mungkin terjadi

 

dan kriteria Rating akibat yang di timbulkan (Tidak berat, Agak berat, Berat, Sangat berat, Fatal) terdapat Lampiran 4. Selanjutnya hasil dari analisa risiko rating kemungkinan dan rating akibat ditunjukkan pada tabel 4 di bawah ini.

NO RISIKO AKIBAT RATING

AKIBAT

PROBA-

BILITAS

A1 Gambar tender yang tidak lengkap dan detail. Turunnya margin dari yang direncanakan. Sangat Berat Sedang
A2 Elevasi dasar bangunan tidak jelas pada gambar tender. Penambahan biaya pada pekerjaan galian dan urugan. Berat Besar
A3 Struktur tanah tidak mendukung untuk pondasi tiang pancang. Penambahan biaya langsung dari yang direncanakan. Sangat Berat Besar
A4 Perubahan design atau spesifikasi atas permintaan owner Penambahan waktu, biaya langsung dan tak langsung dari yang direncanakan Berat Sedang
B1 Kenaikan harga BBM dan TDL Turunnya margin dari yang direncanakan. Sangat Berat Sedang
B2 Terdapat sebagian material supplied by owner (SBO) Turunnya margin dari yang direncanakan. Berat Sedang
C1 Lalu lintas menuju lokasi proyek cukup padat dan memperpanjang waktu perjalanan truk readymix Turunnya margin dari yang direncanakan. Berat Sedang
C2 Tenaga kerja dilapangan ketrampilannya kurang baik. Penambahan biaya langsung dari yang direncanakan. Agak Berat Kecil
D1 Keterlambatan pembayaran terhadap vendor Terlambatnya skedul proyek secara keseluruhan. Sangat Berat Sedang
E1 Tanah dan debu berterbangan mengotori jalan umum Denda ataupun biaya kompensasi terhadap masyarakat sekitar. Tidak Berat Kecil
F1 Kualitas pekerjaan tidak diterima Owner Penambahan biaya langsung dari yang direncanakan. Sangat Berat Sedang
F2 Perancah dan bekisting sudah tidak layak. Penambahan biaya langsung dari yang direncanakan. Sangat Berat Sedang
G1 Keterlambatan pendatangan material. Penambahan biaya tak langsung yang berdampak penurunan margin. Sangat Berat Sedang
G2 Kenaikan kurs USD Penambahan biaya tak langsung yang berdampak penurunan margin. Sangat Berat Sedang
G3 Tempat/ stok material kurang aman Penambahan biaya langsung dari yang direncanakan. Agak Berat Kecil

3. Tindak Lanjut

Proses pengendalian risiko dilakukan dengan melakukan penanganan meliputi : menghindari risiko, mengurangi sumber risiko, merubah kemungkinan terjadinya, merubah dampak atau berbagi risiko dengan pihak lain. Untuk memutuskan pilihan tersebut maka dibuatlah Rencana Tindak Lanjut penanganan risiko.

Rencana tindak lanjut dilakukan oleh masing-masing penanggung jawab sesuai dengan fungsi kerja dengan tujuan untuk menurunkan tingkat risiko yang akan terjadi. Memberikan opsi tindak lanjut yang memungkinkan dan menghitung biaya yang diperlukan untuk melaksanakan opsi tersebut serta bagaimana cara memonitornya

4. Hasil Tindak Lanjut

5. Pengendalian Risiko

6. Kriteria Penting Dalam Memilih Metode Kontrak

  • Keterlibatan Employer dengan Proses Konstruksi
  • Pemisahan desain dari manajemen
  • Penyediaan Hak Employer Untuk Mengubah Spesifikasi
  • Kompleksitas Proyek
  • Kecepatan mulai sampai selesai
  • Kejelasan Perbaikan Kontrak
  • Kepastian Harga

 

7. Menentukan Jenis Kontrak

Pemilik proyek dalam hal ini PT. XXX yang akan mendanai pembangunan akan menjadi klien dari proyek konstruksi. PT. YYY sebagai kontraktor yang di tunjuk untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Keputusan berikutnya adalah apakah paket pekerjaan termasuk desain, atau perlu membuat desain sebelum pelaksanaan pekerjaan. Dalam hal ini paket pekerjaan dalam kontrak adalah perencanaan dan pembangunan. pengawasan dilakukan oleh in house atau tim internal Employer dengan nilai kontrak yang telah di tetapkan.

Karena gambar tender yang diterima tidak lengkap dan tidak detail maka deviasi pekerjaan saat tender dengan pelaksanaan berpotensi tinggi. Namun kontraktor bertanggung jawab untuk membuat desain dan gambar detail pelaksanaan sehingga dapat di sesuaikan. Jenis kontrak yang paling tepat menurut kontraktor berdasarkan delivery metode adalah Perencanaan dan pembangunan (Design and Built) dengan perhitungan biaya Kontrak Lumpsum Fix Prize.

8. Kesimpulan

Dari analisa risiko, hasil tindak lanjut dan pengendalian risiko menemukan bahwa gambar tender yang tidak lengkap dan detail, struktur tanah tidak mendukung untuk pondasi tiang pancang, kenaikan harga BBM dan TDL, kualitas pekerjaan tidak di terima oleh owner adalah variable yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Berdasarkan analisa risiko disimpulkan jenis kontrak yang paling tepat menurut kontraktor berdasarkan delivery metode adalah Perencanaan dan Pembangunan (Design and Built) dengan perhitungan biaya Kontrak Lumpsum (Fix Price Contract).

Kontraktor menerima semua risiko yang ada kemudian untuk mengurangi risiko akibat gambar tender yang tidak lengkap dan detail dengan mentransfer risiko, memberikan pekerjaan perencanaan kepada konsultan perencana dan menyesuaikan desain dengan penawaran.

Analisa Risiko Dan Pemilihan Jenis Kontrak

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kota Surabaya adalah ibu kota Provinsi Jawa Timur sekaligus menjadi kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Menjadi pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di Jawa Timur serta wilayah Indonesia bagian timur. Hal ini membawa konsekuensi logis tingginya urbanisasi dan tuntutan ketersediaan pemukiman dan hunian yang layak. Terbatasnya ketersediaan lahan dan mahalnya harga tanah menjadi kendala utama pengembang dalam menyediakan perumahan yang terjangkau bagi masyarakat kelas menengah kebawah. Hal ini menjadi pertimbangan sehingga pengembang perumahan di Surabaya tidak lagi horizontal yang memakan banyak lahan tetapi mengarah kehunian vertikal, kalaupun pilih landed, terpaksa jauh dari pusat Surabaya.

Pemerintah Kota Surabaya berkomitmen memudahkan izin bisnis properti bagi para pengembang yang ingin berinvestasi di Kota Pahlawan. Komitmen tersebut akan diwujudkan melalui penerbitan Peraturan Wali Kota, yang di antaranya menyederhanakan proses perizinan sehingga menghemat waktu dan biaya. Jika sebelumnya proses terbitnya Izin Mendirikan Bangunan atau IMB bisa memakan waktu dua tahun atau lebih menjadi selama enam bulan. Proses perizinan yang harus satu persatu, mulai dari Surat Keterangan Rencana Kota (SKRK), Upaya Kelola Lingkungan-Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL), hingga berbagai jenis Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dapat dilakukan secara bersamaan.

Kebutuhan apartemen di Surabaya sangat tinggi, terutama untuk kelas menengah dan menengah ke bawah. Apalagi, tidak mudah untuk mendapatkan hunian tapak dengan harga terjangkau. Sehingga banyak sekali di bangun Apartemen dan Komplek Pertokoan Central Business District (CBD) dengan konsep superblok. Kombinasi antara hunian, perkantoran, ruko dan mall.

1.2. Batasan Masalah

Terdapat banyak hal yang dipertimbangkan dalam menyepakati kontrak. Aspek hukum , teknis , keuangan , perpajakan , asuransi , sosial ekonomi dan Administrasi adalah aspek-aspek yang ditinjau dalam pelaksanaan kontrak konstruksi. Tentu dalam pelaksanaan kontrak dengan banyak aspek yang dipertimbangkan , ada risiko-risiko yang dapat mengancam , bahkan membatalkan kontrak yang dibuat.

Penulisan makalah ini fokus pada pembahasan proses pemilihan kontrak pada proyek kontruksi Pembangunan Struktur, Arsitektur, Mekanikal Elektrikal & Plumbing Apartemen Dan Ruko XXX Surabaya.

Melakukan analisis terkait resiko proyek dan dengan memperhatikan alokasi resiko-resiko tersebut kemudian merekomendasikan bentuk kontrak berdasarkan delivery method dan cara perhitungan biaya (fixed lump sum/fixed unit rate/cost+fee/turn-key).

1.3. Data Proyek

Terlampir.

 

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kontrak Kerja Konstruksi

Definisi kontrak menurut PMBOK adalah dokumen yang mengikat pembeli dan penjual secara hukum. Kontrak merupakan persetujuan yang mengikat penjual dan penyedia jasa, barang, maupun suatu hasil, dan mengikat pembeli untuk menyediakan uang atau pertimbangan lain yang berharga.Kontrak berarti Perjanjian Kontrak (Contract Agreement), Surat Penunjukan (Letter of Acceptance), Surat Penawaran (Letter of Tender), Persyaratan (Conditions), Spesifikasi (Spesifications), Gambar-gambar (Drawings), Jadual/Daftar (Schedules), dan dokumen lain (bila ada) yang tercantum dalam perjanjian kontrak atau dalam Surat Penunjukan (FIDIC Edisi 2006). UU Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 tentang jasa konstruksi dijelaskan bahwa kontrak kerja konstruksi merupakan keseluruhan dokumen yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi.Kontrak kerja konstruksi adalah juga kontrak bisinis yang merupakan suatu perjanjian dalam bentuk tertulis dimana substansi yang disetujui oleh para pihak yang terikat di dalamnya terdapat tindakan-tindakan yang bermuatan bisnis. Sedangkan yang dimaksud bisnis adalah tindakan yang mempunyai aspek komersial. Dengan demikian kontrak kerja konstruksi yang juga merupakan kontrak bisnis adalah perjanjian tertulis antara dua atau lebih pihak yang mempunyai nilai komersial (Hikmahanto Juwana, 2001).

 

2.2.      Jenis- Jenis Kontrak

Pemilihan jenis kontrak yang sesuai untuk suatu proyek konstruksi lebih didasarkan pada karakteristik dan kondisi proyek. Tiga jenis kontrak pada proyek konstruksi berdasarkan perhitungan biaya adalah

  1. Kontrak Harga Satuan (Unit Price Contract)

Dalam menggunakan kontrak jenis ini, kontraktor hanya menentukan harga satuan pekerjaan. Kontraktor perlu memperhitungkan semua biaya yang mungkin dikeluarkan pada item penawarannya, seperti biaya overhead dan keuntungan. Jenis kontrak ini digunakan jika kuantitas aktual masing-masing item pekerjaan sulit untuk diestimasi secara akurat sebelum proyek dimulai. Untuk menentukan kuantitas pekerjaan yang sesungguhnya, dilakukan pengukuran (opname) bersama pemilik dan kontraktor terhadap kuantitas terpasang. Kelemahan dari penggunaan kontrak jenis ini, yaitu pemilik tidak dapat mengetahui secara pasti biaya aktual proyek hingga proyek itu selesai.

2. Kontrak Biaya Plus Jasa (Cost Plus Fee Contract)

Pada kontrak jenis ini, kontraktor akan menerima pembayaran atas pengeluarannya, ditambah dengan biaya untuk overhead dan keuntungan. Besarnya biaya overhead dan keuntungan, umumnya didasarkan atas persentase biaya yang dikeluarkan kontraktor.Kontrak jenis ini umumnya digunakan jika biaya aktual dari proyek belum bisa diestimasi secara akurat, karena perencanaan belum selesai, proyek tidak dapat digambarkan secara akurat, proyek harus diselesaikan dalam waktu singkat, sementara rencana dan spesifikasi belum dapat diselesaikan. Kekurangan dari kontrak jenis ini, yaitu pemilik tidak dapat mengetahui biaya aktual proyek yang akan dilaksanakan.

3. Cost Plus Fix Fee Contract

Kontrak ini jumlah fee ditetapkan secara pasti tanpa melihat besarnya biaya fisik yang dikeluarkan. Kontrak ini dapat diterapkan bila pekerjaan sudah dirumuskan secara garis besar dan jelas.

4. Kontrak Biaya Menyeluruh (Lump Sum Contract)

Kontrak ini menyatakan bahwa kontraktor akan melaksanakan proyek sesuai dengan rancangan biaya tertentu. Jika terjadi perubahan dalam kontrak, perlu dilakukan negosiasi antara pemilik dan kontraktor untuk menetapkan besarnya pembayaran (tambah atau kurang) yang akan diberikan kepada kontraktor terhadap perubahan tersebut. Kontrak ini dapat diterapkan jika perencanaan benar-benar telah selesai, sehingga kontraktor dapat melakukan estimasi kuantitas secara akurat. Pemilik dengan anggaran terbatas akan memilih jenis kontrak ini, karena merupakan satu-satunya jenis kontrak yang memberi nilai pasti terhadap biaya yang akan dikeluarkan.

 

Setiap proyek melalui suatu daur hidup proyek. Sistem pelaksanaan seluruh tahapan yang terkait dengan pihak-pihak yang akan terlibat dalam setiap tahapan disebut project delivery system (PDS) atau sistem pelaksanaan proyek. Pemilik proyek di hadapkan pada pilihan untuk menetapkan PDSdengan pertimbanganPengalaman, kebiasaan, Saran konsultan, Sumber dan kendala pembiayaan, Penggunaan sumber daya yang dimiliki dan keinginanstakeholder dari proyek.

Jenis kontrak proyek berdasarkan delivery method adalah :

  1. General Contracting.

Pada sistem ini owner hanya memberikan desain kepada general contractor (Main Contractor) yang berfungsi sebagai construction manager untuk mengkoordinasikan beberapasub-kontraktor.

2. Design and Build.

Pada sistem ini pekerjaan desain dan konstruksidiserahkan kepada perusahaan. Perusahaan yang ditunjuk dapat mengerjakan proyek dan pekerjaannya sendiri atau mengalihkan sebagian pekerjaannya pada sub contractor. Untuk bangunan industri seperti pabrik dan power plant dikenal istilah yang mirip dengan DB, yaitu Engineering, Procurement, Construction (EPC). Dalam EPC satu entitas bertugas untuk melakukan kegiatan perancangan engineering, pembelian bahan dan alat, serta melakukan pelaksanaan konstruksi.

3. Construction Management.

Pada sistem ini proses desain dan pembuatan jadwal ditangani oleh konsultan. Pemilihan suatu kontraktor dilakukan secara langsung oleh klien. Kontraktor yang dipilih dapat lebih dari satu, jadi dalam satu proyek bisa terdapat beberapakontraktor. Untuk mengkoordinasikan para kontraktor tersebut, maka klien mengangkat sebuah tim manajemenkonstruksi.

4. Management Contracting.

Pada sistem ini klien menyerahkan tugas desain kepada konsultan yang juga bertindak sebagai pengawas jalannya proyek.

5. Swakelola (owner-provided)

Swakelola dilakukan jika lingkup pekerjaan sesuai dengan keahlian, pengalaman, dan sumber daya yang dimiliki oleh owner. Swakelola bias dilakukan baik untuk perancangan maupun pelaksanaan. Owner dapat menambahkan sumber daya pada bagian perancangan dari seorang ahli perancangan. Owner dapat pula berlaku sebagai general contractor yang mengelola beberapa sub-kontraktor. Dalam hal ini owner harus memiliki ijin praktek dan juga sertifikat yang memadai. Contoh: Bina Marga melakukan swakelola untuk pekerjaan pemeliharaan jalan dan jembatan.

 

2.3.      Manajemen Risiko

Setiap proyek konstruksi pada dasarnya melibatkan risiko yang tidak dapat dihindari dari berbagai jenis. Walaupun telah dianalisis dan diklasifikasikan, tetapi analisis awal kadang jarang terjadi. Biasanya, spektrum yang luas dari risiko berkurang untuk beberapa kategori, seperti waktu, biaya, kinerja / kualitas, kesehatan dan keselamatan bahkan mungkin resiko lingkungan. Contoh-contoh berikut ini merangkum banyak risiko (berdasarkan Abrahamson 1984, Buni 1985), antara lain Manajemen, pengarahan dan pengawasan, Fhysical work, Delay dan perselisihan, Kerusakan dan cedera dan property, Faktor eksternal, Pembayaran, Hukum dan arbitrase

 

2.4.      Analisa Risiko

Secara sederhana, analisis resiko atau risk analysis dapat diartikan sebagai sebuah prosedur untuk mengenali satu ancaman dan kerentanan, kemudian menganalisanya untuk memastikan hasil pembongkaran, dan menyoroti bagaimana dampak-dampak yang ditimbulkan dapat dihilangkan atau dikurangi. Analisis resiko juga dipahami sebagai sebuah proses untuk menentukan pengamanan macam apa yang cocok atau layak untuk sebuah sistem atau lingkungan (ISO 1799, “An Introduction To Risk Analysis”, 2012).

Pengertian Analisa risiko kuantitatif menurut Santosa (2009) adalah salah satu metode untuk mengidentifikasi risiko kemungkinan kerusakan atau kegagalan sistem dan memprediksi besarnya kerugian. Dalam menganalisa risiko kuantitatif, dilakukan perhitungan antara probabilitas kejadian dengan dampak. Hal tersebut dapat dilihat pada rumus dibawah ini :

Tingkat kepentingan risiko = probabilitas x dampak        ……………………………(1)

Sedangkan untuk mengurutkan risiko yang merupakan perkalian antara frekuensi dengan dampak dimulai dari yang terbesar sampai yang terkecil.

Indeks risiko dirumuskan oleh Sonhadji (2011) berdasarkan probabilitas dan dampaknya. Probabilitas adalah banyaknya kemungkinan terjadinya risiko. Probabilitas dapat didasarkan pada analisis statistik atau didasarkan pada frekwensi kejadian yang terjadi dimasa lalu. Sedangkan dampak merupakan akibat dari terjadinya risiko, dimana dampak tersebut dapat mengakibatkan terjadinya kerugian yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dari proyek. Besar kecilnya dampak dilihat dari besar kecilnya kerugian yang ditimbulkan.

Dari indeks risiko dapat ditetapkan tingkat risiko. Dimana tingkat risiko dibagi menjadi 4 (empat) yaitu risiko rendah (R), risiko sedang / moderat (M), risiko tinggi (T) dan risiko ekstrim (E). Penggolongan untuk tingkat risiko  menggunakan tabel 1.

Tabel Rating Risiko

Tabel Rating Risiko

Keterangan.

Merah      : E (Ekstrim Risk), Diperlukan tindakan segera

Coklat      : H (High Risk), Dibutuhkan perhatian manajemen senior

Kuning     : M (Moderat Risk), Tanggung jawab manajemen harus ditentukan

Hijau        : L (Low Risk), Dikelola dengan prosedur rutin

 

2.5. Pengendalian Risiko

Pengendalian resiko ( risk control ) adalah suatu tindakan untuk menyelamatkan perusahaan dari kerugian. Proses pengendalian risiko dilakukan dengan melakukan penanganan meliputi :

  1. Avoid Risks. Opsi menghindari risiko ini diambil apabila risiko memiliki kemungkinan tinggi dengan dampak yang tinggi.
  2. Transfer Risk. Yaitu memindahkan risiko kepada pihak lain dengan kompensasi, opsi ini diambil jika risiko memiliki kemungkinan medium dengan dampak yang tinggi. Contohnya dengan melakukan pekerjaan Outsourcing, di subkontrakkan atau di asuransikan.
  3. Treat Risks with Control. Opsi ini diambil apabila resiko mempunyai kemungkinan tinggi dengan dampak medium.
  4. Accept Risk. Menerima resiko karena memiliki kemungkinan rendah dengan dampak rendah.

 

2.6. Alokasi Risiko Dan Keputusan Pemilihan Jenis Kontrak

Pemilihan jenis kontrak adalah penentuan besaran risiko yang dialokasikan ke masing-masing pihak. Jenis kontrak tertentu memberikan besaran risiko yang tertentu pula pada masing-masing pihak dalam proyek. Pada jenis kontrak lump sum, kontraktor akan menanggung lebih banyak risiko dibandingkan dengan kontrak unit price.

Pemilihan jenis kontrak yang baik pada dasarnya adalah penentuan alokasi risiko berdasarkan kondisi proyek yang diberikan secara tepat kepada masing-masing pihak (yang terikat dalam kontrak) dimana dianggap paling mampu untuk mengatasi alokasi risiko tersebut. Pemilihan jenis kontrak tidak boleh dipandang untuk mengalihkan seluruh risiko kepada kontraktor sebagaimana yang sering terjadi terutama pada proyek swasta, karena hal ini hanya akan meningkatkan biaya dari yang seharusnya.

Dalam menentukan jenis kontrak berdasarkan delivery method. Hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana pendanaan, desain dan koordinasi proyek tersebut akan di lakukan. Pendekatan yang harus di pertimbangkan dalam pemilihat jenis kontrak berdasarkan delivery metode ditunjukkan pada gambar 2 di bawah ini.

Contracts delivery methodes

Pemilihan tipe kontrak yang tepat dengan mempertimbangkan faktor risiko dan alokasi risiko tidak hanya akan mempengaruhi besarnya biaya pekerjaan konstruksi, tetapi juga akan mempengaruhi kesuksesan suatu proyek baik dari sisi penyedia jasa maupun dari pengguna jasa.

Dalam pemilihan tipe kontrak berdasarkan perhitungan biaya, penggunaan tipe cost plus contract akan memberikan tingkat kesuksesan pada proyek yang semakin tinggi dilihat dari perspektif pengguna jasa dan penyedia jasa, seiring dengan semakin tingginya ketidakpastian yang terdapat pada proyek tersebut. Demikian pula sebaliknya pemilihan fixed price contract akan memberikan tingkat kesuksesan yang semakin tinggi dilihat dari perspektif penyedia jasa dan pengguna jasa, seiring dengan semakin rendahnya ketidak pastian yang terdapat pada proyek tersebut.

 

Pustaka

Hughes, W. Champion, R. and Murdoch, J. (2015), Construction Contracts, Law and management.. — Fifth edition

Santosa, Budi, (2009), Manajemen Proyek, Graha Ilmu, Yogyakarta, hal 191 – 206

Sonhadji, (2011), Manajemen Resiko Dalam Project Jalan Tol, Thesis Magister Teknik Sipil, Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, hal 25 – 45

ISO 31000:2009, clause 2.1

Project Management Institute, Inc., (2013), A guide to the project management body of knowledge (PMBOK® guide). — Fifth edition

MDB Harmonised Edition, (March 2006 Version), Construction Contract: Conditions of Contract for Construction, FIDIC

Ir. H. Nazarkhan Yasin, (2013), KONTRAK KONTRUKSI DI INDONESIA, Edisi Kedua

https://manshurzikri.wordpress.com/2012/06/04/analisis-resiko-dan-beberapa-metodologinya/

http://karyatulisilmiah.com/analisa-risiko-kuantitatif/

http://www.slideshare.net/ditkaminfo/manajemen-risiko-46803418

http://www.jpnn.com/read/2014/04/04/226235/Puncak-Suplai-Apartemen-Menengah-ke-Bawah-

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/144594-pemkot-surabaya-inginkan-hutan-apartemen

http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/03/26/nltnn4-pemkot-surabaya-permudah-izin-bisnis-properti

http://8aspekmanajemenproyekkonstruksi.blogspot.co.id/2014/11/aspek-aspek-yang-terkandung-dalam.html

Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000)

SNI 04-0225-2000 PUIL 2000 dapat di unduh disini

Peraturan instalasi listrik yang pertama kali digunakan sebagai pedoman beberapa instansi yang berkaitan dengan instalasi listrik adalah AVE (Algemene Voorschriften voor Electrische Sterkstroom Instalaties) yang diterbitkan sebagai Norma N 2004 oleh Dewan Normalisasi Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian AVE N 2004 ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan pada tahun 1964 sebagai Norma Indonesia NI6 yang kemudian dikenal sebagai Peraturan Umum Instalasi Listrik disingkat PUIL 1964, yang merupakan penerbitan pertama dan PUIL 1977 dan 1987 adalah penerbitan PUIL yang kedua dan ketiga yang merupakan hasil penyempurnaan atau revisi dari PUIL sebelumnya, maka PUIL 2000 ini merupakan terbitan ke 4. Jika dalam penerbitan PUIL 1964, 1977 dan 1987 nama buku ini adalah Peraturan Umum Instalasi Listrik, maka pada penerbitan sekarang tahun 2000, namanya menjadi Persyaratan Umum Instalasi Listrik dengan tetap mempertahankan singkatannya yang sama yaitu PUIL.

Peralatan Laboratorium dan Bahan Kimia Pabrik Minyak Kelapa Sawit

Pendahuluan

Laboratorium CPO

Laboratorium CPO

Pengertian pengendalian mutu adalah kegiatan terpadu mulai dari pengendalian standar mutu bahan, standar proses produksi, barang setengah jadi,barang jadi, sampai standar pengiriman produk akhir ke konsumen agar barang (jasa) yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi mutu yang direncanakan

(Prawirosentono, 2007:74).
Tugas dan fungsi utama Laboratorium selain pencatatan dan pelaporan adalah dapat menganalisa faktor penyebab terjadinya penyimpangan kualitas CPO sehingga dapat dilakukan action pencegahan dan perbaikan oleh manajemen. faktor – faktor pembentuk kulaitas CPO adalah faktor bahan baku, metode kerja,manusia, mesin, metode kerja, serta lingkungan kerja. Di mana faktor yang secara umum paling berpengaruh adalah bahan baku, metode kerja, serta manusia.

Fungsi dan Tugas Laboratorium

  1. Analisa mutu minyak sawit (CPO) dan inti sawit (Kernel)
  2. Analisa oil losses. Prosentase kehilangan minyak per FFB (Oil looses/FFB) pada :
    • Janjang kosong
    • Brondolan dalam janjang kosong
    • Janjang keras
    • Ampas fibre pada press
    • Biji / Nuts
    • Sludge ex separator
    • Solid basah ex Decanter
    • Limbah pabrik terakhir (Effluent)
  3. Analisa kernel losses. Prosentase kehilangan kernel per FFB (Kernel Loss/FFB) pada :
    • Brondolan dalam janjang kosong
    • Janjang keras
    • Fibre Cyclone
    • Cangkang Hydrocyclone
    • LTDS
  4. Menganalisa Raw water ( bahan baku air, yang pada umum nya diperoleh dari pembuatan waduk konvensional atau dari air sungai) dan Boiler water
  5. Memonitor perubahan anaerobik dengan melakukan analisa rutin limbah (PME, Palm Mill Effluent).

 

Palm Oil Mill Laboratorium

Palm Oil Mill Laboratorium

Parameter Mutu Minyak Sawit

Selama ini standart mutu yang digunakan oleh Pabrik Minyak Kelapa Sawit cenderung mengikuti kontrak kerja yang ditetapkan oleh pembeli utamanya seperti PT. Willmar.
Pemerintah melalui BSN telah menetapkan standarisasi mutu CPO yang dimuat dalam SNI-01-2901-2006 yaitu:
No Karakteristik Keterangan
1 Kadar asam lemak bebas < 5,00 %
2 Kadar air < 0,50 %
3 Kadar kotoran < 0,50 %
4 Bilangan Yodium 50 – 55 g / 100 g TBS
5 Warna CPO (crude palm oil) Jingga kemerah-merahan
Dalam prakteknya untuk menghasilkan kualitas mutu CPO yang di hasilkan dari proses pengolahan di tetapkan baku mutu sebagai berikut :
  • Nilai FFA dalam CPO sebaik nya tidak lebih dari 4%.
  • Nilai kadar air (moisture content) pada CPO sebaik nya tidak lebih dari 0,4%.
  • Nilai Kadar kotoran (dirt content) pada CPO sebaik nya tidak lebih dari 0,04%.
  • Nilai Peroxide value pada CPO sebaik nya tidak lebih dari 1 meq/kgl.
  • Nilai Dobi yang baik harus lebih dari 2,5. Semakin tinggi nilai DOBI pada CPO menunjukkan mutu CPO yang bersangkutan semakin baik.

Peralatan Laboratorium Pabrik Minyak Kelapa Sawit

No. Description MODEL/TYPE QTY
1 Analitical balance C/W

piring tunggal

Meetler AE-200, Cap. 200 gr 1
Timbangan elektronik Sartorius A200S divisi 0,0001 gr, max 200 gr
2 Triple bean balance Ohaus, 2610 gr 1
Timbangan digital Sartorius 1002, 0,1-500 gr 1
Timbangan analitic Sartorius 1702/ 1712, 0,1-200 gr 1
3 Ton pan balance Skala 1 kg, cap. 50 kg 1
4 Timbangan set 238 Ohaus %, 1mg-200 gr 1
214   – 11 USA, ½ kg-5kg
5 Ekstraksi Sokhlet Termostat kotrol 230-V, pemanas listrik u/250ml, tabung komplit tiang penyangga boss head & kle penjepit gelas kondensor, 6×150 w, cat.No.EME 6, 0250/C 2
6 Ekstraktor Quickfit 200ml, Socket 40/38, kerucut 29/32 15
7 Kondensor Quickfit 200 ml, kerucut 40/38 15
8 Flat bottom flask Quickfit : 250 gr, Socket 29/32 20
9 Hexana distilasi set :
a. Isopad isomantel Electro mantel, 1000 ml 1
b. Leibig kondensor socket & kerucut, 24/29 1
c. Deliveri adapter socket 24/29 1
d. Plain still Head socket 14/23, kerucut 24/29
e. Round bottom flask soket 24/29 1
10 VFA distilasi set :
a. Leibig kondensor NS 29/32, 500 ml 1
b. flat bottom flask NS 29/32 1
c. Still two head cone NS 29/32,u/n uap Receiver adapter 1
d. (palaintbent) NS 29/32 1
11 Oven listrik  C/W thermostat Binder F 53 T, 400 x 400, V – 53 ltr, 330 mm, 220 v, min 200 c 2
12 Flat pemanas listrik model IKAMAG RH, 220 vlt,

415 kw, 22-2000rpm, C/W stirrer magnit dan kaki buret otomatis

1
13 Pompa vacum RRC 2 x 0.5, max. tor 5×0.0001 1
14 Vacum flask schot/duran 1000 ml 2
15 Electri water still IKA DEST model 3000 1
16 Desikator dan

vacum break

memmert 350 – 6 lubang 220 v, NS 850.067, dia 25 cm 2
18 Pengukur konduktif

(TDS meter)

Myron Model 532T1/USA, 0-5000 ppm 1
19 Flokulator u/Jar test PCI (Paterson), candy int. ltd 1
20 pH meter digitalt : Corning Model 220, Digital pH meter, Range : 0.00 to-14.00 in 0.001 1
21 Centrifuge Electric 4 tabung 1
22 Silica Test Kit Merk : Lamote, Range 0-10 ppm 1
23 Alat test air boiler  c/w chemical dan reaktif 1
24 StopwatcH 2
25 Alat penghitung 4 angka 3
26 Thermometer 30 cm 0-150 C 6
27 Penjepit gelas kimia Quickfit 600 ml 1
28 Slang plastik william int dia 5/16, u/ hubungan kondensor pada suply air 10m
29 Cawan porselein 75 ml 24
30 mortar&pestle porselein RRC – dia 13 cm 2
31 Gelas ukur 1000 ml 2
32 Gelas ukur 100 ml 3
33 Gelas ukur 50 ml 3
34 Gelas ukur 25 ml 4
35 Gelas ukur 10 ml 2
36 Burete otomatis

c/w 500 ml botol plastik

Brand Germany, 15×0,1 ml 2
37 Burete otomatis

c/w 500 ml botol plastik

Brand Germany, 25×0,1 ml 2
38 Beaker gelas pirex/duran, 1000 ml 2
39 Beaker gelas pirex/duran, 500 ml 12
40 Beaker gelas pirex/duran, 250 ml 10
41 Beaker gelas pirex/duran, 100 ml 12
42 Beaker gelas pirex/duran, 50 ml 6
43 Corong plastik dia 10 cm 4
44 Corong plastik dia 6 cm 4
45 Bottol gelas droping 100 ml 4
46 Crystallising Dish Dia 70mm x T.40mm, 150 ml 18
47 Tabung centrifuge kapasitas 15 ml, 10×0,1 ml 12
48 Tabung dgn ukuran isi 1000 ml 4
49 Pipet bola 20 ml 1
50 Pipet bola 10 ml 2
51 Pipet berukuran 10 ml 2
52 Pipet berukuran 5 ml 2
53 Gooch crusible dia. Dasar 25 mm, 50 ml 12
54 Petri dish dia 100mm 10
55 Botol bahan kimia 250 ml 6
56 Erlemeyer pirex/duran, 1000 ml 2
57 Erlemeyer pirex/duran, 500 ml 2
58 Erlemeyer pirex/duran, 250 ml 12
59 Erlemeyer pirex/duran, 150 ml 12
60 Botol timbangan 15 ml 1
61 Tangkai pengaduk gelas pirex/duran, 20 cm 2
62 Bidal ekstraksi (timbel) whatman 25 pcs, 33×110 mm 6
63 Filter GF/B whatman, dia 2,5 cm 6
64 Whatman kertas filter I dia 12,5 3
65 Silika gel  u/desikator 6
66 Silikon grease  u/desikator 1
67 Spatula besi 150 mm 2
68 Botol plastik dg tutup 250 ml 350
69 Botol plastik dg tutup 1 galon 20
70 Botol pencuci d/plastik 500 ml 3
71 Corong plastik dia 1 dm3 1
72 Labu ukur 1000 ml 2
73 Labu ukur 100 ml 2
74 PIpa gelas dia 9 mm 1 kg
75 Rubber cone 1”x 4 cm 2
76 Pipet dg penekan karet 2
77 Pemadam kebakaran 6 kg 1
78 Kantong plastik tebal lbr 26 cm, T 40 cm 5 kg
79 Nampan sampel Aluminium 2
80 Tempat mengambil

sampel storage tank

200 ml 1
81 Pisau Stainless steel 2
82 Kampak 0,5 kg 1
83 Sikat tabung percobaan 2

 

Laboratorium PMKS

 

Bahan Kimia Laboratorium Pabrik Minyak Kelapa Sawit

No. Description Model/Type QTY
1 Pellets NaOH merck ART.5033, 1000 gr/b 1 btl
2 Pottasium hydrogen phthalate merk ART.4874, 500 gr/b 1 btl
3 Bubu phenophthalein merk ART.7233, 100 gr/b 1 btl
4 Bubuk methil orange merk ART.1322, 100 gr/b 1 btl
5 Iso propil alkohol AR.grade 96%, 2,5 ltr/b 2 btl
6 Hexana Commercial grade, 250 ltr/dr 1 drum
7 Konsentrat asam sulfat AR. Grade 95-97%, 5 ltr/btl 2 btl
8 Asam asetat, glacial UNIVAR UN 2789, 2,5 ltr/b 1 btl
9 Ethanol UNIVAR 95% murni, 2,5 ltr/b 1 btl
10 Wol katun 4 kg
11 Bubuk ammonium molybdat UNIVAR (81-83%), 10 gr/100 cc H20, 500 gr/btl 1 btl
C. Spares
1 Mantel pemanas untuk ekstraksi dg soklet 150 watt 6

Starting Motor With Auto Transformator (Auto Trafo)

Pendahuluan

Inti dari starting motor adalah bagaimana mengurangi arus start yang dapat mencapai 6 x In (arus nominal). Pada mode starting ini , tegangan awal yang dberikan pada motor mengalami pengurangan melalui sebuah autotransformator dan setelah beberapa detik kecepatan steady motor tercapai , tegangan yang menuju terminal stator motor dikembalikan keposisi nilai tegangan normal melalui perpindahan rangkaian kontak seperti terlihat pada gambar dibawah ini. Auto-Transformer biasanya mempunyai 3 pilihan taps pada masing-masing fasa (50%, 65%, 80%), sehingga karakteristik start motor dapat di pilih sesuai dengan kondisi beban.

Auto Trafo Centrado

Gambar 1. Auto Trafo CENTRADO.

Alat dan Bahan

Alat kerja :

  1. Bor tangan
  2. Hole Cutter
  3. Tool kitt (obeng, tang, dll)
  4. Tang Press, Crimping atau schoen
  5. Cutter

Bahan kerja :

  • 1 bh Box Panel type MCC, Free Standing
  • 1 bh Auto Trafo, 55 kW, CENTRADO
  • 1 bh MCCB 3 phs, 150A, FUJI
  • 4 bh Magnetic Contactor, 150A, FUJI
  • 1 bh Thermal Over load,
  • 2 bh Time Delay Relay
  • 1 bh MCB 1 phs, 6A
  • 2 bh relay, LY-2, OMRON.
  • 1 bh CT 150/5A, GEA.
  • 1 bh Ampere meter, 0 – 150A, GEA.
  • 1 bh Hour Meter
  • 1 bh Push button On (hijau)
  • 1 bh Push button Off (merah)
  • 1 bh Pilot lamp On signal (hijau)
  • 1 bh pilot lamp Trip signal (kuning)
  • 1 lot cable power NYAF 1c x 35 sqmm.
  • 1 lot accessories include terminal, cable wiring, skun, bolt & nut dll.

Gambar Kerja

Autotrafo Starter Power Diagram

Gambar 2. Power Diagram Auto Trafo Starter

wiring auto trafo

Gambar 3. Wiring Diagram Auto Trafo Starter

Prinsip Kerja

Line On

Start Pertama :

MC 1 – On

MC 2 – On

Selang waktu 10 detik MC 2 – Off

MC 1 – On

MC 3 – On

Langkah kedua :

Selang waktu 10 detik

MC 1 – Off

MC 2 – Off

MC 3 – Off

Langkah ketiga : MC 4 – On

 

Panel Auto Trafo

Gambar 4. Panel Auto Trafo.

Kesimpulan

  1. Auto Trafo Starter biasanya digunakan untuk starting motor dengan daya 30kW atau lebih
  2. Selain Auto Trafo, starter motor untuk daya besar juga bisa menggunakan system soft starter.
  3. Auto trafo mempunyai keunggulan kemudahan perawatan, kehandalan dan ketahanan system jika dibanding dengan soft starter.